11 Fakta Unik Seputar Proklamasi 17 Agustus 1945

Sunday, August 21st, 2016 - Info Menarik
11 Fakta Unik Seputar Proklamasi 17 Agustus 1945

pangearunbiru.blogspot.com

HUT kemerdekaan RI yang diperingati tiap tanggal, 17 Agustus. Atau yang umum disebut sebagai Agustusan, rupanya menyimpan catatan unik yang jarang diketahui Orang. Peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang saat ini diperingati dengan gegap gempita, serta identik dengan beberapa perlombaan, dari lomba ;  Panjat Pinang, tarik tambang, balap karung, lomba makan kerupuk,  dan lomba – lomba ceria lainnya,  bahkan tak jarang Nanggap orkes dangdut, atau kesenian rakyat,  ternyata apabila  kita tarik benang kebelakang ke tahun 1945, akan terasa sangat kontras.

Saat itu kondisi Negara Indonesia masih berupa bayi merah, dan belum memiliki sarana dan prasarana seperti layaknya sebuah Negara. Namun Tokoh – tokoh kemerdekaan saat itu, memiliki semangat dan kecerdasan Politik yang patut diacungi jempol. Mereka adalah Para Founding Father yang berjasa besar dalam mengantarkan Indonesia menjadi Negara seperti saat ini, yaitu NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang berdasarkan Pancasila, dan UUD 45, dengan menjunjung tinggi azaz demokrasi, dan gotong – royong diatas landasan Musyawarah, dan Mufakat.

Saat – saat menjelang Proklamasi, dan saat – saat setelahnya, adalah saat – saat yang paling bersejarah bagi Bangsa ini. Bagaimana persiapannya, jalannya acara, dan apasaja yang terjadi saat itu tentu menarik untuk diceritakan kembali, terutama bagi Generasi muda, supaya lebih memahami perjalanan sejarah Bangsanya.

Yang perlu diingat, ternyata untuk mencapai kemerdekaan itu butuh kerja keras, dan kerja cerdas, sehingga Orang – orang yang terlibat didalamnya pun adalah Orang – orang Pilihan terbaik Bangsanya. Disana ada ; Bung Karno, dan Bung Hatta sebagai tokoh sentral, juga tokoh – tokoh lainnya, dengan segenap Putra – Putri Bangsa yang tak kalah hebat. Dan inilah beberapa hal unik, dan menarik seputar Proklamasi yang terjadi kala itu , Cekidot ;

  1. Soekarno Sakit Malaria. 2 jam sebelum pembacaan Teks Proklamasi pada 17 agustus 1945 pkl 08.00 (pagi), rupanya Bung Karno masih terbaring dikamarnya di Jl. Pegangsaan timur, 56 Cikini – Jakarta, akibat terserang gejala penyakit Malaria tertiana. Badannya meriang, dan sangat panas, serta wajahnya nampak kuyu, juga kelelahan, akibat semalaman ia harus begadang bersama Rekan – rekan Seperjuangan, guna menyusun konsep naskah Proklamasi di rumah Laksamana Maeda (Perwira AL Jepang). Saat itu kamis – malam jumat, dan dalam suasana pertengahan bulan Romadhon.

“Pating Greges” (Jw. Badan rasa remuk. Red), demikian keluhnya kepada dr. Soeharto dokter kesayangannya. Setelah dibangunkan dari tidurnya, pada  esok harinya. Sejurus kemudian darahnya diisi dengan cairan chinineurethan intramusculair dan menenggak pil Brom chinine (Pil Kina). Setelah itu Beliau tidur lagi. Pukul 09.00, beliau segera bangun dari peraduan, mengenakan Jazz setelan putih – putih seperti yang tergambar di foto. Lalu bergegas menemui sejawatnya, Bung Hatta.

Jumat pk. 10.00 (siang) dalam suasana bulan puasa, Bung Karno membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan, didampingi Mohammad Hatta (Bung Hatta) ,

isi proklmasi

viashare.blogspot.com

‘’Kami Bangsa Indonesia, dengan ini kami menjatakan kemerdekaannja.

