Sebatang Lisong di Malam yang Kehilangan Penyairnya
AK Supriyanto
Esais
Baca Juga
Malam ini, Indonesia kehilangan penyairnya lagi.
Bukan, ia tak mati hari ini. Ia telah pergi sejak
bertahun-tahun lalu, tapi kepergiannya terasa kembali setiap kali negeri ini
gemetar oleh kekuasaan yang lupa diri, setiap kali puisi dianggap barang usang,
setiap kali panggung-panggung kehilangan daya hidupnya.
Aku hanya dua kali duduk dekat dengannya. Dua kali yang
singkat, tapi cukup untuk membuatku mengerti: bahwa seorang penyair sejati
bukanlah mereka yang melangit, melainkan yang membumi begitu dalam hingga
akarnya menjangkau air tanah yang paling sunyi.
Aku mengingat pertemuan pertama denganmu, di Bulaksumur
B-21—Markas Pers Mahasiswa UGM, pertengahan 90-an. Kau datang sehari setelah
pentas di Graha Sabha Pramana. Letih, pasti. Tapi kau memilih singgah ke markas
pers mahasiswa yang sumpek, berdebu, berbau tinta printer dan idealisme
murahan—dua hal yang mungkin bagimu justru paling mahal.
Kau rendah hati, Mas Willy. Terlalu rendah hati untuk ukuran
seseorang yang baru saja mengguncang panggung dengan sajak-sajak yang membuat
rezim waspada. Kau duduk di antara kami, anak-anak muda yang haus akan teladan,
dan kau bicara dengan suara yang tenang tapi penuh gemuruh—seperti air yang
tahu ia akan menjadi air terjun.
Lalu kau melakukan sesuatu yang tak kan pernah kulupakan. Kau
mengeluarkan dompetmu. Mengambil seluruh uang di dalamnya. Memberikannya untuk
pers mahasiswa. “Buat perjuangan,” mungkin begitu katamu, atau mungkin tak
perlu kau katakan apa-apa karena tindakanmu sudah lebih lantang dari sajak
sebatang lisong.
Aku ingat dompet itu. Kulitnya sudah mengelupas di
sana-sini. Dan setelah kau kosongkan, ia tampak lebih ringan—tapi juga lebih
berat oleh makna. Di situlah aku pertama kali mengerti: keberpihakan bukan saja
soal arah orasi atau isi puisi. Keberpihakan adalah juga dompet yang kosong
setelah seluruh isinya kau serahkan pada mereka yang kau percaya akan
melanjutkan api.
Lalu, aku mengenang pertemuan kedua kita di Jakarta, akhir
1999. Aku sudah menjadi wartawan yunior waktu itu. Muda, canggung, dan masih
gagap menyusun pertanyaan yang layak untukmu. Kau baru saja membuka pameran
lukisan di Pondok Indah, dan entah bagaimana, aku berakhir di mobilmu. Adi
Kurdi yang menyetir ke arah Depok.
Malam itu Jakarta basah oleh hujan yang baru saja reda.
Lampu-lampu kota memantul di aspal seperti bintang-bintang yang jatuh dan tak
bisa pulang. Dan kau, di kursi penumpang, bercerita panjang—tentang tentang
deklamasi, tentang blues untuk bonnie, tentang Bengkel Teater yang hampir mati
berkali-kali.
“Anak Bengkel enggak suka micin,” serumu tiba-tiba pada
pedagang caisim sapi di pinggir Jalan Margonda, Depok.
Kalimat sederhana. Tapi itu kau, Mas. Seluruh dirimu.
Memperhatikan kesehatan anak buahmu bahkan dalam detail yang paling remeh—micin
di semangkuk caisim sapi. Karena bagimu, daya hidup bukan hanya tentang
semangat yang meluap-luap di atas panggung. Daya hidup juga tentang tubuh yang
sehat, tentang kesadaran pada apa yang masuk ke dalam diri.
Kau mentraktirku malam itu. Wartawan yunior yang gajinya
mungkin tak seberapa. Dan di antara suapan caisim sapi yang mengepul, kau
bercerita tentang jatuh bangun Bengkel Teater, tentang Adi Kurdi dan
kawan-kawan yang terpaksa ngamen karena tak ada uang, tentang dirimu yang
semula menentang tapi akhirnya membiarkan.
“Mereka ngamen?” tanyaku.
“Mereka ngamen,” jawabmu, dan kau tertawa. Tawa yang dalam,
tawa yang pernah menelan pahit dan memilih untuk tetap hangat.
Malam itu aku mendengar bagaimana kau membangun Bengkel
Teater dari nol, dari mimpi yang dianggap gila, dari keyakinan bahwa teater
adalah laboratorium kemanusiaan. Kau bicara tentang film—“Yang Muda Yang
Bercinta”, “Al Kautsar”—dan bagaimana kau memutuskan hijrah dari Jogja ke
Jakarta, kota yang kau tahu akan mengujimu dengan cara yang paling kejam
sekaligus paling jujur.
