Fiqh Zakat, Tuntunan Dalam Menunaikan Zakat Lengkap

Tuesday, July 26th, 2016 - Islami

Fiqh Zakat

Puji syukur kehadhirat Allah swt zat yang maha pemurah dan maha kaya dari segala apapun. Sholawat dan salam atas Baginda Rosululloh khotamul Anbiya wal Mursalien.uji syukur kehadhirat Allah swt zat yang maha pemurah dan maha kaya dari segala apapun.

Ayat-Ayat Tentang Zakat

‘’Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka, dan bagi mereka pahala yang banyak’’.(QS. Al Hadid-18)

‘’Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati’’.(QS. Albaqoroh-277).

‘’Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)’’. (QS. Al Maidah-55).

‘’Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil (pengurus) zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’’. (QS. At-Taubah-60).

Mukadimah

Dengan berharap ridho Allah, serta dengan memohon inayahNya. Kami dengan segala kerendahan hati akan mencoba membahas perihal zakat yang merupakan salah satu pilar dari tegak nya dienul Islam, yakni zakat. Zakat adalah salah satu sarana pendistribusian harta kepada sesama, agar tidak terjadi gap yang dalam antara kaya dan miskin. Sudah menjadi sunatulloh bahwa, dalam kehidupan dunia ada golongan yang diberi kekayaan berlimpah, sementara yang lain hidup serba ngepas bahkan kekurangan. Maka Islam datang memberi pengajaran yang sangat bijak dengan  ajaran syariatnya berupa zakat, infaq, dan shodaqoh untuk menjadi solusi jitu mengatasi ketimpangan social.

Bagaimana mungkin akan ada ukhuwah dan persatuan jika gap sikaya dan simiskin begitu menganga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara? Maka zakat adalah menjadi jembatan untuk melintasi gap tsb, sehingga terciptanya ukhuwah Islamiyah dan persatuan menjadi nyata, tak hanya ada dalam tataran teori dan mimbar-mimbar semata, namun benar – benar hadir dalam kehidupan nyata dan menjadi perekat serta titian.

Pada masa Nabi Saw zakat benar-benar efektif menciptakan tatanan masyarakat Madani yang sempurna, hal itu karena Nabi saw tak semata pemimpin Agama, tetapi Beliau juga merupakan Kepala Pemerintahan yang sangat tegas dalam hal pengelolaan zakat. Dengan kata lain Negara hadir mengentaskan kemiskinan warganya melalui zakat yang dikelola secara professional.

Zakat adalah kekuatan dan tali perekat antara sikaya dan simiskin, sehingga tidak terjadi kecemburuan social yang dapat memicu terjadinya huru-hara masal disuatu Negeri. Kita sudah kenyang menyaksikan bagaimana ketimpangan social dan kecemburuan ekonomi mengakibatkan kerusuhan dan pembantaian kejam. Perut yang lapar dan rengekan anak kecil dapat membuat orang tua gelap mata, sementara orang disampingnya berpesta dengan makanan lezat, hidup mewah dan menyombongkan diri. Apabila situasi ini berlangsung terus-menerus maka cepat atau lambat akan memprovokasi terjadinya chaos, dan ini bukan isapan jempol. Dimanapun termasuk di Negeri ini peristiwa mengerikan akibat kecemburuan social menyulut kerusuhan masal yang disertai pembantaian. Tentu Islam tidak menginginkan tatanan social yang timpang seperti itu. Maka adanya zakat,  yang kaya wajib mengeluarkan shodaqoh guna membantu saudaranya yang sedang susah. Teori sederhananya zakat adalah, Golongan Kaya (aghniya) wajib mengentaskan golongan Miskin. Bukan sebaliknya Golongan yang kaya memangsa Golongan yang Miskin.

 Karena menurut teori Islam bahwa didalam harta sikaya itu terdapat haq bagi faqir – miskin dan yatim piatu yang wajib didermakan. Firman Allah ;

‘’Ambillah zakat dari sebagian harta mereka (Orang kaya), dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah-103).

