Asumsi Aman Lima Wartawan Hilang Kontak di Perairan Gunung Anak Krakatau
HENDRI IRAWAN
Pemimpin Redaksi porosbumi.com
Baca Juga
RENTETAN pesan masuk pada Selasa (8/9/2026) siang itu, di
salah satu grup WA (WAG) wartawan yang ada di handphone saya. Sesaat tercekat
bahkan seolah tak percaya dengan pesan WA yang diterima. Isinya mengabarkan speedboat
yang ditumpangi lima wartawan foto plus dua kru kapal dan 1 guide, hilang
kontak (lost contact) di perairan Gunung Anak Krakatau (GAK), Selat
Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Perlahan rasa sedih dan gundah
bergelayut setelah membaca satu persatu nama-nama lima wartawan foto, yang salah
satunya sangat saya kenal baik. Yudhistiro Pranoto, koordinator foto Inews Media
Grup. Sontak, pesan yang diterima langsung saya teruskan ke sejumlah WAG jaringan
relawan SAR, wartawan, komunitas Pencinta Alam, termasuk tentunya WAG wartawan
di Banten.
Tak lama, sebuah info
melegakan datang dari salah seorang teman yang tergabung di WAG wartawan di
Banten. Isi pesannya “Sdh ada komunikasi. Sore ini rencana sdh pulang. Tdk bisa
dihubungi krn sinyal Hp sulit”. Karena kabar baik, tanpa pikir panjang, pesan itu
langsung saya teruskan ke mana-mana, yang seketika dibalas rasa syukur dan
ucapan alhamdulillah…
Yang melegakan lagi, sebuah
portal berita mengangkat judul tegas, “Sempat Hilang Kontak, 5 Wartawan di
Krakatau Pulang Sore Ini”. Dalam berita menyebutkan, kelima wartawan bukan
hilang, melainkan masih berada di kawasan Krakatau setelah berangkat bersama
menggunakan speedboat dari Anyer. “Aman, aman. Mereka berangkat bareng
kemarin,” kata Tim SAR Banten, dalam keterangan, (8/9).
Masih menurut berita
yang sama dan nara sumber yang juga sama, mengatakan bahwa speedboat
yang digunakan rombongan merupakan milik rekan mereka. Begitu pula dengan pihak
yang mengoperasikan kapal tersebut. “Pakai kapalnya punya teman, gaetnya teman,
kaptennya teman. Semalam nginep di daerah Krakatau.”
Pentingnya Berita
yang Terukur dan Respon Cepat Pencarian
Pada Selasa (8/9/2026) dan
sampai hari ini, ramai berita berseliweran mewartakan, lima
jurnalis berikut dua kru kapal dan satu orang pemandu hilang kontak saat
melakukan perjalanan menggunakan speedboat di perairan sekitar
Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda.
Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Banten,
pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka menggunakan sebuah speedboat menuju
kawasan perairan Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan kronologi yang disampaikan
Basarnas, komunikasi terakhir terjadi pada pukul 14.42 WIB. Salah satu jurnalis
sempat membagikan titik lokasi kepada anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI)
Putra M Akbar, yang berada di Lampung.
Lokasi terakhir yang dibagikan berada di antara Carita dan Gunung Anak
Krakatau. Setelah itu, komunikasi dengan rombongan terputus hingga akhirnya
dinyatakan hilang kontak pada pukul 18.13 WIB. Lima jurnalis yang berada di
dalam kapal tersebut, yakni M Bagus Khoirunnas pewarta foto Kantor Berita
Antara, Ari Basuki pewarta foto Merdeka.com, Yudistiro Pranoto pewarta foto
iNews.id, Firdaus Wajidi jurnalis Anadolu Agency, serta Donal Husni yang
bekerja sebagai jurnalis lepas (freelance).
Sampai tulisan ini diturunkan, Tim SAR Gabungan terus
melakukan pencarian. Pada hari kedua, Rabu (9/9/2026) operasi pencarian diperluas
dengan mengerahkan tujuh Search and Rescue Unit (SRU) ke sejumlah sektor. Kepala
Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad SSos mengatakan pencarian
dilakukan secara maksimal dengan memperluas area penyisiran dan mengoptimalkan
seluruh unsur serta sarana yang tersedia.
