Romantika Adam dan Hawa

Monday, May 30th, 2016 - Kisah Teladan

Cerdas Cermat 3 Bangsa

Suasana hening menyelimuti Syurga kala itu. Semua Malaikat dan Jin dibuat takjub akan keindahan dan kesempurnaan fisik Adam yang baru saja diciptakan. Alangkah rupawannya paras Adam, lekuk tubuhnya, gerak-geriknya, suaranya, sorot matanya, dan juga kecerdasannya yang melampaui semua Makhluq membuat mereka serentak bergumam dengan berucap ; ‘’Subhanallah, ini sebaik-baik penciptaan’’. Kekaguman para Malaikat dan Jin juga lantaran mereka telah menyaksikan Jasad Adam yang sebelumnya laksana patung terbuat dari tanah kering yang dibakar seperti tembikar, dan kini telah berubah menjadi jasad hidup yang sempurna, setelah Allah swt meniupkan roh padanya. Dan untuk memperkuat bukti keunggulan Ras Manusia sebagai ciptaan yang pamungkas dan paripurna, maka Alloh swt mengadakan contes intelegensi semisal cerdas – cermat, dimana masing-masing peserta harus menyebutkan Nama-nama benda yang ada disekitarnya.

Kontes kala itu hanya dihadiri oleh tiga Makhluk intelektual, karena memang hanya tiga bangsa itulah yang memiliki intelektualitas tinggi, yakni ; Bangsa Malaikat mewakili Bangsa Halus yang tercipta dari cahaya, Bangsa Jin mewakili Bangsa Halus yang tercipta dari Api, dan terakhir Adam mewakili Bangsa kasar Manusia yang tercipta dari dua unsur, yakni ; unsur kasar (jasad)  dari Tanah, dan unsur halus (ruh) dari Cahaya.

Cerdas-cermat  berjalan tidak seimbang, lantaran ketika pertanyaan ditujukan kepada Malaikat, mereka tidak mampu menjawabnya, seraya para Malaikat itu bersujud kepada Allah dengan berkata ; Mahasuci Engkau ya Allah yang maha mengetahui. Begitu juga ketika soal ditanyakan kepada Bangsa Jin merekapun berbuat sama, karena tidak mampu menjawab. Namun lain halnya ketika soal-soal itu datang kepada Adam, dengan serta merta ia mampu menjawabnya dengan benar tanpa sedikitpun kesulitan. Maka sejak itu Allah mengukuhkan Adam sebagai makhluk ciptaanNya yang paling sempurna seperti yang tertulis dalam Quran Surah At-Tien.

Musuh Bebuyutan

Lalu sebagai penghormatan kepada Adam atas prestasinya , Allah swt menitah kepada kedua bangsa yang sebenarnya senior untuk sujud kepada Adam yang yunior dari kronologi penciptaan. Dengan serentak Bangsa Malaikat pun bersujud karena mematuhi perintah Alloh semata. Namun hal yang ironi terjadi pada salah satu Bangsa Jin. Tiba-tiba watak kesombongannya bangkit serta mendominasi jiwanya. Hal ini lantaran tak hanya merasa senior tetapi lebih merasa karena asal-usulnya yang dianggap lebih baik, dengan berkata, ‘’Kami lebih baik dari Adam’’, kami diciptakan dari api, sedang adam diciptakan dari tanah. Bagaimana mungkin kami akan bersujud dengan Adam?

Memang sebelumnya Banul Jan (Moyang Jin) memiliki kemuliaan tertinggi, bahkan diatas Bangsa Malaikat, sehingga merasa superior.

Demikian mereka berargumen yang sebenarnya asal-usul juga semata atas kehendak Allah, sehingga tidak ada alasan apapun untuk membangkang Khaliknya. Namun rasa sombong dan dengki adalah sumber kejahatan yang  membutakan mata hati dari kebenaran haqiqi, serta memalingkan dari kebenaran sejauh-jauhnya. Maka Allahpun murka kepada mereka ; ‘’Ini adalah titahKu, Lantaran kesombonganmu, maka mulai sekarang keluarlah engkau dan keturunanmu dari Syurga ini dengan laknatKu.