Pada ayat diatas disebutkan dengan kata ‘’Ambilah !!!’’ yang menunjukan arti perintah memungut (dengan kekuatan) dari harta para orang kaya untuk sedekah membersihkan hartanya. Dimasa Nabi saw dan juga para Sahabat, golongan yang menolak membayar zakat bahkan diperangi secara militer, sampai mereka bertobat. Tetapi ancaman Allah di akhirat kelak jauh lebih mengerikan bagi orang kaya yang kikir dan tidak mau mendermakan hartanya, sebagaimana yang tertuang dalam Surah At-Taubah-35 ;

‘’Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (QS.At-Taubah – 35).

Pengertian Zakat Yang Lazim

PENGERTIAN ZAKAT YANG LAZIM

Dalam Quran ada – kalanya perintah zakat disebut dengan kata shodaqoh asal kata dari ‘’shodiq’’ yang artinya ‘’benar’’, adakalanya juga disebut dengan kata ‘’infaq’’ yang maknanya sama dengan kata ‘’nafkah’’. Atau sebaliknya untuk menyebut ‘’shodaqoh / sedekah’’ dengan kata ‘’zakat’’ yang maknanya dapat diartikan ‘’membersihkan’’. Dan kata-kata ; zakat, infak, dan shodaqoh telah diserap menjadi bahasa kita sehingga kita semua telah mafhum dan akrab dengan kata-kata tsb. Namun secara khusus yang sering kita fahami oleh khalayak, zakat identik dengan zakat fitrah dan zakat mal (bersifat wajib). Infak sering kali berkaitan dengan sumbangan semisal untuk pembangunan Masjid, Madrasah, atau Panti asuhan (bersifat keikhlasan), sementara shodaqoh biasanya bersifat derma atau bantuan seikhlasnya untuk fakir-miskin dan yatim.

Zakat Dalam Ilmu Fiqih

Zakat menurut bahasa artinya Tumbuh / berkembang. Sedangkan menurut istilah syariat adalah : kewajiban pada harta tertentu, untuk diberikan kepada kelompok tertentu (lihat QS.At Taubah- 60), dan dalam waktu yang tertentu pula. Menunaikan zakat termasuk rukun Islam yang ke-3. Dalam Islam zakat terbagi menjadi 2 yaitu zakat fitrah dan zakat maal (harta).

Zakat fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang dibayarkan sebagai pembersih jiwa / diri. Syarat wajib untuk membayar zakat fitrah adalah:

  1. Non Islam maka tidak sah menurut Islam. Untuk non Muslim ada ketentuan tersendiri yang disebut Jizyah (Pajak)
  1. Merdeka (bukan budak atau bukan dalam tanggungan orang lain). Seperti anak-anak yang masih dalam tanggungan kedua orang tuanya, maka orang tuannya yang berhaq membayarkan zakat fitrah anak-anaknya. Atau sebaliknya jika Orang tua kita sudah jompo, maka anak-anaknya wajib membayarkan atas mereka zakat.
  1. Mampu membayarnya. Untuk fakir-miskin, dan ghorim (orang yang punya tanggungan berat hutang) tidak wajib membayarnya, justru mereka menerima bagian zakat itu.

Dibayarkan menggunakan bahan pangan masing-masing negeri sebanyak 2.5 kg / jiwa, termasuk bayi yang baru lahir dibulan Romadhon, jika Bayi lahir pada 1 syawal maka tidak wajib atas orang tuannya membayar zakat fitrah untuk tahun itu. Waktu pembayarannya yaitu sejak masuk 1 Romadhon sampai menjelang shubuh akhir Romadhon. Karena malam sebelum 1 syawal semua zakat yang terkumpul sebaiknya sudah harus sampai di tangan yang berhaq, sehingga fakir-miskin dapat bergembira di Hari Raya.

