Logo Porosbumi
16 Mar 2026,
16 March 2026
LIVE TV

Antarktika Menangis, Es Seluas 10 Kota Los Angeles Lenyap dalam 3 Dekade

Reporter: Yani Andriyansyah 16 Mar 2026, 10:42:29 WIB
Antarktika Menangis, Es Seluas 10 Kota Los Angeles Lenyap dalam 3 Dekade
Antarktika telah kehilangan daratan es seluas puluhan ribu kilometer persegi selama tiga dekade terakhir (Unsplash/Cassie Matias)

Antarktika, benua es yang megah di ujung dunia, selama puluhan tahun seolah menjadi penjaga rahasia iklim global. Namun, sebuah studi baru yang mencengangkan, menganalisis data selama 30 tahun, kini membuka tabir, perlahan tapi pasti, es di sepanjang garis pantainya yang luas kini lindap. Angkanya benar-benar bikin kita tertegun.


Bayangkan, Antarktika telah kehilangan daratan es seluas 12.820 kilometer persegi selama tiga dekade terakhir. Angka itu setara 10 kota Greater Los Angeles yang lenyap. Rata-rata, setiap tahunnya, benua beku ini kehilangan sekitar 442 kilometer persegi daratan es. Sebuah angka yang bukan main-main.


Tim ilmuwan yang dipimpin para peneliti dari Universitas California, Irvine, melakukan pekerjaan luar biasa. Mereka berhasil membuat peta paling terperinci tentang bagaimana garis dasar lapisan es Antarktika—batas krusial di mana es daratan bertemu dengan lautan dan mulai mengapung—telah bergeser sejak pertengahan 1990-an. Melacak garis ini seperti mengukur denyut nadi gletser, memberi tahu kita apakah sedang stabil atau, sayangnya, dalam bahaya kemunduran.


Data ini dikumpulkan dari tiga dekade pengamatan radar satelit dari berbagai misi luar angkasa internasional, mulai dari Eropa hingga Jepang dan bahkan satelit komersial. Sebuah upaya kolaboratif global untuk memahami perubahan di kutub selatan.


Hasil studi, yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Proceedings of the National Academy of Sciences, menunjukkan bahwa 77 persen garis pantai Antarktika sebenarnya tetap stabil sejak 1996. Ini adalah secercah harapan, mengindikasikan bahwa benua ini belum bereaksi di setiap titik terhadap kondisi pemanasan.


Namun, sisa 23 persen lainnya menceritakan kisah yang jauh berbeda dan jauh lebih mengkhawatirkan. Wilayah-wilayah seperti Antarktika Barat, Semenanjung Antarktika, dan beberapa bagian Antarktika Timur menunjukkan kehilangan es yang dramatis.

Gletser-gletser raksasa di Antarktika Barat adalah contoh paling nyata. Gletser Pulau Pine telah mundur sekitar 33 kilometer, Gletser Thwaites mundur 26 kilometer, dan yang paling menakjubkan, Gletser Smith telah menyusut sejauh 42 kilometer selama periode studi ini. Ini adalah lubang dalam yang disinggung oleh peneliti utama studi, Eric Rignot. Ini seperti balon yang tidak tertusuk di mana-mana. Tapi di tempat itu tertusuk, lubangnya dalam,” kata Rignot.


Para ilmuwan meyakini bahwa pemicu utama di balik kemunduran gletser-gletser ini adalah air laut hangat yang diam-diam merayap mencapai dasar gletser. Angin dapat mendorong massa air hangat ini ke arah garis pantai Antarktika, menggerogoti es dari bawah.


Menariknya, ada beberapa misteri yang masih tersisa. Di timur laut Semenanjung Antarktika, beberapa gletser telah mundur secara signifikan meskipun para ilmuwan belum mendeteksi air laut hangat yang biasanya menjadi biang keladi. Penjelasan untuk fenomena ini masih terus dicari.


Peta baru pergerakan garis dasar ini adalah alat yang sangat berharga yang akan membantu para ilmuwan menyempurnakan model-model prediksi kenaikan permukaan laut di masa depan. Semakin akurat model ini, semakin baik kita dapat bersiap menghadapi dampak perubahan iklim.


Namun, ada peringatan keras, meskipun sebagian besar Antarktika masih stabil, para ilmuwan menekankan bahwa situasi ini bisa berubah sewaktu-waktu. Jika lebih banyak bagian benua ini mulai mundur pada tingkat yang sama mengkhawatirkannya, konsekuensinya terhadap permukaan laut global bisa menjadi jauh lebih serius dan tak terelakkan di masa depan. Antarktika telah memberi peringatan, kini terserah kita untuk menyikapinya.

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar