Logo Porosbumi
29 Jun 2026,
29 June 2026
LIVE TV

Seabad Gempa 1926, Padang Panjang Teguhkan Komitmen Bangun Budaya Tangguh Bencana

PorosBumi 29 Jun 2026, 19:54:02 WIB
Seabad Gempa 1926, Padang Panjang Teguhkan Komitmen Bangun Budaya Tangguh Bencana

PEMERINTAH Kota Padang Panjang memaknai peringatan 100 tahun Gempa 1926 sebagai momentum memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana.

Tragedi yang pernah menghancurkan kota tersebut dinilai menyimpan pelajaran penting yang tetap relevan bagi pembangunan daerah hingga saat ini.

Komitmen itu disampaikan dalam kegiatan Refleksi Satu Abad Gempa 1926 yang berlangsung di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM), Sabtu (27/6/2026).

Pada kesempatan yang sama, pemerintah juga memulai pembangunan Penanda Sejarah Gempa 1926 melalui prosesi peletakan batu pertama.

Monumen tersebut dirancang sebagai pengingat atas peristiwa gempa besar yang pernah melanda Sumatera Barat sekaligus menjadi sarana edukasi agar masyarakat memahami pentingnya mitigasi bencana.

Mewakili Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, I Putu Venda, mengatakan sejarah harus dipandang sebagai sumber pembelajaran untuk memperkuat ketahanan daerah.

Menurutnya, gempa yang terjadi pada 28 Juni 1926 tidak hanya meninggalkan kerusakan dan korban jiwa, tetapi juga melahirkan semangat gotong royong, ketangguhan, serta kebersamaan yang hingga kini masih menjadi karakter masyarakat Padang Panjang.

"Kita mengenang gempa 28 Juni 1926 sebagai pengingat bagi hari ini dan masa depan. Kota ini pernah runtuh, tetapi masyarakat Padang Panjang membuktikan mampu bangkit dan terus melangkah," katanya.

Ia menambahkan, nilai-nilai tersebut menjadi modal sosial yang mendukung perjalanan Padang Panjang hingga berkembang sebagai kota pendidikan, kota budaya, dan kota religius. Karena itu, refleksi seabad gempa diharapkan mampu memperkuat kepedulian masyarakat terhadap upaya pengurangan risiko bencana.

Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi, menilai pemahaman terhadap sejarah kebencanaan merupakan bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.

Menurutnya, berdasarkan hasil kajian BMKG, Gempa 1926 dipicu oleh aktivitas Sesar Sianok yang memanjang hingga kawasan Danau Singkarak. Jalur sesar tersebut masih aktif dan kembali memicu gempa pada 2007 sehingga upaya edukasi harus terus dilakukan.

"Ini bentuk kesiapsiagaan, bukan untuk menakut-nakuti. Dengan memahami sejarah kebencanaan, kewaspadaan kita meningkat dan risiko dapat kita kurangi," ujarnya.

BMKG juga mendorong agar sejarah Gempa 1926 tidak berhenti sebagai arsip masa lalu, melainkan dimanfaatkan sebagai materi pembelajaran di sekolah, media literasi kebencanaan, hingga dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukasi geologi.

Kegiatan refleksi turut dihadiri Ketua DPRD Padang Panjang Imbral, Dandim 0307/Tanah Datar Letkol Arm Hendriyana, jajaran kepala OPD, camat, lurah, penulis buku Gempa Tujuh Hari Yose Hendra, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan. (jefli bridge)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```