Sejumlah SRU telah melakukan pemantauan visual di sekitar
Gunung Anak Krakatau dan Rakata Besar. Namun, hingga laporan diterima, seluruh
penyisiran masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan delapan orang yang
dicari (5 wartawan, 2 kru kapal, dan 1 guide). Di hari ketiga pencarian,
Kamis (10/9/2026) PFI Pusat meminta Tim SAR melakukan pencarian ke pulau-pulau
kecil terdekat.
Setiap detail informasi dalam operasi SAR (Search and
Rescue) memiliki nilai yang sangat besar, karena sekecil apa pun petunjuk bisa
menjadi penentu antara hidup dan mati seseorang. Dalam misi penyelamatan,
informasi bagaikan kepingan teka-teki; satu bagian kecil yang tampaknya tidak
penting bisa membuka jalan untuk menemukan lokasi korban secara tepat.
Mengapa informasi sekecil apa pun sangat krusial dalam
operasi SAR? Sudah sangat mahfum, lautan luas, hutan lebat serta medan gunung
yang curam dan terjal tentu sangat sulit dijelajahi tanpa arah. Petunjuk kecil
seperti barang yang terjatuh, jejak kaki, atau kesaksian warga membantu tim
mempersempit koordinat pencarian secara signifikan.
Korban kecelakaan atau orang hilang memiliki waktu bertahan
hidup yang terbatas. Informasi yang valid dan cepat didapat akan memangkas
waktu analisis, sehingga tim bisa langsung bergerak ke titik yang paling
potensial.
Belum lagi operasi SAR yang membutuhkan banyak personel,
bahan bakar, dan armada (seperti helikopter atau kapal). Sehingga petunjuk yang
jelas memastikan alokasi penolong dan peralatan penyelamatan menjadi lebih
efektif dan tidak terbuang sia-sia. Jejak sekecil apa pun membantu para ahli
SAR dan navigator untuk memprediksi arah pergerakan korban (survivor), baik
karena terbawa arus air, angin, maupun ke arah mana korban kemungkinan
berjalan.
Bagi tim SAR, tidak ada informasi yang terlalu kecil jika
itu berkaitan dengan keselamatan nyawa manusia. Apalagi jika sudah ada laporan
dan dugaan awal. Begitu juga berita akurat yang terukur dan terkonfirmasi yang
dibuat oleh para jurnalis, mesti satu tarikan nafas dengan respon cepat dalam
sebuah operasi SAR, dalam hal ini kasus lima wartawan yang hilang kontak saat
meliput di perairan Gunung Anak Krakatau.
Berita dengan nara sumber Basarnas Banten yang dimuat salah
satu portal berita, yang menyebutkan lima wartawan dalam kondisi aman dan sudah
pulang tanpa melihat kondisi fisik sebenarnya, tentu sebuah kesalahan besar. Ini
sama halnya dengan berita sumir, lebih bersifat asumsi. Karena menganggap semuanya
aman dan baik-baik saja, akibatnya ada jeda cukup lama bahkan hampir 24 jam
jeda waktu yang terbuang.
Diketahui, lima wartawan hilang kontak pada Senin (7/9), sekitar
pukul 15.00 WIB. Sementara operasi SAR baru dimulai Selasa (8/9) siang. Dalam
dunia penyelamatan, setiap detik sangat berharga karena kondisi di lapangan, terutama
di kawasan aktif seperti Gunung Anak Krakatau bisa berubah drastis dalam
hitungan menit.
Mengapa asumsi "aman" sangat berbahaya? Karena ancaman
lingkungan ekstrem di kawasan Anak Gunung Krakatau memiliki risiko tinggi
terkait gas beracun, aktivitas vulkanik, cuaca laut yang tidak menentu, serta
dehidrasi parah. Asumsi bahwa rombongan wartawan yang hilang kontak aman, bisa
mengurangi urgensi tim dalam bergerak.
