Serang Iran Lagi, di KTT NATO Trump Umumkan Gencatan Senjata Berakhir
JELANG hari terakhir KTT NATO, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membawa kejutan bagi para pemimpin Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang berkumpul di Ankara, Turki, dengan melancarkan serangan ke Iran pada Selasa (7/7) malam, serta mencabut izin yang memungkinkan Teheran menjual minyaknya di pasar dunia.
"Gencatan senjata dengan Iran telah berakhir," kata dia, seperti dilansir AFP. Perkembangan ini mengubah arah pembahasan KTT NATO yang semula difokuskan pada peningkatan belanja pertahanan negara-negara anggota dan dukungan bagi Ukraina dalam menghadapi Rusia.
Serangan teranyar AS merupakan balasan setelah tiga kapal dagang diserang di Selat Hormuz. Aksi itu sekaligus memperlihatkan rapuhnya kesepakatan sementara yang mengakhiri konflik berbulan-bulan antara Amerika Serikat dan Iran.
Trump memerintahkan serangan sesaat setelah meninggalkan jamuan makan malam yang digelar Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersama para pemimpin dari 32 negara anggota NATO menjelang sidang utama pada Rabu (8/7).
Trump tidak secara langsung menyinggung serangan itu pada Selasa malam. Jarang terjadi seorang presiden Amerika Serikat memerintahkan operasi militer ketika berada di luar negeri. Salah satu pengecualian terjadi pada 2011, ketika Presiden Barack Obama menyetujui serangan ke Libya saat berkunjung ke Brasil.
Sejumlah sekutu Eropa dan Kanada sebelumnya mengkhawatirkan Trump akan kembali melontarkan keluhan terkait perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran—konflik yang tidak pernah mereka diajak bahas sebelumnya.
Trump sempat menuntut "loyalitas" dari sekutu-sekutunya dan menyebut NATO sebagai "macan kertas" setelah beberapa negara menolak memberikan akses penuh ke pangkalan militer mereka bagi pasukan Amerika Serikat untuk menyerang Iran.
Dalam pertemuan dengan Erdogan pada Selasa, Trump mengatakan permintaannya kepada negara-negara NATO untuk membantu perang melawan Iran merupakan bentuk ujian terhadap kesetiaan para sekutu.
Dia menuduh sejumlah negara Eropa menolak memberikan akses wilayah udara dan pangkalan militernya kepada pasukan Amerika Serikat selama perang berlangsung.
"Italia menolak kami, Jerman menolak kami, dan Prancis juga menolak kami," kata Trump. "Tidak apa-apa. Tetapi mengapa kami menghabiskan ratusan miliar dolar sementara mereka tidak berada di pihak kami?"
Sebaliknya, para pejabat Eropa menyatakan mereka umumnya tetap menghargai komitmen kepada AS, meski tidak diajak berkonsultasi soal konflik yang turut mengguncang perekonomiannya sendiri.
KTT NATO dirancang sebagai ajang untuk mendemonstrasikan kesatuan aliansi Transatlantik. Pesan itu menjadi semakin penting ketika Rusia melanjutkan invasinya ke Ukraina, dan masih menebar ancaman di Eropa.
Bulan lalu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mendatangi Washington untuk meredakan ketegangan dengan Trump. Dia memuji apa yang disebutnya sebagai "Trump Trillion", yakni tambahan belanja pertahanan sebesar US$ 1,2 triliun yang dikucurkan negara-negara Eropa dan Kanada, sejak Trump pertama kali menjabat pada 2017.
Setibanya para pemimpin NATO di Ankara pada Selasa, dia menggelar acara khusus untuk memamerkan berbagai kontrak pembelian persenjataan yang akan didanai Eropa.
Sebagian besar kontrak pembelian diberikan kepada perusahaan-perusahaan AS, yang diharapkan akan menciptakan ribuan lapangan kerja bagi warga Amerika.
Rutte juga membela serangan teranyar AS ke Iran. Menurutnya, tindakan Trump "mutlak diperlukan" karena Iran dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.
"Ketika gencatan senjata berlaku dan Iran pada dasarnya melanggarnya, sangat penting bagi Amerika Serikat untuk merespons secara tegas," kata dia, seperti dilansir Reuters.
Para diplomat NATO berharap upaya pendekatan tersebut dapat memuaskan Trump. Namun, sang presiden bersikeras pada kritiknya.
