17 Peneliti UGM Masuk Daftar Top 2% Ilmuwan Berpengaruh Dunia
SEBANYAK 17 peneliti Universitas Gadjah
Mada masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2026. Pengakuan ini
mencerminkan kontribusi peneliti UGM dalam pengembangan ilmu pengetahuan
melalui berbagai bidang keilmuan. Seperti diketahui, Top 2% World Scientists
merupakan daftar yang dikeluarkan oleh peneliti dari Stanford University dengan
data penerbit ilmiah Elsevier.
Ketujuhbelas peneliti UGM masuk dalam daftar tersebut adalah
Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D.; Prof. dr. Indah Kartika Murni,
M.Kes., Sp.A(K)., Ph.D.; dan dr. Sumadi Lukman Anwar, M.Sc., Ph.D., Sp.B.,
Subsp.Onk. (K), dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan
Keperawatan. Dari Fakultas Kehutanan, terdapat Prof. Dr. Ir. Ragil Widyorini,
S.T., M.T., IPU., dan Prof. Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut., M.For.
Berikutnya, Dr. Yehezkiel Steven Kurniawan, S.Si., M.Eng.;
Prof. Dra. Wega Trisunaryanti, M.S., Ph.D. Eng.; Prof. Dr.Eng. Edi Suharyadi,
S.Si., M.Eng.; Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si.; serta Prof. Drs. Jumina,
Ph.D., dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dari Fakultas
Farmasi, terdapat apt. Eka Noviana, Ph.D., dan Prof. Dr. apt. Abdul Rohman,
S.F., M.Si.
Baca Juga
Selain itu, Muhammad Akhsin Muflikhun, S.T., MSME., Ph.D.,
dan Prof. Dr. Ir. Kusmono, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., berasal dari Fakultas
Teknik. Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D., berasal dari Fakultas
Kedokteran Gigi, sedangkan Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono, S.Si., M.Sc., dan
Prof. Dr.rer.nat. Muh Aris berasal dari Fakultas Geografi.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengapresiasi
prestasi dan inovasi yang dilakukan 17 peneliti UGM yang berhasil masuk dalam
daftar Top 2% ilmuwan berpengaruh dunia. Ova meyakini capaian tersebut adalah
salah satu tanda atas kualitas pendidikan, riset, dan publikasi yang dilakukan
peneliti dalam beberapa tahun terakhir. “Segenap capaian ini senantiasa akan
menjadi inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di masa
depan,” ungkapnya, Jumat (16/10).
Dari 17 daftar peneliti UGM yang masuk daftar ilmuwan
berpengaruh di dunia tersebut, umumnya mengembangkan penelitian dengan fokus
yang beragam, mulai dari pemanfaatan material ramah lingkungan dan pemetaan
ekosistem pesisir hingga peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak.
Ragil Widyorini merupakan salah satu dari 17 peneliti UGM
yang masuk dalam daftar telah lama mengembangkan penelitian di bidang teknologi
hasil hutan, khususnya produk komposit ramah lingkungan dengan memanfaatkan
serat alam, kayu berkualitas rendah, serta limbah pertanian dan kehutanan.
Penelitiannya juga berfokus pada penggunaan bahan perekat alami yang bebas
formaldehida untuk menghasilkan material alternatif yang berpotensi
diaplikasikan dalam berbagai kebutuhan.
Salah satu kontribusi ilmiahnya ialah pengembangan
biokomposit dari limbah pertanian dan kehutanan, baik tanpa perekat (binderless
board) maupun menggunakan bahan pengikat alami. Menurut Ragil, Indonesia
memiliki potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan untuk memperluas
penerapan teknologi komposit.
“Riset mengenai komposit mempunyai potensi yang besar untuk
dikembangkan dan diaplikasikan. Indonesia mempunyai banyak sumber daya alam,
yang bisa membuka peluang riset komposit yang lebih luas, baik untuk aplikasi
struktural maupun non-struktural,” jelasnya.