Maka sejak itu dengan dendam membara kepada Adam, keluarlah golongan Jin tadi dari Syurga dengan disematkan gelar yang baru yaitu ‘’IBLIS” yang artinya Makhluk yang tergelincir atau terpeleset dari kebenaran. Golongan Jin ada yang beriman kepada Allah swt sebagaimana berita Hadits. Bangsa Jin itu seperti Halnya Manusia, diantara mereka ada yang beragama Islam, Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Sementara golongan Iblis semuanya adalah ingkar kepada Allah dengan melakukan perbuatan Syaithon (setan). Setan adalah nama perbuatan atau ide yang mengandung bibit kekafiran, keburukan, dan kekejian. Jadi setan bukanlah nama Mahluk. Makanya setan bisa berupa Manusia, atau Jin.

Lantaran Adam kami keluar dari syurga dan menjadi Makhluk terkutuk, maka Adam dan keturunanya adalah musuh abadi kami. Dan kami bersumpah dengan segenap daya, siang dan malam akan mengoda Adam dan anak cucunya sampai hari kiamat, agar menjadi teman kami di Neraka sebanyak-banyaknya. Maka anugerahilah kami Ya Allah dengan umur panjang dan tak terlihat oleh mata anak cucu Adam. Inilah beberapa permintaan Iblis kepada Allah swt. Dan permintaan tersebut dikabulkan.

Rupanya iblis secara diam-diam sewaktu masih sama-sama tinggal di Syurga, telah mengamati dan berhasil menemukan sisi kelemahan dari Adam, yaitu terletak pada hawa nafsunya. Tetapi Allah swt menjelaskan bahwa ada satu golongan dari anak keturunan Adam yang akan kebal dari semua bujuk rayu setan, yaitu golongan yang Ikhlas (Bertauhid), sementara lainya rentan bagai anak ayam terhadap elang. Dalam sebuah riwayat, Setan akan mendatangi manusia dari depan, belakang, samping kanan, dan samping kiri, kecuali dari atas. Karena dari atas adalah tali keikhlasan antara Hamba dengan Robbnya, sedangkan lainnya adalah jalan hawa nafsu ;  harta, tahta,  wanita, lengkap beserta pernak-pernik syahwat dunia lainnya.

Kesepian di Syurga.

Nabi Adam As. Akhirnya tinggal disyurga seorang diri. Sementara Para Malaikat berada di Alam Malakut untuk bersujud kepada Allah, atau menunaikan tugas sesuai tugasnya masing-masing. Hidup di syurga tentulah sangat menyenangkan, segalanya serba ada, makanan dan minuman lezat tersedia tanpa batas, tanaman berbuah tak kenal musim juga mudah memetiknya. Mengenakan busana yang sangat indah dan mewah, sutera bersulam benang emas. Adam benar-benar menjadi seorang Raja didalam Istana berdinding pualam, berhampar zamrud hijau, dengan udara semerbak kesturi yang mewangi. Kebun-kebun dari buah-buahan yang ranum dan bunga-bunga yang mekar tanpa layu, dibelah oleh sungai madu dan susu menjadi tempat tamasya yang menyenangkan . Disana binatang-binatang syurga berlarian kesana kemari dengan ceria.

Disyurga tak ada panas terlalu panas, atau dingin yang terlalu dingin. Semua di setel pas buat kenyaman penghuninya, juga tidak perlu bekerja untuk memenuhi kehidupannya, kecuali tinggal petik,  tangkap, dan makan. Disana juga tidak mengenal sakit dan penyakit. Sehat dan bugar selalu dengan hari-hari riang gembira.

Konon, disebuah taman ada sepasang burung yang sedang bercengkerama dengan pasangannya diatas ranting pohon. Secara tak sengaja  Adam yang sedang menikmati keelokan Taman syurga matanya terpaut keatas, melihat dua sejoli  yang sedang memadu kasih. Tiba-tiba terbersit dihatinya rasa iri kepada sepasang burung itu. ‘’Anda saja aku punya seorang sahabat seperti burung itu, tentu kebahagianku akan lebih lengkap disini. Segala kenikmatan di syurga ini beserta keelokannya tentu akan lebih bermakna, jika ada sahabat sebagai tempat berbagi cerita suka’’. Demikian ia bergumam dalam hati.

Andai seluruh kota Jakarta beserta segenap isinya diserahkan kepada anda seorang, pasti anda akan senang bukan main. Tetapi masalahnya hanya ada anda seorang  disana, tanpa ada sesiapapun. Seorang diri tok, buat selamanya ubak-ubek disitu sepuas-puasnya, mau apa saja silahkan karena sudah menjadi hak anda, Cuma anda seorang tok til. Kira-kira giimana ya? Jika saratnya demikian?