Zakat Maal (harta)

Adalah zakat yang dibayarkan atas kepemilikan harta guna mensucikan hartanya sebagaimana berita dalam surah At-Taubah ayat 103. Dan termasuk kedalam perkara zakat Maal adalah zakat Profesi (zakat profesi dapat dihitung dengan di qiyaskan kepada nishob hasil bumi. Jika hasil bumi dibayar tiap  kali panen, maka zakat profesi tiap kali menerima gaji / honor).

Syarat Sah Untuk Menunaikan Zakat Maal Adalah Sebagai Berikut ;

  1. Bagi non Muslim tidak sah. Untuk non Muslim ada ketentuan tersendiri yang disebut Jizyah (Pajak). Jika oleh Negara diberlakukan Syariat Islam.
  1. Hamba sahaya tidak wajib atasnya membayar zakat Maal.
  1. Sudah sampai Nishobnya (takaran minimal sesuai dengan jenis hartanya)
  1. Berakal maupun gila ( karena zakat maal wajib pada hartanya bukan pada kondisi orangnya.)
  1. Kepemilikian stabil dan mapan dalam setahun atau tiap panen untuk pertanian / peternakan.
  1. Tidak berkaitan dengan harta orang lain (hutang, titipan, agunan, kongsi/saham, dsj).
  1. berlalu 1 tahun (haul). Berdasarkan Hadits dari Aisyah Ra, Rosululloh saw bersabda ; ‘’Tidak ada zakat bagi harta, hingga berlalu 1 tahun’’. (HR. Ibnu Majjah dan At-Turmudzi). Kecuali pada hasil pertanian / peternakan maka boleh tiap kali panen.

Harta – Harta Yang Wajib Dizakati, Al ;

  1. Emas, perak, dan yang diserupakan dengan emas seperti uang, kartu debet, deposit di Bank, bitcoin, dll. Untuk simpanan atau deposit di Bank maka dihitung nila aslinya saja dengan tidak mengikut sertakan bunganya. Karena bunga Bank termasuk haram, sehingga tidak boleh untuk zakat.
  2. Semua barang Perniagaan.
  3. Hewan ternak ; sapi, kerbau, unta, kambing, peternakan unggas dll.
  4. Hasil Pertanian. Yaitu semua hasil bumi yang dapat ditimbang atau ditakar seperti padi, gandum dll.

Nishob masing-masing harta;

  1. Emas, Perak, Uang dsj. Wajib zakat pada emas apabila telah mencapai 20 dinar atau lebih. Maka zakatnya 2.5 % .

Dijelaskan dalam Hadits ; ‘’ Apabila engkau memiliki 20 dinar (koin emas / emas) dan sudah mencapai 1 tahun, maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah ½ dinar (2.5 %). (HR. Ahmad, Abu Daud. Dan Al Baihaqi). Dinar jika ditimbang dengan ukuran Mitsqol adalah, 1 mitsqol = 4.25 g. Jadi 20 x 4.25 g = 85 g. inilah nishob emas.

Advertisement

Jika berupa uang rupiah maka, 85 g emas x (harga emas terkini). Contoh ; jika harga emas saat ini adalah Rp.100.000/g, maka 85 x 100.000 = Rp.8.500.000. berarti zakatnya 8.500.000 x 2.5 % = Rp.212.500.

itu artinya jika anda mempunyai simpanan uang sebanyak Rp.8.500.000 dan uang itu sudah lebih dari setahun disimpan, maka sudah wajib dibayarkan zakat sebesar Rp. 212.500.

Uang kartal (kertas) seperti Riyal dan Dolar dihukumi sama dengan kepemilikan emas dan perak. Ditaksir dengan harga dasarnya, Jika telah sampai Nishob dan Haulnya, maka wajib dizakati 2.5 %. Contoh : bila minimal nishob emas 85 g, dan harga 1 g emas = 40 Riyal maka 85 x 40 = 340 Riyal. Maka inilah Nishobnya. Dan zakat yang mesti dibayar 340 x 2.5 % = 8.5 riyal. Demikian pula untuk mata uang Dolar dan mata uang asing lainnya.