Pemanfaatan material alternatif tersebut diharapkan dapat
membantu mengatasi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah
produk kehutanan. Salah satu contohnya ialah penelitian pemanfaatan limbah
kotoran gajah menjadi produk komposit sebagai alternatif penanganan limbah.
Ragil juga mengembangkan penelitian pemanfaatan kayu hasil penjarangan menjadi
komposit laminasi untuk aplikasi struktural.
Dalam perjalanan risetnya, Ragil menghadapi tantangan berupa
keterbatasan sumber daya, pendanaan, dan waktu, termasuk menjaga konsistensi
dalam menghasilkan penelitian berkualitas. Untuk mengatasinya, ia membangun
kolaborasi dengan akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat.
“Dalam menghadapi tantangan tersebut, saya berusaha terus
membangun kolaborasi dengan berbagai pihak,meningkatkan kompetensi, serta
terbuka terhadap pendekatan dan gagasan baru agar riset dapat semakin berdampak
kepada masyarakat,” ungkapnya.
Sementara Pramaditya Wicaksono, peneliti dari fakultas
Geografi ini lebih banyak menekuni
bidang coastal biodiversity remote sensing atau penginderaan jauh biodiversitas
pesisir, terutama untuk memetakan padang lamun, terumbu karang, dan habitat
bentik. Penelitiannya berfokus pada evaluasi dan pengembangan metode serta
model pemetaan yang dapat menghasilkan informasi mengenai kondisi ekosistem
pesisir.
Hasil penelitian ini menjadi referensi ilmiah bagi
pengembangan berbagai metode pemetaan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Kontribusi
tersebut turut mendukung pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
melalui penyediaan data yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah maupun
organisasi nonpemerintah.
Salah satu contohnya ialah keterlibatan Pramaditya bersama
Indonesian Seagrass Mapping Partnership, yang terdiri atas UGM, BRIN,
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan
Universitas Hasanuddin, dalam menghasilkan peta nasional terumbu karang dan
padang lamun Indonesia yang pertama kali diluncurkan oleh Menteri KKP pada
2025.
Peta tersebut menjadi dasar penghitungan luas padang lamun
nasional sekaligus menyediakan data referensi untuk pengelolaan kawasan
pesisir, ocean accounting, dan penghitungan karbon biru. Pengembangannya
didukung oleh pendanaan David and Lucile Packard Foundation, dengan dukungan
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada fase akhir.
Selain itu, bersama mitra nasional, Pramaditya turut
mengembangkan profil karbon biru padang lamun untuk ASEAN beserta panduan
pemetaan dan pengukurannya. Ia juga bekerja sama dengan Auriga Nusantara dalam
mengembangkan peta nasional persentase tutupan padang lamun.
Di tingkat global, Pramaditya berperan sebagai global data harmonization
science lead dalam inisiatif seagrass mapping blueprint, yang
bertujuan mendukung pemetaan padang lamun secara global melalui harmonisasi
data. Berbagai inisiatif tersebut memperlihatkan bagaimana pengembangan metode
pemetaan dapat menghasilkan data yang dibutuhkan untuk memahami ekosistem
pesisir dan mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaannya.
Dalam perjalanan penelitiannya, Pramaditya menghadapi
keterbatasan anggaran, sementara penelitian di wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil membutuhkan biaya besar. Ia mengatasi tantangan tersebut melalui
kolaborasi dengan berbagai institusi, baik di tingkat nasional maupun
internasional.
“Tantangan terbesar awalnya adalah budget riset yang
terbatas, sedangkan biaya untuk penelitian di wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil tinggi. Mengatasi dengan kolaborasi riset antar institusi, baik nasional
maupun internasional,” paparnya.
Menurut Pramaditya, tantangan lainnya ialah perhatian
terhadap ekosistem padang lamun yang sebelumnya belum sebesar perhatian
terhadap ekosistem pesisir lainnya. Namun, meningkatnya perhatian terhadap
karbon biru dan ekonomi biru turut membuka peluang pendanaan serta mendorong
perkembangan penelitian padang lamun.
