Fiqh I’tikaf

Sunday, July 3rd, 2016 - Islami
Fiqh I'tikaf

www.happyislam.com

I’tikaf menurut bahasa adalah berdiam diri dan menetap dalam sesuatu. Sedangkan menurut istilah ada berbeda pendapat. Ulama pengikut mazhab Hanafi mengatkan , itikaf adalah ; berdiam diri di Masjid yang biasa dipakai untuk sholat berjamaah . menurut Ulama Mazhab Syafii, itikaf adalah ; Berdiam diri di Masjid dengan melaksanakan amaalan-amalan tertentu dengan niat karena Allah.

I’tikaf hukum asalnya sunah (kecuali jika I’tikaf sebab nadzar maka hukumnya wajib), dan boleh dilaksanakan diluar Bulan Romadhon, tetapi di Bulan Romadhon sangat dianjurkan hal ini karena adanya contoh dari Nabi saw, bahwa Nabi pada 10 hari terakhir Bulan Romadhon  selalu ber itikaf dengan menjauhi Istri-istrinya, sampai Beliau wafat.

Firman Allah ;

وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر ثم أتموا الصيام إلى الليل ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد تلك حدود الله فلا تقربوها كذلك يبين الله آياته للناس لعلهم يتقون

…….dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber i`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS. Albaqoroh 187).

Hadits riwayat Asisyah Ra ; ‘’Bahwa Nabi saw melakukan itikaf pada 10 hari terakhir bulan Romadhon, (Beliau melakukannya) sejak datang di Madinah, hingga Beliau wafat, kemudian Istri-istri Beliau melakukan itikaf setelah Beliau wafat ’’. (HR. Muslim).

Syarat Sah I’tikaf :

Islam, Niat (Menyengaja dalam hati bukan lafaz / ucapan), Baligh (laki-laki / Perempuan), Berdiam diri di dalam Masjid, baik masjid Jami maupun Surau, serta meninggalkan segala perkara yang membatalkan itikaf.

Orang yang beritikaf tidak harus yang berpuasa, maksudnya diluar Bulan Romadhon juga boleh beritikaf, atau bagi mereka yang sedang uzur syar’I disaat bulan Romadhon juga boleh beritikaf seperti orang tua yang sudah tua renta, Musyafir. Singkatnya mereka  yang sedang tidak puasa karena alasan yang dibenarkan oleh syar’I boleh ikut itikaf dan sah.

Adapun tempat pelaksanaan Itikaf seperti yang dijelaskan dalam Surah Albaqoroh 187 adalah wajib di dalam Masjid. Dikalangan Ulama ada beberapa pendapat perihal di dalam Masjid. Apakah di Masjid Jami (Masjid yang dapat digunakan sholat Jumat) atau lainnya. Sebagian berpendapat, Masjid yang digunakan itikaf adalah yang memiliki Imam dan Muazdin, baik yang untuk sholat 5 waktu maupun tidak seperti yang dipegang oleh Ulama Pengikut Mazhab Hanafie.

Sedangkan Ulama Pengikut Mazhab Hambali berpendapat, Masjid yang digunakan adalah yang biasa digunakan untuk sholat berjamaah. Jadi kesimpulannya, tempat utama untuk itikaf adalah Masjid Jami, namun tidak mengapa untuk Masjid biasa (Non Jami seperti Surau / Langgar).

Advertisement

Durasi I’tikaf

Dikalangan para Ulama berbeda pendapat tentang lamanya itikaf, apakah lamanya selama 24 jam, atau boleh hanya beberapa saat. Ulama Pengikut Mazhab Hanafi berpendapat ; Itikaf boleh dilaksanakan dalam waktu yang sebentar, namun tidak disebutkan batasan lamanya.

Ulama Pengikut Mazhab Maliki berpendapat ; Itikaf dilaksanakan dalam waktu paling kurang 1 malam 1 hari.