Rumus praktis kadar zakat uang yaitu dengan harta dibagi 40, maka hasilnya 2.5 %. Contoh apabila si fulan mempunyai 50.000 Riyal, maka 80.000 / 40 = 2000 Riyal maka nilai itu adalah 2.5 % yang harus dibayarkan.

Bila uang telah terkumpul pada seseorang mencapai  nishobnya dan telah dimiliki selama 1 tahun (haul), maka wajib atasnya zakat. Baik uang itu disiapkan untuk Nafkah, nikah, membeli tanah atau untuk membayar hutang, dll.

Dan juga sabdanya tentang Dirham (koin perak / perak) ; ‘’Dan berikanlah zakat perak dari 40 Dirham, dikeluarkan 1 dirham. Tidak ada zakat pada 190 dirham, dan jika telah mencapai 200 dirham, maka dikeluarkanlah 5 dirham. (HR. Ash-Habus Sunan).

Zakat kepemilikan perak bila telah sampai Nishob dengan bilangan 200 dirham atau dengan timbangan 5 awaq. Jika di konversi, 200 dirham itu sama dengan 595 g. maka 2.5 % dari nilanya adalah zakatnya, yaitu 595 g x 2.5 % = 14.875 g perak. Maka inilah zakat perak yang harus dibayar senilai itu.

Tukang (Pengrajin) Emas Dan Perak (Jauhari) Memiliki 3 Keadaan, Yaitu ;

  1. Jika maksud pembuatan barang emas untuk perniagaan, maka ada zakatnya, yaitu zakat perniagaan, dan zakatnya 2.5 %. Karena barang tsb telah menjadi komoditi niaga, maka diukur berdasarkan mata uang masing-masing Negeri, kemudian dibayarkan zakatnya.
  1. Jika emas itu digunakan untuk melapisi barang-barang seperti sendok, bejana, piring, kendi, ornament dll, maka ini adalah haram bagi umat Muhammad. Namun tetap wajib zakat jika sudah mencapai nishob dan haulnya, zakatnya adalah 2.5 %.
  1. Jika maksud emas itu adalah untuk sesuatu yang dapat dipinjamkan, maka zakatnya 2.5 %. Namun disini ada perbedaan pendapat dikalangan Ulama.

Hukum Zakat Perhiasan Emas Dan Perak Yang Dipakai Oleh Kaum Hawa.

Diperbolehkan bagi para Wanita apa yang sudah menjadi kebiasaan mereka memakai perhiasan emas dan perak tanpa ada pemborosan dan berlebihan laksana toko emas berjalan. Maka jika telah sampai Nishob dan Haulnya wajib baginya menunaikan zakat 2.5 %. Kaum Adam yang Muslim dilarang memakai emas dan perak.

Barangsiapa yang tidak tahu hukum, maka wajib baginya menunaikannya kapanpun disaat telah sampai kepadanya pengetahuan. Tahun-tahun yang lalu disaat sebelum datangnya ilmu pengetahuan, maka tidak wajib atasnya untuk dihitung zakat atas hartanya tsb. Karena hukum Syar’I hanya wajib dengan ilmu (ada perbedaan pendapat Ulama). Tetapi bukan berarti lantas anda menutup mata dari belajar ilmu pengetahuan untuk menjadi alasan guna mengelak dari kewajiban zakat. Allah maha tahu apa yang terbersit di hati anda, dan Allah maha kaya dari  apa-apa yang anda miliki.

Emas, Perak, Intan dan batu permata dan sejenisnya bila hanya di pakai maka tidak ada zakatnya. Adapun jika dijadikan barang perniagaan, maka nishob zakatnya ditaksir dengan nilai salah satu Nishob emas atau perak. Syaratnya jika perniagaan tsb sudah sampai Nishob dan Haulnya maka zakatnya 2.5%. Dalam Fiqh, emas dan perak tidak digabungkan untuk menggenapkan Nishob, untuk itu gunakan salah satunya untuk dijadikan parameter barang yang akan dizakati.