Awalnya pasti suka, tetapi lama kelamaan dijamin pasti stress!!!. Apalagi hanya level Jakarta, wong…Adam yang dilevel syurga aja stress…ngiri sama burung…yang punya kawan.

Inilah situasi Psikologi Adam kala itu , naluri sebagai makhluk social tumbuh tak terbendung walau oleh keadaan yang serba ideal. Situasi ini dibaca oleh Allah swt, Zat yang maha mengetahui segala isi hati, termasuk apa yang kala itu terbersit dihati Adam.

Alkisah, Adam merasa lelah dan mengantuk, lalu tertidur pulas dengan bersandar dipohon dimana kedua burung tadi hinggap. Didalam mimpinya ia bertemu dan asyik-masyuk bercengkerama dengan seseorang yang satu species  dengan dirinya, yaitu bangsa Manusia. Padahal dialam nyata, hanya dialah seorang bangsa Manusia. Sejurus kemudian ia terjaga dari tidurnya, dan….betapa ia tertegun seakan-akan tak percaya. (Andai bukan disyurga mungkin Adam jatuh pingsan, untungnya disyurga tidak ada istilah pingsan, jadi tidak pakai acara pingsan-pingsanan). Bahwa disisinya kini telah wujud seseorang yang ia lihat didalam mimpinya. Seperti kata Pujangga, Sesosok yang sangat anggun dan lemah gemulai  dengan suara yang merdu, rona wajahnya yang cantik rupawan bagai bulan purnama sidi, dihiasi dengan senyum  menawan bagai delima merekah, hidung mancung  bagai seludang, rambutnya ikal mayang,  sorot matanya bening bagai  Kristal, kulitnya putih mulus bagai susu.  Pokoknya dimata Adam sosok itu begitu perfek…dan menimbulkan getaran aneh dalam dada….

Wahai Fulan, siapakah engkau gerangan ? demikian Adam bertanya. Lalu dijawab olehnya, hamba adalah Siti Hawa. Seseorang dari jenis engkau yang akan menjadi pendamping hidup engkau. Karena hamba tercipta dari tulang rusuk engkau sewaktu tertidur pulas tadi.

Akibat Pohon Larangan

Nampaknya tak perlu waktu lama, kedua insan berlainan jenis itupun terpanah asmara. Mereka saling terpikat satu sama lain. Adam yang gagah perkasa, dan Hawa yang cantik jelita, sungguh pasangan yang serasi. Mereka berdua akhirnya menikah disyurga, menjadi kekasih halal atas nama Allah. Sesudah itu Allah swt memberi briefing pada keduanya ; ‘’Tinggalah kalian berdua di syurga dengan tenang, makan dan minumlah kalian sepuasnya, nikmati apapun semua yang ada didalamnya,  kecuali pohon ini !!!, ingat !!! JANGAN SEKALI-KALI KALIAN BERDUA MENDEKATI POHON INI, APALAGI SAMPAI MEMAKAN BUAHNYA !!!’’ . warning ini sangat jelas, dan mereka pun faham, sehingga mereka benar-benar menjauhi pohon larangan itu karena patuh pada perintah Allah.

Tetapi rupanya Iblis laknatulloh ini berhasil nguping, atau mencuri dengar akan warning tadi, dan ini merupakan sebuah peluang emas untuk melampiaskan dendam kesumatnya. ‘’Bukan Iblis namanya kalau  gagal’’, demikian kira-kira ucapan hatinya. Iblis memang sudah lama ingin mengusir Adam dari syurga, bahkan sebelum Hawa diciptakan, dan dengan adanya Hawa disisi Adam, maka peluang Iblis untuk menjalankan muslihatnya semakin besar. hal ini karena Iblis tahu, Hawa adalah salah satu titik kelemahan Adam. Lelaki mana sih yang tidak luluh oleh bujuk rayu wanita ?

