Nabi Ibrahim AS Mencari Tuhan

Saturday, May 14th, 2016 - Kisah Teladan

kisah nabi ibrahim mencari tuhan

Nabi Ibrahim as adalah salah satu Rasul agung. Dari silsilah Beliaulah kemudian lahir Para Nabi dan Rasul diantaranya ; Nabi Ishaq As, Ya’qub As dan Ismail As. Dari Ishaq – Ya’qub, lahirlah Bangsa Yahudi. Dan Ismail menjadi Nenek moyang Bangsa Arab, dari sini lahirlah Rasul khatamul Anbiya wal Mursalien : Muhammad saw.

Ibrahim dilahirkan di Irak (Chaldea) dari ayah seorang tukang kayu pembuat patung. Patung-patung itu kemudian dijual kepada masyarakatnya sendiri, lalu disembah. Sesudah ia remaja betapa ia melihat patung-patung yang dibuat oleh ayahnya itu kemudian disembah oleh masyarakat dan betapa pula mereka memberikan rasa hormat dan kudus kepada sekeping kayu yang pernah dikerjakan ayahnya itu. Rasa syak mulai timbul dalam hatinya. Kepada ayahnya ia pernah bertanya, bagaimana hasil kerajinan tangannya itu sampai disembah orang?

“Bila malam sudah gelap, dilihatnya sebuah bintang. Ia berkata: Inilah Tuhanku. Tetapi bilamana bintang itu kemudian terbenam, iapun berkata: ‘Aku tidak menyukai segala yang terbenam.’ Dan setelah dilihatnya bulan terbit, iapun berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi bilamana bulan itu kemudian terbenam, iapun berkata: ‘Kalau Tuhan tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku akan jadi sesat.’ Dan setelah dilihatnya matahari terbit, iapun berkata: ‘Ini Tuhanku. Ini yang lebih besar.’ Tetapi bilamana matahari itu juga kemudian terbenam, iapun berkata: ‘Oh kaumku. Aku lepas tangan terhadap apa yang kamu persekutukan itu. Aku mengarahkan wajahku hanya kepada yang telah menciptakan semesta langit dan bumi ini. Aku tidak termasuk mereka yang mempersekutukan Tuhan.” (Qur’an 6: 76-79).

Ibrahim tidak berhasil mengajak masyarakatnya itu. Malah sebagai balasan ia dicampakkan ke dalam api. Tetapi Tuhan masih menyelamatkannya. Ia lari ke Palestina bersama isterinya Sarah. Dari Palestina mereka meneruskan perjalanan ke Mesir. Pada waktu itu Mesir di bawah kekuasaan raja-raja Amalekit (Hyksos).
Pemuda yg teguh dalam menggenggam prinsip dan keyakinan.
Ibrahim muda adalah seorang yang cerdas lagi bijak. Kecerdasannya melampaui zamannya, juga sangat kritis dan berani ambil resiko apapun demi prinsip dan kebenaran, serta pantang menyerah dalam mencari kebenaran sejati.

Syahdan Ibrahim muda sering mengkritik ayah kandungnya sendiri yang saat itu, Ayahanda Beliau, Azar adalah Master pemahat berhala papan atas di Negri Babel / Babilonia (Iraq). Dengan argument yang mengkilik akal sehat, Bahwa manusia yang sempurna dan berakal sehat , tunduk khidmat menyembah dengan batu yang dipahatnya sendiri, lalu dinobatkan menjadi tuhan.

Tidak hanya sampai disitu dia bahkan bertindak lebih berani lagi, konyol, nekat menurut adat setempat pada masa itu, yaitu dengan menghancurkan semua berhala-berhala dikuil, kecuali berhala yang paling besar, lalu Ibrahim mengalungkan kapaknya dipundak berhala tsb. Praktis hal ini akhirnya memicu kegemparan hebat dimasyarakat.

“Ibrahim telah berani merusak dan menistakan tuhan-tuhan kita” kata mereka.

Dan berita ini sampai kepada Raja Namrudz. Maka dipangillah Ibrahim untuk diadili dan diberi sangsi yang berat. Sang Raja kemudian meng interogasi ;

Raja : “ Wahai pemuda, atas alasan apa engkau berani merusak dan menistakan tuhan-tuhan kami?”

Ibrahim : “Wahai paduka tidaklah hamba yang berbuat demikian, melainkan kepala berhala (sembari menunjuk kearah Berhala yang paling besar), dialah yang berbuat, dan menghancurkan berhala-berhala sesembahan paduka lainnya”. Wahai Paduka tanyakanlah pada mereka kalau memang mereka dapat bicara. (Intisari, Qur’an, 21: 62-63)

Raja : “Mustahil Berhala itu bisa berbuat demikian, mereka hanyalah batu yang dipahat  sesuai dengan apa yang menjadi tradisi dan agama kami. Berdasarkan  kepada warisan leluhur kami, bahwa mereka adalah tuhan’’.