Zakat Hewan ternak (An ’am)

Zakat an’am wajib dengan 2 syarat ;

  1. Hewan tsb untuk dikembang biakan dan diternakan, bukan dipakai untuk kerja. Kuda yang dipakai untuk menarik kereta maka tidak dizakati, juga kerbau / sapi yang dipakai buat membajak sawah tidak dizakati.
  1. Hewan tsb dipelihara (dimiliki), bukan hewan liar. Nabi saw menjelaskan ; ‘’Pada unta yang dipelihara, setiap 40 ekor adalah 1 bintu labun (Unta umur 2 tahun). (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasai).

Nishob unta dan zakatnya. Dari 5 – 9 ekor, zakatnya 1 ekor kambing dewasa. Dari 10 – 14 ekor, zakatnya 2 ekor kambing. Dari 15 – 19 unta, zakatnya 3 ekor kambing. Dari 20 – 24, zakatnya 4 ekor kambing. Dari 25 – 35 ekor unta, zakatnya 1 ekor unta bintu makhad (umur 1 tahun). Dari 36 – 45 unta, zakatnya 1 ekor bintu labun. Dari 46 – 60 unta, zakatnya 1 ekor hiqqoh (Unta umur 3 tahun). Dari 61 – 75 unta, zakatnya 1 ekor Jadza’ah (Unta umur 4 tahun). Dari 76 – 90 unta, zakatnya 2 bintu labun. Dari 91 – 120 unta, zakatnya 2 ekor Hiqqoh, jika diatas 120 unta, maka  zakatnya adalah tiap-tiap 40 ekor unta, 1 bintu labun. Pada tiap 50 ekor unta, 1 hiqqoh. Dan pada 150 unta, 3 hiqqoh. Pada 160 unta, 4 bintu labun. Pada 180 unta, 2 hiqqoh dan 2 bintu labun. Dan pada 200 unta, lima bintu labun atau 4 hiqqoh.

Nishob Sapi dan zakatnya. Dari 30 – 39 sapi, zakatnya 1 ekor sapi umur 1 tahun (jantan atau betina). Dari 40 – 59 sapi, zakatnya 1 Mussinah (sapi umur 2 tahun). Dari 60 – 63 sapi, zakatnya 2 ekor sapi umur 1 tahun (tabi / tabiah). Dan pada 40 ekor sapi, maka zakatnya 1 Mussinah. Pada 50 ekor sapi, zakatnya 2 Mussinah. Pada 70 sapi, zakatnya 1 ekor mussinah + 1 ekor tabi. 100 sapi, zakatnya 2 tabi + 1 mussinah. 120 sapi, zakatnya 3 mussinah. Demikian pula untuk kerbau.

Nishob kambing dan zakatnya. Dari 40 – 120 ekor, zakatnya 1 ekor kambing dewasa. Dari 121 – 200, zakatnya 2 kambing. Dari 201 – 399 kambing, zakatnya 3 kambing. Dari 400 – 499 kambing, zakatnya 4 kambing. Begitu seterusnya.

Pembayaran zakat-zakat tadi bisa juga di uangkan sesuai harga masing-masing kategori yang telah ditetapkan oleh Syara diatas.

Zakat barang niaga

Barang niaga adalah komoditas untuk diperjual-belikan demi keuntungan, berupa tanah, hewan, rumah, makanan, minuman, peralatan, perkakas, dsb. Syarat wajib zakat pada harta perniagaan ada 2, sbb ;

  1. Dimiliki dengan kehendak dan pilihannya.
  2. Dimiliki dengan niat untuk berniaga.

Barang perdagangan jika telah sampai Nishob dan Haulnya maka wajib membayar zakat 2.5 %. Adapun mustahiq (yang berhaq zakat) boleh mengukur jumlah harga harta tsb + hasil keuntungan dengan NIshob emas atau perak.

