Logo Porosbumi
10 Sep 2026,
10 September 2026
LIVE TV

Asumsi Aman Lima Wartawan Hilang Kontak di Perairan Gunung Anak Krakatau

PorosBumi 10 Sep 2026, 10:51:44 WIB
Asumsi Aman Lima Wartawan Hilang Kontak di Perairan Gunung Anak Krakatau

HENDRI IRAWAN

Pemimpin Redaksi porosbumi.com

 

RENTETAN pesan masuk pada Selasa (8/9/2026) siang itu, di salah satu grup WA (WAG) wartawan yang ada di handphone saya. Sesaat tercekat bahkan seolah tak percaya dengan pesan WA yang diterima. Isinya mengabarkan speedboat yang ditumpangi lima wartawan foto plus dua kru kapal dan 1 guide, hilang kontak (lost contact) di perairan Gunung Anak Krakatau (GAK), Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Perlahan rasa sedih dan gundah bergelayut setelah membaca satu persatu nama-nama lima wartawan foto, yang salah satunya sangat saya kenal baik. Yudhistiro Pranoto, koordinator foto Inews Media Grup. Sontak, pesan yang diterima langsung saya teruskan ke sejumlah WAG jaringan relawan SAR, wartawan, komunitas Pencinta Alam, termasuk tentunya WAG wartawan di Banten.

Tak lama, sebuah info melegakan datang dari salah seorang teman yang tergabung di WAG wartawan di Banten. Isi pesannya “Sdh ada komunikasi. Sore ini rencana sdh pulang. Tdk bisa dihubungi krn sinyal Hp sulit”. Karena kabar baik, tanpa pikir panjang, pesan itu langsung saya teruskan ke mana-mana, yang seketika dibalas rasa syukur dan ucapan alhamdulillah

Yang melegakan lagi, sebuah portal berita mengangkat judul tegas, “Sempat Hilang Kontak, 5 Wartawan di Krakatau Pulang Sore Ini”. Dalam berita menyebutkan, kelima wartawan bukan hilang, melainkan masih berada di kawasan Krakatau setelah berangkat bersama menggunakan speedboat dari Anyer. “Aman, aman. Mereka berangkat bareng kemarin,” kata Tim SAR Banten, dalam keterangan, (8/9).

Masih menurut berita yang sama dan nara sumber yang juga sama, mengatakan bahwa speedboat yang digunakan rombongan merupakan milik rekan mereka. Begitu pula dengan pihak yang mengoperasikan kapal tersebut. “Pakai kapalnya punya teman, gaetnya teman, kaptennya teman. Semalam nginep di daerah Krakatau.”

 

Pentingnya Berita yang Terukur dan Respon Cepat Pencarian

Pada Selasa (8/9/2026) dan sampai hari ini, ramai berita berseliweran mewartakan, lima jurnalis berikut dua kru kapal dan satu orang pemandu hilang kontak saat melakukan perjalanan menggunakan speedboat di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda.

Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka menggunakan sebuah speedboat menuju kawasan perairan Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan kronologi yang disampaikan Basarnas, komunikasi terakhir terjadi pada pukul 14.42 WIB. Salah satu jurnalis sempat membagikan titik lokasi kepada anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) Putra M Akbar, yang berada di Lampung.

Lokasi terakhir yang dibagikan berada di antara Carita dan Gunung Anak Krakatau. Setelah itu, komunikasi dengan rombongan terputus hingga akhirnya dinyatakan hilang kontak pada pukul 18.13 WIB. Lima jurnalis yang berada di dalam kapal tersebut, yakni M Bagus Khoirunnas pewarta foto Kantor Berita Antara, Ari Basuki pewarta foto Merdeka.com, Yudistiro Pranoto pewarta foto iNews.id, Firdaus Wajidi jurnalis Anadolu Agency, serta Donal Husni yang bekerja sebagai jurnalis lepas (freelance).

