Logo Porosbumi
24 Agu 2026,
24 August 2026
LIVE TV

Dari Dapur ke Hati, Kala Sayur Lodeh Hartini Menyesap Nikmat di Lidah Bung Karno

Hendri Irawan 23 Agu 2026, 13:56:34 WIB
Dari Dapur ke Hati, Kala Sayur Lodeh Hartini Menyesap Nikmat di Lidah Bung Karno

SUKARNO tidak jatuh cinta kepada Hartini di pesta mewah atau ruang Istana. Ia justru terpikat setelah mencicipi semangkuk sayur lodeh.

Pada tahun 1952, Sukarno singgah di Salatiga dalam perjalanan menuju Yogyakarta. Hari itu, ia dijamu makan siang di rumah wali kota.

Di atas meja tersedia berbagai hidangan, tetapi ada satu menu yang membuat perhatian sang presiden tertuju penuh, sayur lodeh. Sukarno menyantapnya dengan lahap.

Lalu, di tengah makan, ia bertanya.“Siapa yang memasak sayur lodeh seenak ini? Aku ingin berterima kasih kepadanya.”

Jawabannya ternyata adalah seorang perempuan bernama Hartini—seorang janda muda, ibu dari lima anak, yang saat itu membantu menyiapkan hidangan untuk rombongan presiden.

Hartini kemudian diperkenalkan kepada Sukarno. Pertemuan itu berlangsung singkat. Tidak ada pesta mewah. Tidak ada panggung besar. Hanya sebuah rumah, jamuan makan siang, dan seorang perempuan yang berdiri sederhana di hadapan presiden.

Namun bagi Sukarno, pertemuan itu meninggalkan kesan mendalam.
Ia disebut langsung tertarik pada Hartini—bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena kepribadian dan ketenangan perempuan itu.

Hartini bukan gadis istana. Ia adalah seorang ibu dengan kehidupan dan luka masa lalu yang tidak sederhana. Yang jarang diceritakan, Hartini tidak serta-merta menerima perasaan Sukarno.

Setelah kembali ke Jakarta, Sukarno mulai mengirim surat. Dalam salah satu suratnya, ia menulis kalimat yang sangat berani:
“Tuhan telah mempertemukan kita, Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir.”

Namun Hartini sempat menolak dan tidak langsung membalas perasaan tersebut. Sukarno pun tidak berhenti. Surat demi surat terus dikirimkan kepadanya.

Agar hubungan itu tetap tersembunyi, Sukarno menggunakan nama samaran Srihana, sementara Hartini diberi nama Srihani.

Dalam salah satu suratnya, Sukarno menulis bahwa saat pertama kali melihat Hartini, hatinya bergetar. Surat-surat itu bahkan menggunakan beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, dan Belanda.

Perlahan, hati Hartini mulai luluh.
Dari semangkuk sayur lodeh, lahirlah kisah cinta yang kelak mengguncang kehidupan rumah tangga dan politik Istana.

Namun kisah ini bukan sekadar cerita tentang seorang presiden yang terpikat pada seorang perempuan. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah pertemuan singkat dapat mengubah takdir banyak orang—Sukarno, Hartini, Fatmawati, dan sejarah Indonesia.

Kadang, cinta tidak datang melalui pintu besar Istana. Kadang, ia datang diam-diam… melalui aroma masakan dari dapur sederhana. (agus salim)


Catatan: sejumlah sumber berbeda mengenai detail lokasi pertemuan pertama Sukarno dan Hartini, tetapi versi Salatiga dan sayur lodeh merupakan kisah yang paling sering diberitakan.

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```