- Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif
- Kades di Tapteng Ramai-Ramai Surati Presiden, Minta Pelurusan Penyebab Banjir Longsor DAS Aek Garoga
- 8 Desa Wisata di Indonesia Buat Kamu Merasakan Kehidupan Masyarakat Lokal
- Fenomena Antre di Tempat Makan Viral, Worth It atau Sekadar Ikut Tren?
- Apakah Venezuela Masih Jadi Kekuatan Besar di Pasar Minyak Global?
- RDMP Balikpapan: Sumur Mathilda yang Kini Garda Terdepan Energi Indonesia Timur
- Tak Ada Pilihan Lain, Indonesia Harus Menjadi Pengendali Harga Nikel Dunia
- Riset BRIN Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa–Sumatra Tertinggi
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan
- Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan
Riset BRIN Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa–Sumatra Tertinggi
.png)
JAKARTA – Riset terbaru Badan
Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa faktor emisi karbon dari
ekosistem lamun di Indonesia tidak seragam, dengan wilayah Jawa dan sebagian
Sumatra menunjukkan nilai tertinggi dibandingkan kawasan pesisir lainnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa degradasi padang lamun di wilayah barat Indonesia
berpotensi melepaskan karbon ke atmosfer dalam jumlah yang lebih besar
dibandingkan wilayah lain.
Penelitian ini dilakukan oleh Peneliti Ahli Utama Pusat
Riset Oseanologi BRIN, A’an Johan Wahyudi, melalui publikasi jurnal ilmiah yang
secara khusus mengkaji emisi karbon yang dilepaskan bilamana ekosistem lamun mengalami
gangguan. Selama ini, pembahasan mengenai karbon biru lebih banyak menyoroti
kemampuan ekosistem pesisir menyerap karbon, sementara aspek emisi akibat
kerusakan relatif jarang diperhitungkan.
“Kalau kita bicara karbon biru, selama ini fokusnya selalu
pada penyerapan. Padahal, dalam carbon accounting, yang dihitung
bukan hanya yang diserap, tetapi juga yang diemisikan,” kata A’an, dalam
wawancara dengan Humas BRIN, Rabu (14/1).
Baca Lainnya :
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan0
- Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan0
- Sejumlah Peneliti Mengembangkan Platform AI untuk Membantu Ketahanan Pangan 0
- Sistem Kandang Berpengaruh pada Kesejahteraan Itik Petelur dan Kualitas Telur0
- Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya di Asia Tenggara0
Namun, A’an menjelaskan bahwa fungsi penyimpanan karbon
tersebut dapat berubah ketika lamun mengalami gangguan. Aktivitas manusia di
wilayah pesisir, seperti reklamasi, pengerukan, maupun peningkatan sedimentasi,
dapat menghambat pertumbuhan lamun dan memicu degradasi ekosistem, serta menyebabkan pelepasan atau emisi karbon.
“Sederhananya, ketika lamun sehat, karbon diserap dan
disimpan. Namun, ketika rusak – misalnya karena reklamasi atau pengerukan –
daun, akar, dan bagian lamun lainnya mengalami pembusukan. Proses dekomposisi
inilah yang melepaskan karbon dioksida ke atmosfer,” jelas A’an.
Ia menambahkan bahwa lamun memang memiliki kemampuan
menyaring sedimen, tetapi kemampuan tersebut tetap memiliki batas. Jika jumlah
sedimen yang masuk terlalu besar, keseimbangan ekosistem akan terganggu. “Lamun
memang bisa menyaring sedimen, tapi kalau sedimennya berlebihan, misalnya
akibat erosi dari daratan, maka
hal itu tetap akan mengganggu,” ujarnya.
Faktor Emisi Karbon Lamun
Dalam riset ini, A’an mengenalkan metode perhitungan faktor
emisi karbon lamun. Faktor
emisi adalah angka yang menggambarkan seberapa besar karbon yang
dilepaskan ke atmosfer per satuan luas ekosistem per tahun akibat degradasi
atau gangguan. “Dalam
konteks ekosistem lamun, faktor emisi menunjukkan laju kehilangan karbon yang