Sampai tulisan ini diturunkan, Tim SAR Gabungan terus melakukan pencarian. Pada hari kedua, Rabu (9/9/2026) operasi pencarian diperluas dengan mengerahkan tujuh Search and Rescue Unit (SRU) ke sejumlah sektor. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad SSos mengatakan pencarian dilakukan secara maksimal dengan memperluas area penyisiran dan mengoptimalkan seluruh unsur serta sarana yang tersedia.

Sejumlah SRU telah melakukan pemantauan visual di sekitar Gunung Anak Krakatau dan Rakata Besar. Namun, hingga laporan diterima, seluruh penyisiran masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan delapan orang yang dicari (5 wartawan, 2 kru kapal, dan 1 guide). Di hari ketiga pencarian, Kamis (10/9/2026) PFI Pusat meminta Tim SAR melakukan pencarian ke pulau-pulau kecil terdekat.

Setiap detail informasi dalam operasi SAR (Search and Rescue) memiliki nilai yang sangat besar, karena sekecil apa pun petunjuk bisa menjadi penentu antara hidup dan mati seseorang. Dalam misi penyelamatan, informasi bagaikan kepingan teka-teki; satu bagian kecil yang tampaknya tidak penting bisa membuka jalan untuk menemukan lokasi korban secara tepat.

Mengapa informasi sekecil apa pun sangat krusial dalam operasi SAR? Sudah sangat mahfum, lautan luas, hutan lebat serta medan gunung yang curam dan terjal tentu sangat sulit dijelajahi tanpa arah. Petunjuk kecil seperti barang yang terjatuh, jejak kaki, atau kesaksian warga membantu tim mempersempit koordinat pencarian secara signifikan.

Korban kecelakaan atau orang hilang memiliki waktu bertahan hidup yang terbatas. Informasi yang valid dan cepat didapat akan memangkas waktu analisis, sehingga tim bisa langsung bergerak ke titik yang paling potensial.

Belum lagi operasi SAR yang membutuhkan banyak personel, bahan bakar, dan armada (seperti helikopter atau kapal). Sehingga petunjuk yang jelas memastikan alokasi penolong dan peralatan penyelamatan menjadi lebih efektif dan tidak terbuang sia-sia. Jejak sekecil apa pun membantu para ahli SAR dan navigator untuk memprediksi arah pergerakan korban (survivor), baik karena terbawa arus air, angin, maupun ke arah mana korban kemungkinan berjalan.

Bagi tim SAR, tidak ada informasi yang terlalu kecil jika itu berkaitan dengan keselamatan nyawa manusia. Apalagi jika sudah ada laporan dan dugaan awal. Begitu juga berita akurat yang terukur dan terkonfirmasi yang dibuat oleh para jurnalis, mesti satu tarikan nafas dengan respon cepat dalam sebuah operasi SAR, dalam hal ini kasus lima wartawan yang hilang kontak saat meliput di perairan Gunung Anak Krakatau.

Berita dengan nara sumber Basarnas Banten yang dimuat salah satu portal berita, yang menyebutkan lima wartawan dalam kondisi aman dan sudah pulang tanpa melihat kondisi fisik sebenarnya, tentu sebuah kesalahan besar. Ini sama halnya dengan berita sumir, lebih bersifat asumsi. Karena menganggap semuanya aman dan baik-baik saja, akibatnya ada jeda cukup lama bahkan hampir 24 jam jeda waktu yang terbuang.

Diketahui, lima wartawan hilang kontak pada Senin (7/9), sekitar pukul 15.00 WIB. Sementara operasi SAR baru dimulai Selasa (8/9) siang. Dalam dunia penyelamatan, setiap detik sangat berharga karena kondisi di lapangan, terutama di kawasan aktif seperti Gunung Anak Krakatau bisa berubah drastis dalam hitungan menit.

Mengapa asumsi "aman" sangat berbahaya? Karena ancaman lingkungan ekstrem di kawasan Anak Gunung Krakatau memiliki risiko tinggi terkait gas beracun, aktivitas vulkanik, cuaca laut yang tidak menentu, serta dehidrasi parah. Asumsi bahwa rombongan wartawan yang hilang kontak aman, bisa mengurangi urgensi tim dalam bergerak.