Dan kau bicara tentang Setiawan Djodi, tentang Kantata
Takwa.
Ah, Kantata Takwa.
Aku ingat bagaimana matamu menyala ketika bercerita tentang
kolaborasi itu. Tentang bagaimana syair-syair doa bisa dinyanyikan dengan gitar
listrik, tentang bagaimana spiritualitas tak harus mengasingkan diri di
gunung-gunung sunyi, tapi bisa turun ke jalan, menyapa realitas, menjadi nyala
dalam kegelapan sosial.
“Bongkar!” adalah doa.
“Kesaksian” adalah zikir.
Dan kau mengajarkan bahwa mencintai Tuhan tak berarti
memunggungi manusia. Bahwa mistisisme tak harus lari dari politik. Bahwa sufi
sejati adalah mereka yang berani mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang
lalim, meski harus membayarnya dengan harga yang mahal.
Aku merindukanmu di tengah Indonesia yang kini makin gaduh,
Mas Willy. Di mana-mana orang bicara dengan suara keras, tapi sedikit yang
benar-benar mengatakan sesuatu. Panggung-panggung penuh, tapi daya hidup
kosong. Puisi ditulis, tapi tak banyak yang cerdas menelanjangi kekuasaan
pongah sebagaimana kau lakukan dengan sajak-sajak pamfletmu.
Aku merindukanmu, Mas. Bukan karena aku ingin memperpanjang
romantika masa lalu, tapi karena masa kini membutuhkan teladan tentang
bagaimana seni bisa menjadi lebih dari sekadar hiburan. Indonesia merindukan
seseorang yang akan mengeluarkan seluruh isi dompetnya untuk perjuangan yang ia
percaya, tanpa pikir panjang, tanpa hitung-hitungan, tanpa berharap namanya
diukir di prasasti.
Bangsa ini merindukan penyair besar yang mau duduk di markas
pers mahasiswa yang kumal, bicara dengan anak-anak muda yang belum jadi
apa-apa, dan memperlakukan mereka seolah mereka adalah masa depan yang paling
berharga.
Masyarakat merindukan suara yang bisa membuat micin menjadi
metafora, dan caisim sapi menjadi sakramen persaudaraan. Kita merindukan
Kantata Takwa—sebuah pengingat bahwa kritik sosial adalah bagian dari ibadah,
bahwa menuntut keadilan adalah bagian dari tasawuf, bahwa spiritualitas tak
harus melarikan diri dari realitas, tapi justru menyelaminya dengan cinta yang
membara.
Malam ini, Mas, aku membaca kembali sajak-sajakmu. Sajak
Sebatang Lisong—aku ingat kau menulisnya di tahun-tahun yang penuh asap dan
marah. Tapi di balik kemarahan itu, ada cinta. Selalu ada cinta. Pada rakyat,
pada kebenaran, pada daya hidup yang mengalir seperti sungai yang tak bisa
dibendung.
Aku hanya dua kali duduk dekat denganmu. Dua kali yang
singkat. Tapi dua kali itu cukup untuk membuatku percaya bahwa seorang penyair
sejati tak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti wujud.
Mungkin ia kini hadir dalam diri anak-anak muda yang mulai
lelah dengan jargon dan mulai lapar akan makna. Mungkin ia kini bersemayam
dalam setiap pentas teater di sudut-sudut kota, dalam setiap syair yang
dinyanyikan dengan gitar akustik di bawah jembatan, dalam setiap dompet yang
rela dikosongkan untuk sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Atau mungkin—dan ini yang paling dalam kurindukan—ia sedang
menunggu seseorang untuk melanjutkan apa yang telah ia mulai. Seseorang yang
akan menulis sajak pamflet yang menelanjangi penyelewengan kekuasaan. Seseorang
yang akan mendirikan bengkel-bengkel kreatif di tengah masyarakat yang
kehilangan daya. Seseorang yang akan menjadikan kesenian sebagai jalan untuk
memberi makna, bukan sekadar mencari tepuk tangan.
Kau telah pergi, Mas Willy. Tapi suaramu masih bergema di
setiap celah negeri yang memilih untuk tetap jujur, tetap bernyala, tetap
berani. Dan malam ini, di sebuah sudut kota yang basah oleh kenangan, aku
menyalakan sebatang lisong dalam doa. Bukan untuk merokok. Hanya untuk melihat
asapnya mengepul seperti sajak yang tak pernah selesai ditulis.
Untuk Rendra, Yang dompetnya kosong, tapi puisinya melimpah.
Yang suaranya telah lama diam, tapi kata-katanya masih berani. Yang mengajarkan
bahwa seni adalah doa, dan doa adalah bara. Indonesia masih merindukanmu. Dan
akan selalu begitu. Alfatehah untuk Willibrordus Surendra Broto alias
Wahyu Sulaiman Rendra (7 November 1935 - 6 Agustus 2009)