Deteksi Dini Penyakit Anak
Usaha peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak,
mencegah penyakit, serta menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak
menjadi lokus penelitian Indah Kartika Murni. Ruang lingkup risetnya mencakup
pencegahan infeksi terkait pelayanan kesehatan, penggunaan antibiotik secara
rasional, kardiologi anak, dan surveilans penyakit infeksi berbasis air limbah.
Salah satu kontribusi pentingnya ialah penelitian mengenai
keterlambatan diagnosis penyakit jantung bawaan. Dalam penelitian terhadap
sekitar 850 anak, timnya menemukan bahwa sekitar 60 persen mengalami
keterlambatan diagnosis. Pada kelompok dengan penyakit jantung bawaan berat
atau kritis, proporsinya mencapai lebih dari 85 persen.
Temuan ini mendorong penelitian mengenai skrining
menggunakan pulse oximeter, alat pengukur saturasi oksigen yang dapat
membantu mendeteksi penyakit jantung bawaan kritis pada bayi baru lahir.
Penelitian di empat rumah sakit di Yogyakarta melibatkan sekitar 1.450 bayi dan
mengidentifikasi delapan bayi dengan penyakit jantung bawaan kritis melalui
pemeriksaan lanjutan.
Hasil penelitian tersebut turut memperkuat bukti ilmiah bagi
kebijakan nasional mengenai skrining pulse oximeter pada bayi baru
lahir. Indah menjelaskan, penelitian kesehatan perlu menghasilkan bukti yang
relevan dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia, termasuk intervensi
yang dapat diterapkan dengan sumber daya terbatas.
“Salah satu kontribusi terpenting dari penelitian saya
adalah yang tentu saja kami lakukan bersama tim, yaitu menghasilkan bukti
ilmiah yang relevan dengan kondisi negara berkembang seperti Indonesia mengenai
bagaimana intervensi yang berbasis bukti, yang relatif sederhana dan
terjangkau, dapat meningkatkan keselamatan pasien dan juga kualitas pelayanan
kesehatan,” jelas Indah.
Selain itu, Indah bersama tim multidisiplin mengembangkan
surveilans berbasis air limbah untuk memantau sirkulasi patogen di masyarakat.
Penelitian ini digunakan untuk mendeteksi SARS-CoV-2 selama pandemi dan
dikembangkan untuk memantau Salmonella typhi, bakteri penyebab demam tifoid,
serta patogen lain yang berpotensi menimbulkan pandemi. Pendekatan ini dapat
melengkapi data epidemiologi konvensional karena tidak semua orang yang
terinfeksi datang ke fasilitas kesehatan.
Meski demikian, Indah menilai tantangan utama penelitian
kesehatan terletak pada penerapan hasilnya secara konsisten. Keterbatasan
fasilitas, pendanaan, beban kerja tenaga kesehatan, serta kebutuhan koordinasi
antarfasilitas dapat memengaruhi keberhasilan implementasi.
“Salah satu tantangan terbesar adalah menjembatani
kesenjangan antara bukti ilmiah dan implementasinya dalam pelayanan kesehatan
sehari-hari. Kita mungkin mengetahui intervensi yang efektif, tetapi
menerapkannya secara konsisten mungkin tidak mudah karena keterbatasan sumber
daya, fasilitas, pendanaan, beban kerja, dan juga tantangan perubahan
perilaku,” ungkapnya.
Untuk menghadapinya, Indah membangun kolaborasi dengan
tenaga kesehatan, peneliti multidisiplin, institusi nasional dan internasional,
serta pemangku kebijakan. Ia juga melibatkan mahasiswa, residen, dan peneliti
muda dalam pengembangan penelitian.
Masuknya Ragil Widyorini, Pramaditya Wicaksono, dan Indah
Kartika Murni dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025 menunjukkan beragam
kontribusi penelitian UGM dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Penelitian Ragil menawarkan alternatif pemanfaatan limbah
menjadi material bernilai guna, Pramaditya menyediakan data untuk mendukung
pengelolaan ekosistem pesisir, sedangkan Indah mengembangkan bukti ilmiah bagi
peningkatan pelayanan kesehatan. (zabrina kumara)