Dengan segenap daya dan upaya Iblis mencoba masuk kedalam syurga, namun upaya itu selalu membentur dinding. Hal ini karena syurga dijaga dengan sangat ketat. Berbagai macam cara telah dicoba namun selalu gagal dan gagal, sehingga hampir putus asa. Seperti kata pepatah, ‘’BANYAK JALAN MENUJU ROMA’’ demikian pula semangat iblis untuk menerobos penjagaan syurga yang super ketat. Dan celah itu pun akhirnya ditemukan. Konon iblis dapat menerobos masuk kedalam syurga dengan menumpang ular. Hewan ini memang mahir dalam hal menerobos, dan menelusuri celah sempit. Juga sangat gesit, maka atas bantuan hewan ini akhirnya Iblispun sukses menjalankan misi pertamanya, yaitu menerobos masuk kedalam syurga, guna menjalankan misi berikutnya yaitu men-jahanam-kan Adam dan Hawa.

Senjata Ampuh Penakluk Kaum Adam

Tatkala Iblis telah berhasil masuk kedalam syurga, maka ia segera menjalankan muslihatnya dengan menjelma sebagai seorang kakek yang bijak. Dengan wajah pura-pura sedih iblis mendatangi Adam, Wahai Adam sungguh aku sangat mencintai kalian, tetapi dengarlah akan satu hal, jika kalian ingin tetap tinggal di syurga maka makanlah oleh kalian buah khuldi itu (Iblis menyebutnya Khuldi yang artinya kekal). Sebenarnya Allah melarang kalian memakan buah itu, supaya kalian tidak kekal disini. Maka andai kalian berdua mendengar nasihatku pastilah kalian akan kekal disini. Percayalah !!!. Namun Adam memiliki akal yang cerdas dan panjang. Sehingga ia lebih memilih taat kepada perintah Allah dari pada bujukan Kakek asing itu, dengan berkata; Allah telah memerintahkan atas kami menjauhi pohon itu, maka kami tak layak mengingkariNya. Dan akhirnya kakek yang tak lain adalah jelmaan Iblis itu pun pergi dengan galau karena gagal.

Memang salah satu sifat Iblis tak hanya licik dan cerdik juga pantang menyerah. Seperti sumpahnya, mereka akan menggoda Bani Adam siang dan malam, dari depan, belakang, samping kanan, dan samping kiri. Pun tak jauh beda terhadap Adam, walau selalu gagal ketika berhadapan dengan Adam. Tak jemu dan tak bosan selalu saja segala cara dan siasat dilancarkan.

Advertisement

Segala bujuk rayu tak mempan terhadap Adam, maka Iblis beralih siasat dengan memanfaatkan Siti Hawa isterinya. Dengan menunggu saat yang tepat kali ini nampaknya Iblis akan menjalankan muslihat pamungkas. Dan moment itupun tiba. Ketika itu Adam dan Hawa sedang menikmati suasana bahagia, karena benih cintanya bersemi didalam Rahim Siti Hawa. Dan rasa sayang Adam terhadap Hawa semakin besar, begitu juga sebaliknya.

Saat-saat dalam suasana romantic begini membuat siapapun larut dalam perasaan haru dan bahagia. Apatah lagi mereka akan dikaruniai momongan pertama. Dalam suasana seperti ini Seorang suami hampir mustahil menolak keinginan sang istri. Maka peluang ini pun tak lepas dari pantauan Iblis terkutuk. Ia pun segera menjelma kembali sebagai seorang kakek seperti biasanya, tetapi kali ini ia tidak dengan wajah sedih dan murung, tetapi dengan wajah penuh percaya diri, karena kali ini ia akan menggunakan jurus yang berbeda, yaitu bersumpah palsu dengan mencatut nama Allah, dan sasaran kali ini adalah Hawa yang akan diperdaya guna diperalat untuk membujuk Adam.

Maka datanglah Iblis itu kepada Hawa dengan kata-kata yang mantap. ‘’Engkau wahai Hawa, ini adalah nasihat terakhir saya kepada kalian berdua demi menyelamatkan kalian agar tidak terusir dari syurga, SUNGGUH DEMI ALLAH !!!, JIKA KALIAN MEMAKAN BUAH ITU, MAKA KALIAN AKAN KEKAL DISYURGA SELAMA-LAMANYA!!!’’. Demikian sumpah palsu Iblis disertai dengan semangat yang berapi-api. Mendengar kata-kata ‘’Demi Allah’’ disertai dengan kata-kata yang mantap kontan saja Hawa langsung terkesima dan percaya penuh dan lupa jika yang ada dihadapannya adalah Iblis.

