Ang Tshering Nekat Melawan Perintah Pemerintah Demi Evakuasi Sahabat di Everest
BAYANGKAN anda berdiri di ketinggian 5.800 meter, di salah satu titik paling mematikan di dunia: Khumbu Icefall, Everest. Jam menunjukkan pukul 06.45 pagi pada tanggal 18 April 2014. Tiba-tiba, alam murka. Sebuah bongkahan es raksasa seberat 14 juta ton runtuh seketika.
Hari itu mencatatkan sejarah kelam sebagai hari paling mematikan di Everest. Sebanyak 16 pemandu lokal (Sherpa) tewas terkubur hidup-hidup saat memasang tali demi jalur pendakian komersial.
Sementara itu, para turis asing masih asyik menyeruput teh hangat di Base Camp, tidak tahu bahwa tragedi besar baru saja terjadi di atas kepala mereka.
Melihat situasi yang kacau, pemerintah Nepal langsung menutup akses pendakian. Perintahnya tegas: "Tidak ada penyelamatan. Kondisi terlalu labil. Tunggu helikopter."
Namun kenyataannya, helikopter mustahil mendarat di Khumbu Icefall. Jalurnya terlalu sempit dan angin berembus terlalu kencang. Para korban dibiarkan tanpa kepastian.
Ang Tshering Sherpa (49), seorang pemandu utama, sedang memasak sarapan di wilayah Lobuche saat mendengar kabar duka tersebut melalui radio. Sepupunya dan 12 teman dekat yang sudah mendaki bersamanya selama 20 tahun berada di bawah reruntuhan es tersebut.
Tanpa ragu, Ang Tshering meletakkan sudip masaknya. Ia mengambil sekop, tali, dan sebotol teh asin hangat, lalu berjalan kaki selama 4 jam menuju Base Camp.
Sesampainya di sana, seorang tentara menghadangnya: "Perintah mengatakan tidak ada yang boleh naik. Longsor susulan bisa membunuhmu."
Jawaban Ang Tshering sangat menggetarkan hati: "Kalau begitu, tubuhku akan berada di sebelah tubuhnya."
Ang Tshering melangkah maju sendirian. Tanpa tabung oksigen tambahan, tanpa tim penyelamat di belakangnya. Di sekelilingnya, dinding es Khumbu terus berderit dan retak, siap runtuh kapan saja.
Dalam satu jam pertama, ia menemukan tiga jenazah. Saat sekopnya menghantam es batu yang keras, ia menggali dengan tangan telanjang. Ia menandai posisi mereka dengan bendera doa Tibet agar helikopter bisa mengevakuasinya nanti.
Hingga akhirnya, ia menemukan Pasang. Sahabatnya itu masih hidup, terkubur hingga leher dengan kaki yang hancur dan tubuh yang membeku akibat hipotermia.
Selama 2 jam penuh, Ang Tshering menggali es demi mengeluarkan tubuh sahabatnya itu. Ia menyuapkan teh asin hangat, mengikat tubuh Pasang ke punggungnya, dan mulai turun ke bawah.
Jalur turun yang biasanya hanya memakan waktu 45 menit berubah menjadi perjuangan hidup dan mati selama 6 jam. Setiap kali melangkah, es di bawah kaki mereka bergemuruh hebat.
Pasang sempat pingsan dua kali. Untuk menjaga sahabatnya tetap sadar, Ang Tshering terus bernyanyi sepanjang jalan—menyanyikan lagu-lagu kerja tradisional Khumbu kuno.
Mereka berhasil mencapai Base Camp dengan selamat. Meski Pasang harus kehilangan satu kakinya akibat luka parah, nyawanya berhasil terselamatkan.
Pascatragedi tersebut, Nepal melarang total aktivitas pendakian pada musim itu. Ironisnya, Ang Tshering justru dijatuhi denda oleh pemerintah karena dianggap melanggar perintah penutupan.
Namun, dedikasi dan ketulusannya tidak sia-sia. Sebagai bentuk rasa hormat yang mendalam, 16 keluarga korban longsor tersebut patungan mengumpulkan upah mereka untuk membayar denda Ang Tshering.
Kisah Ang Tshering adalah bukti nyata bahwa di gunung, tempat di mana oksigen begitu menipis, rasa kemanusiaan dan kesetiaan justru tumbuh paling tebal. (jacko agun)