Pendapat Jumhur (Mayoritas) Ulama minimal waktu itikaf adalah lahzhoh, yaitu sekurang-kurangnya berdiam di Masjid beberapa saat (Abu Hanifah, As Syafi’i, dan Ahmad). An Nawawi berkata, waktu minimal itikaf sebagaimana dipilih oleh  Jumhur Ulama cukup di syaratkan dengan hanya bediam sesaat di Masjid, baik dalam waktu yang lama maupun sebentar (Al Majmu  6: 489). Hal ini karena tidak adanya dalil baik Quran atau Hadits yang mensyaratkan batas waktunya.

Kecuali sebab Nadzar (Janji) maka harus ditunaikan sesuai qaul, misal seseorang bernazar akan itikaf selama 3 hari 3 malam, maka ia wajib beritikaf selama 3 hari 3 malam. Seperti yang pernah diucapkan oleh Umar bin Khothob Ra, Umar berkata kepada Rosululloh saw ; ‘’Aku dahulu pernah bernazar  pada masa jahiliyah untuk ber itikaf selama 1 malam di Masjidil Harom’’. Maka Nabi saw bersabda ; ‘’Tunaikanlah nadzarmu’’. (HR. Bukhori-Muslim). Dalil ini hanya berlaku untuk itikaf Nadzar, namun bukan itikaf sunah.

Jika seseorang duduk beberapa saat untuk menunggu shalat  atau mendengarkan  khutbah atau selain itu  tidaklah disebut i ‘tikaf, haruslah ada syarat  berdiam lebih dari itu  sehingga terbedakanlah  antara ibadah dan  kebiasaan (adat).  Demikian disebutkan dalam Al Majmu   Syarh Al Muhadzdzab 6: 513.

Sehingga  jika ada yang bertanya, bolehkah ber I’tikaf di akhir-akhir Romadhon hanya pada malam hari saja karena pagi harinya  kerja?

Jawabannya, boleh !. Karena syarat I’tikaf hanya berdiam walau sekejap, terserah di malam atau di siang hari. Misalnya  sehabis shalat tarawih, seseorang berniat diam di masjid dengan niatan i ‘tikaf dan kembali pulang kerumah ketika waktu makan sahur, maka itu dibolehkan.

Dengan mencermati pendapat diatas dapat disimpulkan, itikaf dapat dilaksanakan boleh hanya 1, 2, 3 jam saja, boleh juga selama 24 jam. Tetapi jika ingin mencontoh Sunah Rosululloh yaitu dengan beritikaf selama 10 hari, terutama di 10 hari terakhir Romadhon sambil berburu Lailatul qodar.

Beberapa Hal Yang Harus Di Perhatikan Bagi Mutakif, Al :

Para Ulama sepakat bahwa Mutakif (Pelaku Itikaf) harus tetap didalam Masjid, tidak boleh keluar dari dalam Masjid. Namun demikian diperbolehkan keluar dengan syarat sbb :

Ada alasan syar’I seperti ; melaksanakan Sholat Jumat, berwudhu, karena hajat thobi’iyah (Tabiat Manusia) baik yang bersifat naluri atau bukan, seperti ; buang hajat, mandi baik mandi junub atau mandi biasa, mencuci baju, berobat, belanja kebutuhan hidup dsb. Atau kondisi darurat semisal bangunan Masjid runtuh atau karena bencana alam seperti banjir, gempa dll.

Amalan – Amalan Selama I’tikaf

Bagi Mutakif boleh menambah pahala dengan mengerjakan amalan atau ibadah seperti ; Sholat sunah rowatib, Qiyamul lail, Tadarus Quran, menghafal ayat, mengkaji Kitab, berdzikir dan berdoa, atau apa saja yang bernilai ibadah seperti melantunkan azdan dan iqomat ketika sudah waktunya.¨

Advertisement
Fiqh I’tikaf | porosbumi | 4.5