sebelumnya tersimpan di dalam biomassa lamun, dan berpotensi juga mencerminkan
proses awal pelepasan karbon dari sistem pesisir,” jelas A’an.
Selama ini, Indonesia
masih menggunakan faktor emisi global (Tier-1 IPCC) untuk menghitung emisi
karbon dari lamun. “Padahal, kondisi lamun Indonesia, baik dari sisi tekanan
aktivitas manusia, dinamika pesisir, maupun stok karbon, sangat beragam dan
tidak bisa diwakili oleh angka rata-rata global,” ujar A’an.
Wilayah pesisir di Jawa dan sebagian Sumatra memiliki
tekanan antropogenik yang jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan timur
Indonesia yang relatif lebih alami. Untuk mengatasi keterbatasan data seri jangka panjang, A’an
menggunakan pendekatan chronosequence modeling. Metode ini
membandingkan kondisi padang lamun yang masih relatif baik dengan yang telah
terdegradasi, untuk memperkirakan perubahan kondisi karbon dari waktu ke waktu.
“Hampir tidak ada data yang merekam kondisi lamun 10 atau 20
tahun lalu. Yang kita punya hanya kondisi saat ini. Maka, wilayah yang lamunnya
masih bagus seperti Nusa Tenggara Timur kita anggap sebagai referensi masa
lalu,” kata A’an.
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor emisi karbon lamun
di Indonesia berada pada kisaran 0,53 hingga 3,25 ton karbon per hektare per
tahun. Nilai tertinggi ditemukan di wilayah dengan tekanan pesisir tinggi,
terutama Jawa dan sebagian Sumatra. Sebaliknya, wilayah seperti Nusa Tenggara,
sebagian Sulawesi, dan Maluku menunjukkan nilai faktor emisi yang lebih rendah.
“Tekanan antropogenik di wilayah padat penduduk membuat potensi emisinya lebih
besar,” ujar A’an.
Temuan ini mengindikasikan bahwa kerusakan satu hektare
padang lamun di wilayah barat Indonesia dapat menghasilkan emisi karbon yang
jauh lebih besar dibandingkan kerusakan dengan luasan yang sama di wilayah
timur. Dengan kata lain, lokasi degradasi menjadi faktor penting dalam
perhitungan emisi karbon lamun secara nasional.
Melalui riset ini, Indonesia didorong untuk mulai beralih
dari pendekatan Tier-1 menuju Tier-2, yakni penggunaan faktor emisi yang lebih
spesifik dan mencerminkan kondisi nasional. Meski demikian, A’an menegaskan
bahwa angka faktor emisi yang dihasilkan saat ini masih bersifat awal.
“Faktor emisi yang saya hitung baru berdasarkan karbon
biomassa lamun, seperti dari daun dan akar. Padahal, cadangan karbon terbesar
justru ada di sedimennya,” katanya.
Ke depan, A’an menyebut bahwa penggabungan data biomassa dan
sedimen diperlukan agar perhitungan faktor emisi karbon lamun menjadi lebih
presisi dan dapat mendukung kebutuhan pelaporan penurunan emisi karbon
nasional, termasuk dalam kerangka Nationally Determined
Contribution (NDC).
Untuk menjaga ekosistem lamun agar tetap lestari, ia
menekankan pentingnya regulasi yang kuat, implementasi yang konsisten, serta
keterlibatan masyarakat pesisir, mulai dari pengelolaan sampah hingga praktik
pembangunan yang lebih ramah lingkungan.
Lebih jauh, A’an menyoroti urgensi sistem pemantauan laut
jangka panjang. Indonesia membutuhkan sistem pengamatan laut nasional (Indonesia Ocean Observing System/IOOS), yang tidak hanya memantau aspek fisik, tetapi juga aspek biogeokimia
dan ekosistem laut.
Riset ini menegaskan bahwa kondisi ekosistem lamun
menentukan apakah karbon tetap tersimpan di dalam sistem atau justru terlepas
ke atmosfer ketika terjadi degradasi, sekaligus menunjukkan pentingnya memahami
variasi regional dalam upaya penghitungan emisi karbon pesisir Indonesia. (tnt)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)


.jpg)

.jpg)

.jpg)