Golden hour (waktu emas) serta peluang keselamatan rombongan wartawan yang hilang kontak, tentu akan menurun drastis seiring berjalannya waktu. Cidera fisik, hipotermia, atau ketiadaan air bersih bisa mengubah status mereka dari "selamat" menjadi "kritis" dengan cepat.

Efek psikologis rombongan wartawan yang terisolasi di tengah luasnya lautan, juga akan mengalami tekanan berat (survival stress). Hal ini bisa memicu keputusan berbahaya, akhirnya nekat dan makin memperburuk situasi mereka.

Asumsi aman juga membuat bias optimisme yang melenakan. Jika semua unsur terkait menganggap kasus ini baik-baik saja, pengerahan alutsista dan personel bisa melambat, yang berisiko menunda evakuasi medis yang krusial. Setiap operasi penyelamatan harus selalu memperlakukan situasi dengan tingkat urgensi tertinggi (worst-case scenario) sampai kelima wartawan berikut dua kru kapal dan 1 guide benar-benar ditemukan dan dievakuasi oleh tim medis.

 

Tidak Ada Berita Seharga Nyawa

Peristiwa lima wartawan yang hilang kontak saat meliput di perairan Gunung Anak Krakatau menjadi alarm keras yang memberikan banyak pelajaran penting bagi insan jurnalis terutama organisasi wartawan mengenai manajemen keselamatan kerja. Kejadian ini menegaskan bahwa dalam jurnalisme, "tidak ada berita seharga nyawa."

Meskipun Dewan Pers telah menerbitkan aturan seperti Peraturan Dewan Pers No. 03/Peraturan-DP/IV/2024 mengenai peliputan di wilayah bencana, implementasinya di lapangan masih perlu diperketat. Organisasi dan perusahaan pers wajib memastikan bahwa jurnalis tidak diterjunkan ke area berbahaya tanpa analisis risiko yang matang.

Jika tingkat bahaya erupsi atau cuaca laut terlalu tinggi, penugasan harus ditunda demi keselamatan. Juga memastikan jurnalis dibekali Alat Pelindung Diri (APD) standar bencana, termasuk pelampung keselamatan (life jacket) yang wajib dipakai selama berada di perairan.

Dewan Pers dan organisasi wartawan harus mendesak seluruh perusahaan media untuk menerapkan Pedoman Perilaku Peliputan Bencana dan Krisis, yang mewajibkan penyediaan protokol keamanan, APD, serta jaminan perlindungan yang sama bagi kontributor dan pekerja lepas. Apalagi, setiap peliputan di wilayah krisis atau bencana memiliki risiko fatal.

Organisasi wartawan seperti AJI, PWI, atau IJTI juga perlu lebih masif dalam menyelenggarakan pelatihan keselamatan peliputan alam dan krisis secara berkala. Wartawan perlu dibekali kemampuan membaca navigasi dasar, memahami mitigasi kebencanaan vulkanik, serta tahu kapan harus mengambil keputusan untuk mundur demi keselamatan.

Dalam peliputan di wilayah minim sinyal seperti Selat Sunda, ketergantungan pada jaringan seluler biasa sangat berisiko. Perusahaan media dan organisasi pers ke depan perlu mempertimbangkan penyediaan alat komunikasi berbasis satelit atau pelacak GPS berkala bagi tim yang melakukan peliputan ekstrem guna mempermudah pelacakan jika terjadi kondisi darurat.

Pelajaran berharga dari kasus ini adalah pentingnya audit berkala oleh Dewan Pers untuk memastikan perusahaan media memberikan asuransi jiwa dan tunjangan risiko bagi wartawan yang bertugas di lapangan. Memang, semua keputusan atas takdir dan nasib manusia ada di tangan Yang Kuasa. Namun risiko bagi wartawan yang dikirim ke area berbahaya, kerap menjadi keniscayaan yang harus dijalani dalam sebuah aktivitas peliputan.  

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```