BRIN Perjuangkan Akses Orbit dan Peran Strategis Indonesia di Forum PBB
BADAN Riset dan Inovasi Nasional
(BRIN) terus memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi antariksa global
melalui partisipasi aktif dalam UN Committee on the Peaceful Uses of Outer
Space (UNCOPUOS) 2026. Forum internasional ini menjadi arena strategis bagi negara-negara
untuk membahas tata kelola ruang angkasa, termasuk akses orbit satelit dan
pemanfaatan teknologi antariksa secara berkelanjutan.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN,
Robertus Heru Triharjanto, menegaskan bahwa BRIN memiliki mandat sebagai
penyelenggara kegiatan keantariksaan nasional sekaligus perwakilan Indonesia di
forum internasional. Dalam konteks tersebut, BRIN berperan dalam pendaftaran
seluruh objek antariksa milik Indonesia, baik dari pemerintah, swasta, maupun
perguruan tinggi.
Menurut Heru, Indonesia juga dikenal sebagai salah satu
negara yang aktif memperjuangkan kepentingan negara berkembang (Global South)
dalam forum keantariksaan global. "BRIN juga menjadi rujukan dalam
pemanfaatan data penginderaan jauh berbasis satelit untuk mendukung pembangunan
di kawasan Asia Pasifik," ujar Heru saat diwawancarai tim Humas BRIN, Rabu
(25/03).
Baca Juga
Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan data antariksa di Indonesia
telah berlangsung sejak lama dan terus berkembang. Data citra satelit digunakan
untuk berbagai sektor strategis, mulai dari prediksi panen di sektor pertanian,
deteksi kebakaran hutan, hingga pemetaan skala rinci untuk kebutuhan
administrasi pertanahan.
Dalam konteks kebencanaan, data satelit juga telah berperan
penting dalam mitigasi dan pemulihan bencana, mulai dari tsunami Aceh 2004
hingga banjir di Aceh dan Sumatra Utara pada 2025. "Bahkan, dengan
teknologi radar, pemanfaatan data antariksa kini berkembang untuk mendukung
pengawasan perikanan dan deteksi polusi laut," lanjutnya.
Heru menambahkan bahwa ke depan, BRIN akan fokus pada
pengembangan sistem satelit penginderaan jauh sebagai sumber utama data
pembangunan nasional, serta pengembangan sistem komunikasi berbasis satelit
untuk mendukung Internet of Things (IoT), pemantauan lalu lintas, hingga sistem
peringatan dini bencana.
Sementara itu, Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Wina,
Vitto Rafael Tahar, menjelaskan bahwa partisipasi Indonesia dalam UNCOPUOS
telah berlangsung secara konsisten sejak tahun 1972. Dalam forum tersebut,
Indonesia menyampaikan posisi dan kepentingan nasional melalui delegasi yang
disiapkan oleh BRIN dan disampaikan oleh KBRI/PTRI Wina.
Menurut Vitto, konsistensi tersebut telah menempatkan
Indonesia sebagai salah satu simpul penting dalam program UN-SPIDER, yaitu
platform PBB yang menyediakan data satelit untuk penanganan bencana.
"Indonesia bahkan dipercaya untuk membantu pengolahan data penginderaan
jauh bagi negara-negara di Asia Tenggara saat terjadi bencana," ujar
Vitto.
Ia menekankan bahwa saat ini ruang angkasa tidak lagi
sekadar domain eksplorasi ilmiah, tetapi telah menjadi arena kontestasi
kepentingan global. Persaingan dalam alokasi orbit satelit dan spektrum
frekuensi kini berpengaruh langsung terhadap ekonomi digital, keamanan
nasional, dan geopolitik.
Dengan semakin banyaknya satelit yang beroperasi di orbit
rendah, seperti Starlink dan OneWeb, persaingan dalam pemanfaatan ruang angkasa
semakin ketat. Hal ini menjadikan tata kelola ruang angkasa global sebagai isu
strategis yang harus diperjuangkan secara aktif oleh negara-negara berkembang,
termasuk Indonesia.
Vitto menegaskan bahwa keterlibatan aktif Indonesia dalam
UNCOPUOS sangat penting untuk memastikan akses yang adil terhadap sumber daya
antariksa yang terbatas, khususnya orbit dan spektrum frekuensi. "Tanpa
keterlibatan tersebut, negara berkembang berisiko tertinggal dalam kompetisi
global," lanjut Vitto.
Dalam konteks ini, diplomasi antariksa menjadi instrumen
strategis untuk menjaga kepentingan nasional sekaligus memperkuat kerja sama
internasional. Indonesia tidak hanya berupaya menjadi pengguna teknologi,
tetapi juga memperkuat posisi sebagai aktor yang berperan dalam tata kelola
global.
Melalui sinergi antara BRIN dan perwakilan diplomatik
Indonesia di luar negeri, Indonesia diharapkan mampu memperkuat kapasitas
teknologi antariksa nasional. "Upaya ini sekaligus menjadi langkah
strategis dalam mendukung pembangunan ekonomi, meningkatkan daya saing global,
serta memperkuat keamanan nasional di era ekonomi dan geopolitik berbasis ruang
angkasa," pungkas Vitto. (pur)