Bagaimana mungkin Kakek ini berani bersumpah atas nama Allah zat yang maha tahu, jika tidak mengandung suatu kebenaran. Nampaknya kali ini ia berkata benar, jika tidak…..mmm…kata Siti Hawa dalam hati, seraya mempertimbangkan kata-kata kakek tua bijak tadi. Dan benar saja ia kini telah terjerat oleh tipu daya dengan percaya sepenuhnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Umpan dikail telah dimakan oleh ikan. Tinggal menarik joran hasil ditangan.

Dengan merengek manja dipundak Adam, Hawa memohon satu permintaan kepada Adam. Kakandaku yang tercinta. Entah sampai bila kita dapat ditempat yang indah seperti ini. Sungguh Kakek bijak tadi telah bersumpah atas nama Allah, bahwa jika kita memakan buah itu maka kita akan kekal di syurga buat selamanya. Dinda khawatir perkataan Kakek itu benar, dan dinda takut jika harus keluar dari tempat ini.

Tetapi Ketahuilah wahai dinda, sungguh Allah telah melarang kami   dari melakukan ini. Untuk itu sebaiknya kita menjauhi. Kata  Adam sebagai jawaban atas permintaan Isterinya. Oh kakanda, tolonglah…untuk kali ini saja, bukankah kakanda sayang kepada dinda, maka pandanglah dinda !

Demikian terus dan terus Hawa merengek-rengek membuat Adam hilang akal sehat. Apalagi dalam suasana Hawa sedang mengidam. Rasa cinta yang besar disertai perasaan tak tega terhadap Isterinya benar-benar menggoyahkan pendiriannya. Namun sesungguhnya masih ada dalam hati Adam rasa syak yang besar akan Nasihat kakek itu, dan rasa curiga masih meliputinya. Namun desakan dari Hawa kali ini demikian kuat, membuatnya bagai makan buah simalakamah….lalu dengan gamang dipetiknya Buah terlarang itu untuk diberikan kepada Hawa, dan Hawa pun memakannya. Dipetiknya satu lagi buat dirinya…dan apa yang terjadi…kemudian…adalah pelanggaran pertama Manusia kepada Tuhannya. Atas keberhasilannya Iblispun tertawa terbahak-bahak karena dendam kesumatnya telah terbalas.

Scenario Tuhan Untuk Mengisi Bumi

Sementara Adam dan Hawa kini meratapi kesalahannya dengan penyesalan yang tiada tara, akibat telah melanggar pantangan tadi. Karena  sejatinya syurga tidak diperuntukan bagi pendosa, maka baju-syurga yang mereka pakai tiba-tiba sirna, sehingga mereka menjadi Bugil. Karena sangat malu mereka menutupi tubuh nya dengan daun-daun syurga. Kali ini Mereka benar-benar terhina disyurga dan merasa tidak layak tinggal didalamnya. Allahpun kini memalingkan wajanya pada mereka berdua. Membuat mereka Adam dan Hawa makin tertekan bathinnya. Penyesalan selalu datang belakangan. Nasi kini telah menjadi bubur. Tak ada yang bisa dilakukan selain meratap siang dan malam memohon ampunanNYa, hanya itu.

Doa dan penyesalan Adam as diabadikan dalam Quran, dibawah ini ;

‘’Robbana dzolamna anfusanaa…wa inlam taghfirlanaa..wa tarhamnaa…lana kuu nanna minal khosirien’’. (QS.Albaqoroh)

Ya Tuhanku sungguh kami telah berbuat aniaya atas diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihani kami, niscaya kami termasuk golongan yang merugi.

Dengan bersujud disertai tangis dan rasa penyesalan yang besar, tak peduli siang maupun malam. Dan entah sudah berapa hari ia lakukan, Adam dan Hawa hanya berharap satu hal, yakni ampunan Allah. Bahkan jika harus menerima hukuman yang terberat sekalipun mereka telah siap sedia dengan legowo. Karena bagi mereka, kini laksana anak Yatim yang mendamba kasih sejati yang kini raib. Dan baru sadar setelah semua hilang, bahwa itu semua adalah nikmat yang besar tiada tara.

Melihat kesungguhan hati Adam dan hawa, Allah swt zat yang maha Rahman dan Rahim pun menerima taubatnya, lalu firmanNya ; bukan kah sudah Ku katakan, bahwa Setan itu musuh yang nyata bagimu, tetapi engkau masih saja terpedaya dengan memakan buah itu. Namun karena tobat dan rasa penyesalan kalian yang besar maka Ku terima pertobatan kalian. Tetapi bukan berarti kalian bebas dari hukuman.