Advertisement

Ibrahim : Jikalau Tuan-tuan sekalian telah mengetahui bahwa mereka adalah benda mati yang tuan-tuan sekalian pahat, serta tak punya daya apapun, mengapalah tuan-tuan yang hidup dan berakal sehat mau berkhidmat menyembah kepada benda mati sebagai tuhan, tidakkah ini irrasional ?.

Sedang Tuhanku adalah Tuhan yang maha esa, maha hidup, yang menghidupkan dan mematikan seluruh mahluk, serta Tuhan yang mengerakan matahari dari ufuk timur-ke ufuk barat. Dialah Alloh swt., Sang Khaliq zat yang menciptakan segala sesuatu baik yang dhahir maupun yang ghaib.

Dari sinilah Nampak betapa logika Ibrahim benar-benar cerdas dan tak terbantahkan. Namun hidayah adalah urusan Allah. Allah memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki dan mengunci mati hati kepada siapa saja yang dikehendaki.
Seperti halnya umat Nabi Ibrahim kala itu, meskipun mereka mengakui kebenaran hujjah Ibrahim, tetapi karena kesombongan, hati mereka menjadi kalis dari kebenaran, seperti air didaun talas. Yang ada hanyalah ego dan fanatic buta akan ajaran nenek moyang mereka, yang mana nenek moyang mereka tidaklah diberi petunjuk oleh Allah swt.

Lalu dengan marah dan tersinggung mereka serentak berteriak ; “Bakar! bakar! bakar! Bakar saja Ibrahim, untuk memberi pelajaran kepada yang lain agar tidak  terulang dimasa mendatang”.

Vonispun jatuh, Ibrahim harus menanggung resiko atas prinsip dan keyakinannya demi kebenaran sejati. Ia tak bergeming sedikitpun walau harus berbeda dari kebanyakan orang, dianggap nyeleneh, dicela, dan puncaknya dia dilemparkan diatas api unggun yang sangat besar dengan dirantai seluruh tubuhnya untuk menghinakan Ibrahim.

Namun Allah yang maha Rahim tidaklah menutup mata atas hambanya yang shalih , Allah swt. Tidak akan membiarkan hambanya yang shalih terhina, apalagi mati konyol. Maka Alloh swt berfirman kepada api “ Wahai api dinginlah! Selamatkan Ibrahim!”.

Maka tatkala api itu padam, setelah berkobar dengan begitu lama dengan panas yang dahsyat didapati Ibrahim tengah menggigil kedingan , sementara rantai yang membelenggu seluruh tubuhnya meleleh tanpa melukai sedikitpun . Itulah kuasa Alloh, ‘’Kun fayakun’’. Hendaknya demikianlah setiap Pemuda Muslim . **

Penasaran, bagaimna Allah menghidupkan dan mematikan

Suatu ketika Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.

Permohonan itu bukan sebagai bentuk keraguan pada Tuhan-Nya, tapi agar ia lebih yakin, mempertebal keimanannya, dan menentramkan hatinya ;

“Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau mengidupkan makhluk- makhluk yang sudah mati.” Allah menjawab seruannya dengan berfirman :

‘’Tidaklah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku ?

Nabi Ibrahim menjawab : “Benar, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya pada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepalaku sendiri, agar aku dapat mendapat ketentraman dan ketenangan dan hatiku dan agar kami menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kekuasaan-Mu’’.

Allah pun mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim as, lalu diperintahkanlah ia untuk menangkap empat ekor burung, lalu memotong tubuh burung itu dalam beberapa bagian. Setelah itu mencampur baurkan kembali tubuh burung yang sudah hancur itu dan diletakkan di atas puncak dari empat bukit yang letakknya berjauhan satu dari yang lain.

Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahkanlah Nabi Ibrahim as memangil burung-burung yang telah terkoyak koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bagian tubuh burung dari bagian yang lain.

Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan empat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sediakala.

Ibrahim as menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, betapa Allah Maha Kuasa dan dapat menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati.

Peristiwa luar biasa itu, membuat Nabi Ibrahim as semakin yakin dan telah menentramkan hatinya, serta menghilangkan segala keraguan.

Begitulah kuasa Allah, jika Dia sudah berkehendak, tidak ada yang dapat menghalanginya. “Kun Fayakun’’, Bila Allah berkata ; ‘’Jadilah !, maka terjadilah’’. (MS)

Advertisement
Nabi Ibrahim AS Mencari Tuhan | porosbumi | 4.5