Rumah, tanah, mobil, perkakas, dan peralatan bila diperuntukkan sebagai hunian dan perkakas dipergunakan sehari-hari dan tidak sebagai barang dagangan, maka tidak ada atasnya zakat. Bila digunakan sebagai barang sewa, maka wajib atasnya zakat atas upah sewa terhitung sejak terjadinya akad sewa sampai akhir masa akad. Dengan syarat sampai nishob dan haulnya adalah dengan 2.5% . Bila dipersiapkan sebagai komoditi perdagangan, maka wajib pada harganya bila sudah mencapai Nishob dan Haulnya.

Alat-alat pabrik, alat-alat pertanian yang dipergunakan maka tidak ada zakat, karena alat-alat tsb bukan barang komoditi melainkan alat operasional atau alat kerja.

Zakat hasil bumi

Hasil bumi termasuk ; biji,bijian, buah-buahan, barang tambang (mine), barang terpendam, serta lainnya. Wajib zakat pada semua hasil bumi / biji-bijian yang dapat ditimbang dan ditakar serta dapat disimpan lama, seperti kurma, kismis, anggur, beras, gandum.

Disyaratkan bagi pemilikinya apabila telah sampai nishobnya, yaitu 5 wasaq.

Setiap 1 wasaq = 60 sho. Dan 1 sho = 2.40 kg. jadi Nishob hasil bumi : 60 x 5 = 300 sho.

300 sho x 2.40 kg = 720 kg.  Sho Nabawi setara dengan 4 Mud (gantang / setara dengan cakupan 2 tangan) sedang dan setara dengan 2.40 kg.

Buah – buahan yang telah 1 tahun jika satu jenis, maka digabungkan dalam menyempurnakan Nishob seperti jenis kurma.

Dari Abu Said Al Khudri, Roslulloh bersabda ; ‘’ Tidak ada zakat pada hasil panen yang kurang dari 5 awaq, tidak ada zakat pada hasil panen yang kurang dari 5 dzaud, dan tidak ada zakat pada hasil panen yang kurang dari 5 wasaq’’. (Muttafaqu alaih).

Kadar wajib zakat pada hasil bumi yang di airi tidak dengan biaya, karena hujan, mata air dsj, adalah 10 %. Jika di airi menggunakan biaya seperti menggunakan sumur dan dipompa, maka kadar zakatnya 5 %.

Wajib atasnya zakat biji-bijian dan buah-buahan bila telah tua / masak, dan dipanen. Bila dijual oleh pemiliknya, maka wajib atas dia, bukan pembelinya. Bila buah, dan biji-bijian (kurma dan anggur) itu rusak karena suatu sebab diluar kemampuan pemiliknya, maka gugur atasnya zakat.

Tidak ada zakat untuk sayur-sayuran dan buah-buahan seperti durian, rambutan, jambu, timun dll. Kecuali barang tsb menjadi barang perdagangan, maka zakatnya berdasarkan harga total dan dikeluarkan 2.5 %. Dengan syarat sampai nishob dan haulnya (berlalu 1 tahun).

Golongan Yang Berhaq Menerima Zakat

Ada 8 golongan yang menjadi sasaran zakat yaitu sesuai anjuran dalam Quran surah At-Taubah ayat 60, yakni ; Faqir, miskin, Amil (petugas zakat), ghorim (orang yang berhutang besar), Muallaf (orang yang baru masuk Islam), Riqob (Hamba sahaya), Ibnu sabil (orang dalam bepergian), fisabilillah (orang yang berjuang dijalan Allah, seperti ;  Dai, Ustadz, Guru ngaji, Santri, Murid, Aktivis, dll).¨

Yang benar datang dari Allah, dan yang salah datang dari kekurangan Penulis. Walau dengan daya dan segenap upaya Penulis berusaha seteliti, dan sehati-hati mungkin, namun Tiada gading yang tak retak. Harap maklum jika ada kesalahan, untuk itu saran dan masukkan yang berharga sangat kami harapkan demi kesempurnaan dalam memahami serta menjalankan syariat Islam yang kita Junjung tinggi. Jazakumulloh khoir.

Advertisement
Fiqh Zakat, Tuntunan Dalam Menunaikan Zakat Lengkap | porosbumi | 4.5