- Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah Tawangsari Adakan Penguatan Ideologi
- Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
- Presiden Prabowo: Ketahanan Pangan Jadi Urusan Keamanan Negara
- Polri Akan Membangun 10 Gudang Ketahanan Pangan Baru di 2026
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat
- Diversifikasi Jadi Kunci Masa Depan Pertanian
Badan Karantina Kemtan ikut pasarkan produk unggas

JAKARTA. Badan Karantina Kementerian Pertanian (Kemtan) terus berupaya mendorong produk unggas dalam negeri masuk ke pasar global. Sebab produksi unggas yang berlebih membuat terjadinya persaingan pasar di dalam negeri yang kerap membuat harga ayam jatuh.
Untuk itu, Badan Karantina tetap mendorong agar industri unggas memenuhi sejumlah persyaratan ekspor unggas ke negara tujuan seperti Papua Nugini, Jepang dan Korea Selatan. Dimana dua negara terakhir sudah menyatakan ketertarikan membeli produk olahan unggas Indonesia.
Sekretaris Badan Karantina Pertanian Kemtan Sujarwanto mengatakan pemerintah bertangunggjawab memberikan jaminan kesehatan dan keamanan produk olahan unggas ke negara tujuan. Sejauh ini Badan Karantina hewan telah melakukan berbagai pemeriksaan fisik dan tindakan karantina lainnya sesuai persyaratan yang diminta negara tujuan.
Baca Lainnya :
- Ironi RI, Negeri Kaya Rempah Tapi Impor Cengkeh dan Lada0
- 1.922 Embung Bakal Dibangun untuk Dukung Ketahanan Pangan0
- Pertama di Gowa, Petani di Desa Tinggimae Panen Padi Organik, Hasilnya Dijual di Supermarket0
- KLHK: UKM kehutanan makin minati SVLK0
- Presiden tegaskan perbatasan harus dibangun jadi etalase bangsa0
Selanjutnya produk hewan ini akan dikapalkan melalui Pelabuhan Tanjung Priok untuk dikirim ke negara tujuan, salah satunya ke Papua Nugini pada pada awal pekan ini.
Sujarwanto bilang, pihaknya memberikan sertifikat sanitasi produk hewan (KH.10) sebagai bukti bahwa produk yang diekspor telah memenuhi persyaratan teknis kesehatan dan aman dikonsumsi.
Pihaknya juga memberikan jaminan keamanan prosesing dan membuka akses pasar antara negara dengan negara. "Saat ini Badan Karantina memfasilitasi pemasaran produk unggas ini khususnya kepada negara-negara yang kami pandang dapat menerima produk kita,"ujarnya, Selasa (14/3).
Ia mengatakan Kemtan menjalin kesepakatan dengan negara lain untuk berbagai persyaratan. Sujarwanto mengakui kasus masuk dan merebaknya flu burung pada tahun 2003 menjadi pelajaran yang berharga baginya. Sebab kasus tersebut sangat berdampak bagi perekonomian Indonesia bahkan terhadap kesehatan manusia yang dapat tertular penyakit flu burung (zoonosis).
Selama Indonesia masih belum bisa mengendalikan virus flu burung, selama itu pula Indonesia akan terkekang dari ekonomi dagang unggas. Pasalnya, sejak memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Indonesia belum bisa mengekspor hasil unggas karena belum dinyatakan bebas dari penyebaran virus tersebut.
Namun saat ini, dengan adanya ekspor, ada pengakuan dari negara tujuan kalau Indonesia mampu mengendalikan peredaran penyakit flu burung. Posisi ini penting untuk memanfaatkan peluang pasar ekspor.
Mat Syukur, staf ahli Menteri Pertanian bidang Inovasi dan Teknologi Pertanian menambahkan, secara resmi melepas ekspor perdana produk ayam olahan Indonesia ke Papua Nugini. Produk ayam olahan Indonesia kembali diekspor untuk kali perdana setelah vakum sejak tahun 2003 saat terjadi wabah Flu Burung (Avian Influensa) di tanah air. Sebanyak 5.999,25 Kg dalam 1000 karton milik PT. Charoen Pokphand Indonesia, telah siap untuk dikapalkan ke negara tujuan.
sumber : industri.kontan.co.id
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