Dan sebagai hukumannya, maka mulai sekarang kalian harus keluar dari syurga, untuk menjalani kehidupan di Bumi, yaitu suatu tempat yang jauh keadaannya dari syurga. Dibumi kalian harus berjuang dengan sangat keras untuk memenuhi hajat hidup kalian. Disana adalah tempat segala susah dan derita yang menguras tenaga dan air mata. Disana kalian akan merasakan sakit, susah, lemah, tua, dan mati. Namun bukan berarti dibumi tak ada kenikmatan, karena dunia bukan pula neraka, tetapi kenikmatan di dunia tak lain hanyalah kenikmatan semu. Disana ada senyum dan tawa bahagia sebagaimana sewaktu kalian disyurga tetapi tidak kekal dan tidak sebanding dengan syurga.

Demikian briefing dari Allah swt, sebelum Allah swt mengeksekusi Adam dan Hawa, agar keduannya lebih siap secara mental dan memiliki gambaran akan tempat barunya.

Nenek Moyang Bangsa Manusia

Dan pada hari yang telah ditentukan oleh Allah swt, Adam dan Hawa diturunkan ke Dunia (Bumi). Saat itu bumi merupakan suatu tempat yang masih perawan dengan Rimba belantara purba yang sangat lebat. Pohon-pohon yang super besar dan tinggi. Binatang-binatang purba yang berukuran raksasa mendiami seantereo bumi. Belum lagi jenis serangga, dari nyamuk, semut, dsb. Semuanya ada dalam jumlah yang luar biasa. Kita tak dapat membayangkan betapa berat ujian Adam dan Hawa kala itu. Karena saat itu ras Manusia dibumi hanya mereka berdua saja. Karena mereka merupakan Nenek Moyang bangsa Manusia Modern, yaitu kita semua tanpa kecuali. Sementara yang dihadapi adalah alam liar, dan semua yang serba liar.

Atas kehendak dan iradat Allah, mereka berdua diturunkan terpisah ditempat yang sangat jauh. Menurut riwayat, Adam As diturunkan di Tanah Arab tepatnya di Jeddah (Jeddah artinya Kakek / Moyang) sedangkan Hawa di anak benua yakni, India. Wallahua’lam bisshowab.

Berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan mungkin ratusan tahun lamanya. Mereka berdua saling mencari satu sama lainnya, namun belum juga dapat bertemu. Hanya doa dan pengharapan besar yang membuat mereka yakin, bahwa suatu saat pasti akan bertemu sesuai taqdir dan ketentuan Ilahi  yang maha mengatur segala sesuatu.

Setelah berjuang keras satu sama lainnya untuk bertemu. Akhirnya pada tanggal 9 dzulhijjah mereka bertemu di Padang Arofah (kota Mekkah). Menurut cerita Rosululloh SAW, Beliau mengatakan , Bahwa Nenek moyang mu, Adam dan Hawa berkumpul kembali setelah terpisah bertahun-tahun lamanya di Padang Arofah pada tanggal 9 dzulhijjah, untuk itu wukuf (berkumpul) dipadang Arofah bagi Jemaah Haji dilaksanakan pada hari tsb untuk memperingati peristiwa itu.

Tahun –tahun berikut setelah rendezvous Adam-Hawa tinggal dibumi mengarungi bahtera hidup sebagai Suami –Isteri. Adam berjuang keras mencari Nafkah demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya, begitu juga Hawa sebagai seorang Isteri yang taat dan penuh cinta melayani sang suami. Sehingga karena cinta, derita dibumi menjadi bahagia.

Saat itu dibumi hanya merekalah Manusia, kemana saja mereka berjalan yang ditemui adalah Binatang purba yang besar dan liar. Tetapi atas kehendak Allah swt, binatang-binatang itu diberi sifat tunduk dan segan kepada Adam dan keturunanya kelak.

Tak lama berselang apa yang dinanti layak nya suami –  isteri pun tiba. Siti Hawa kini melahirkan sepasang anak kembar pertamanya yaitu berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, yang sebenarnya benih itu telah ada sejak mereka masih di dalam syurga. Tetapi atas kuasa Allah setelah perjumpaan kembali barulah Siti Hawa melahirkan ditempat dan saat yang tepat. Allah maha mengatur apa yang hambanya tidak mengetahui kebaikan setelahnya. Dan inilah hikmah dari scenario Allah, sehingga umat manusia kini bertebaran di muka bumi untuk menjalankan amanatNya menjadi khalifahNya dibumi. Walau dikemudian hari justru kebanyakan Manusia rela menjadi budak Iblis Sang musuh bebuyutan akibat tipu daya hawa nafsu dan kebodohannya.