Golden hour (waktu emas) serta peluang keselamatan rombongan
wartawan yang hilang kontak, tentu akan menurun drastis seiring berjalannya
waktu. Cidera fisik, hipotermia, atau ketiadaan air bersih bisa mengubah status
mereka dari "selamat" menjadi "kritis" dengan cepat.
Efek psikologis rombongan wartawan yang terisolasi di tengah
luasnya lautan, juga akan mengalami tekanan berat (survival stress). Hal ini
bisa memicu keputusan berbahaya, akhirnya nekat dan makin memperburuk situasi
mereka.
Asumsi aman juga membuat bias optimisme yang melenakan. Jika
semua unsur terkait menganggap kasus ini baik-baik saja, pengerahan alutsista
dan personel bisa melambat, yang berisiko menunda evakuasi medis yang krusial. Setiap
operasi penyelamatan harus selalu memperlakukan situasi dengan tingkat urgensi
tertinggi (worst-case scenario) sampai kelima wartawan berikut dua kru kapal
dan 1 guide benar-benar ditemukan dan dievakuasi oleh tim medis.
Tidak Ada Berita Seharga Nyawa
Peristiwa lima wartawan yang hilang kontak saat meliput di
perairan Gunung Anak Krakatau menjadi alarm keras yang memberikan banyak
pelajaran penting bagi insan jurnalis terutama organisasi wartawan mengenai
manajemen keselamatan kerja. Kejadian ini menegaskan bahwa dalam jurnalisme,
"tidak ada berita seharga nyawa."
Meskipun Dewan Pers telah menerbitkan aturan seperti
Peraturan Dewan Pers No. 03/Peraturan-DP/IV/2024 mengenai peliputan di wilayah
bencana, implementasinya di lapangan masih perlu diperketat. Organisasi dan
perusahaan pers wajib memastikan bahwa jurnalis tidak diterjunkan ke area
berbahaya tanpa analisis risiko yang matang.
Jika tingkat bahaya erupsi atau cuaca laut terlalu tinggi,
penugasan harus ditunda demi keselamatan. Juga memastikan jurnalis dibekali
Alat Pelindung Diri (APD) standar bencana, termasuk pelampung keselamatan (life
jacket) yang wajib dipakai selama berada di perairan.
Dewan Pers dan organisasi wartawan harus mendesak seluruh
perusahaan media untuk menerapkan Pedoman Perilaku Peliputan Bencana dan
Krisis, yang mewajibkan penyediaan protokol keamanan, APD, serta jaminan
perlindungan yang sama bagi kontributor dan pekerja lepas. Apalagi, setiap
peliputan di wilayah krisis atau bencana memiliki risiko fatal.
Organisasi wartawan seperti AJI, PWI, atau IJTI juga perlu
lebih masif dalam menyelenggarakan pelatihan keselamatan peliputan alam dan
krisis secara berkala. Wartawan perlu dibekali kemampuan membaca navigasi
dasar, memahami mitigasi kebencanaan vulkanik, serta tahu kapan harus mengambil
keputusan untuk mundur demi keselamatan.
Dalam peliputan di wilayah minim sinyal seperti Selat Sunda,
ketergantungan pada jaringan seluler biasa sangat berisiko. Perusahaan media
dan organisasi pers ke depan perlu mempertimbangkan penyediaan alat komunikasi
berbasis satelit atau pelacak GPS berkala bagi tim yang melakukan peliputan
ekstrem guna mempermudah pelacakan jika terjadi kondisi darurat.
Pelajaran berharga dari kasus ini adalah pentingnya audit berkala oleh Dewan Pers untuk memastikan perusahaan media memberikan asuransi jiwa dan tunjangan risiko bagi wartawan yang bertugas di lapangan. Memang, semua keputusan atas takdir dan nasib manusia ada di tangan Yang Kuasa. Namun risiko bagi wartawan yang dikirim ke area berbahaya, kerap menjadi keniscayaan yang harus dijalani dalam sebuah aktivitas peliputan.