Hal – hal jang mengenai pemindahan kekoesaan, dan lain – lain

diselenggarakan dengan tjara seksama, dan dalam tempo jang sesingkat – singkatnja.

Djakarta, 17 Agoestoes, tahoen 05.

Atas Nama Bangsa Indonesia.

(Soekarno – Hatta)”.

 

Dan sebagai penutup Bung Karno membuka orasi singkat, “Demikianlah Saudara – saudara sekalian kita telah merdeka”. Ujar Bung Karno dihadapan Para Pahlawan Bangsa yang hadir pada apel saat itu. Setelah itu Sang Saka Merah – Putih dikibarkan dengan diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ciptaan WR. Soepratman, seperti saat ini.

Usai pelaksanaan upacara yang singkat yang  ala – kadarnya itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya, masih demam. Namun pilar  berdirinya sebuah Negara, telah Ia pancangkan.

Advertisement
  1. Tanpa Pancaragam. Upacara Proklamasi Kemerdekaan berlangsung sangat sederhana. tanpa Protocol (MC), tanpa iringan music, tanpa konduktor, tanpa pancaragam (aneka – macam). Tiang Bendera dari batang Bambu kasar, serta di tancapkan beberapa saat ketika apel akan di mulai. Bahkan katanya, katrol untuk mengerek Bendera dibuat dari cawan bekas sahur Bung Hatta.
  1. Kain Bendera dari sprei, dan kain Penjual soto. Sang Saka Merah – Putih adalah bendera Pusaka RI yang hingga kini masih disertakan dalam setiap upacara Peringatan HUTRI oleh Kepala Negara di Istana Negara Jakarta, namun Karena alasan sudah tua dan rapuh sehingga tidak dikibarkan, dan duplikatnya saja yang dikibarkan. Konon asal muasalnya, kain merahnya itu dari kain Penjual soto, dan kain putihnya dari kain sprei tempat tidur. Lalu dijahit oleh Ibu Fatmawati (Istri Bung Karno) menggunakan tangan, maka jadilah Bendera Pusaka I RI.
  1. Naskah asli Proklamasi dibuang ke tong sampah. Naskah asli Proklamasi RI yang ditulis tangan oleh Bung Karno, dan didikte oleh Bung Hatta, setelah diketik dan disalin oleh Sayuti Melik, ternyata tidak dijadikan arsip  Negara saat itu, tetapi draft tulisan tangan itu langsung dibuang ke tong  sampah dirumah Laksamana Maeda, 17 agustus 1945 dini hari. Beruntung Seorang Wartawan BM. Diah,  kala itu memungut draft naskah tsb dengan segera, lalu dibawa dan disimpan dengan baik. Pada 29 Mei 1992 Diah menyerahkan arsip tsb kepada Presiden Suharto, setelah disimpan selama 46 tahun, 9 bulan, 19 hari.
  1. Mic pinjaman. Micropon yang digunakan saat itu, dan dapat kita lihat gambarnya ketika bung Karno membacakan Teks Proklamasi, ternyata adalah Mic rakitan yang dipinjamkan oleh seseorang.
  1. Klise Film / Negatif photo dikubur di sebuah pohon. Detik – detik Pembacaan Naskah Proklamasi oleh Bung Karno berhasil diabadikan dengan baik oleh fotgrafer Frans Mendoer. Photo hitam putih itu dapat kita saksikan sampai detik ini berkat muslihat Frans Mendur. Saat Tentara Jepang ingin merampas klise itu dari tangannya, ia berbohong dengan mengatakan, bahwa klise itu telah ia serahkan kepada Barisan Pelopor (Barisan Perjuangan). Dan ia tidak menyimpannya lagi. Mendengar jawaban itu Tentara Jepang naik pitam. Padahal sebenarnya klise itu ia kubur dibawah pohon dihalaman Kantor Harian Asia Raja (baca, Harian Asia Raya). Setelah Tentara Jepang pergi, Frans segera mengambil klise tsb dan di afdruk, lalu di publish, sehingga dapat dilihat oleh mata Dunia hingga saat ini. Kebohongan yang menyelamatkan, hehe..
  1. Bukan Suara real time. Suara rekaman Bung Karno yang sering diputar ulang oleh Media setiap moment 17 an, adalah suara asli Bung Karno, namun bukan saat real time ketika 17 agustus 45, tetapi rekaman suara Beliau setelah menjabat sebagai Presiden Pertama RI. Dan konon rekaman itu direkam di studio RRI.
  1. Diangkat menjadi judul Film oleh Hollywood. Judul Pidato Bung Karno pada, 17 Agustus 1965, “Tahun Vivere Pericoloso” (Tahun yang penuh bahaya), telah diangkat menjadi Judul sebuah film berbahasa Inggris oleh Hollywood, yakni : “ The Year of Living Dangerously”. Setting Film itu di Indonesia,  menceritakan tentang pengalaman Seorang Wartawan Australia yang ditugaskan di Indonesia tahun 1960 -an. Menjelang Peristiwa kelam G30 S/PKI tahun 1965. Pada tahun 1984, film yang dibintangi oleh Mel Gibson meraih  Piala Oscar untuk kategori film asing.
  1. Pulau Kalimantan menjadi 3 Negara. Menurut konsep Proklamasi 17 agustus 1945, Pulau Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Tetapi kemudian seiring dengan berjalannya waktu, Pulau Kalimantan justru menjadi 3 Negara. Indonesia (4 wilayah Provinsi ; KalBar, Kalsel, Kalteng, dan Kaltim), Malaysia (Sabah dan Serawak), dan Brunei Darussalam.
  1. Akbar Tanjung Menteri Pertama Indonesia asli. Setelah merdeka selama 43 tahun Negara Indonesia baru memiliki Seorang ‘’Putra Asli Indonesia”. Ini adalah fakta, tetapi agak seperti lelucon. Mengapa ? sebab beliau lahir setelah terbentuknya Indonesia. Yakni pada, 30 Agustus 1945 di Sibolga – Sumut. Sedangkan Menteri – menteri yang lain, yang lebih senior lahir sebelum 17 Agustus 1945 (Indonesia belum terbentuk). Itu sama halnya Menteri – menteri yang senior dulunya adalah Warga Negara Hindia Belanda, dan Pendudukan Jepang, ketika Jepang berkuasa.
  1. Siasat Bung Hatta. Masa sebelum revolusi demi Proklamasi, Bung Karno memerintahkan sebuah misi rahasia kepada Bung Hatta, untuk meminta bantuan senjata kepada Perdana Menteri India Jawa Harlal Nehru. Bung Hatta memakai nama “Abdulloh”, seorang co-pilot di Id pastportnya. Lalu ia melawat dipiloti oleh Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi Menteri Kabinet  Morarji Desai.

Rupanya Bung hatta adalah sahabat lama Nehru sejak 1920 an. Sebagai  Seorang Sahabat karib, Hatta diperlakukan dengan sangat hormat oleh Nehru, lalu diajak bertemu Mahatma Gandhi (Tokoh Kemerdekaan India). Gandhi telah mendengar sepak terjang Mohammad hatta sebagai Pejuang sejati. Dan Beliau tidak menyangka bahwa sosok dihadapannya adalah Moh. Hatta. Setelah Nehru mengabarkan bahwa “Abdulloh” adalah Moh. Hatta, ia marah sekali karena tidak diberitahu yang sebenarnya.

Wallohu a’lam bis showab, untuk semua kisah diatas. Tapi yang pasti…..

Sekarang kita telah Merdeka karena jasa dan Pengorbanan Mereka. Para Pahlawan telah memberikan buat Bangsanya apa yang terbaik yang mereka miliki ;  jiwa – raga, pikiran, dan harta demi tercapainya Kemerdekaan serta kedaulatan, guna menjadi Bangsa yang bermartabat. Yakni, Bangsa yang mampu berdiri diatas kaki sendiri. Bukan Bangsa boneka yang slenge-an dan dagelan pastinya.

Untuk itu, semangat 45 patut kita tiru dan kita lestarikan ya Guys….. yakni,  semangat memberi, bukan semangat mengambil. Apa yang telah kita berikan buat Bangsa, bukan apa yang dapat kita ambil dari Bangsa.

Advertisement
11 Fakta Unik Seputar Proklamasi 17 Agustus 1945 | porosbumi | 4.5