Dan tahun – tahun berikutnya, setiap tahunnya Hawa melahirkan anak kembar  sepasang-sepasang, laki-laki dan perempuan, begitu seterusnya. Jadi anak kembar yang pertama benihnya sewaktu masih disyurga, kemudian lahir dibumi, sedangkan kembaran berikutnya murni putra bumi seperti kita-kita ini.

Syariat pada saat itu, kelak setelah anak-anak  itu dewasa, maka harus dinikahkan secara silang, tidak boleh menikah dengan kembarannya. Karena kembarannya dianggap seperti masa sekarang adalah saudara kandung. Ini yang dianjurkan oleh syariat masa itu sebagai dasar haramnya kawin sedarah untuk saat ini. Makin jauh hubungan darah maka semakin baik dari segi agama maupun segi ilmu genetika, guna memperoleh keunikan gen. Gen yang unik akan melahirkan keturunan yang lebih baik. Sementara gen yang tidak unik karena nikah sedarah perlahan-lahan akan runtuh. Hal ini berlaku juga dalam dunia hewan.

Setelah hidup dalam kurun waktu yang sangat lama untuk ukuran Manusia. Ada yang mengatakan bahwa umur Adam sekitar 1000 tahun, Beliau pun mangkat, pulang ke haribaan Robbnya. Disusul berikutnya oleh Siti Hawa, beberapa tahun setelah mangkatnya Adam. Dan pusara mereka berdua ada di Tanah Arab. Dan hanya Allah yang tahu persisnya.

Maka kita saksikan dewasa ini anak keturunan Adam memenuhi dan mendominasi bumi menjadi beragam Suku dan Bangsa. Ada;  Arab, Eropa, Asia, Negro, Indian. Dan banyak lagi yang lainnya. Namun semuanya adalah berasal dari satu ayah dan satu ibu. Tak terbantahkan lagi bukti itu, sehingga bila ada kawin silang antar bangsa manapun akan menghasilkan keturunan yang dapat berkembang biak. Ilmu genetic mengetahui jika kawin lain spesies atau lain genus, maka perkawinan itu tidak akan melahirkan keturunan, atau jika melahirkan keturunan, maka keturunan berikutnya akan mandul. Sebagai contoh; jika ayam dan bebek terjadi perkawinan, maka tidak akan melahirkan keturunan sama sekali karena beda jenis dan beda genus, tetapi jika bebek dan enthok kawin maka akan melahirkan keturunan yang dinamakan tongki, akan tetapi tongki bersifat mandul karena hasil perkawinan beda jenis hanya satu genus. Dengan demikian tongki tidak dapat berkembang biak menjadi tongki-tongki lainnya. Di Arab ada hewan yang disebut Bighal yaitu hewan silang antara kuda dan keledai. Maka Bighal pun bersifat mandul alias steril.

Sementara anak cucu Manusia syahdan dari hasil kawin antar bangsa dan antar suku manapun yang ada dimuka bumi. Anak keturunan mereka senantiasa berkembang biak, sehingga menjadi suku bangsa dan etnik dengan rupa dan bentuk fisik perpaduan yang menyerupai asal kedua Nenek moyangnya. Hal ini karena nenek moyang kita satu. Artinya semua Manusia dimuka bumi ini adalah satu spesies dan satu genus.

‘’Sesungguhnya Kami menciptakan mu dari jenis laki-laki dan perempuan (Adam-Hawa), kemudian Kami menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah diantara kamu, adalah yang paling bertakwa” (Quran).

Ketika manusia menyebar kesegenap pelosok bumi maka Allah memberi mereka ciri khusus seperti penjelasan ayat diatas, agar sesama Manusia mudah mengenal  asal usul Negerinya. Namun yang paling mulia bukanlah asal usul suku atau bangsanya, tetapi secara individual yaitu kualitas ketakwaannya.

Hanya Allah segala sumber kebenaran, yang benar datang dari Allah dan yang salah dari kelemahan Penulis sendiri.

Advertisement
Romantika Adam dan Hawa | porosbumi | 4.5