Logo Porosbumi
Rabu,
08 July 2026
LIVE TV

BRIN Tawarkan Solusi Peta Digital Bantu Desa Kelola Lahan

Hendri Irawan 08 Jul 2026, 14:23:48 WIB
BRIN Tawarkan Solusi Peta Digital Bantu Desa Kelola Lahan

PEMANFAATAN teknologi geospasial menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan tata kelola desa yang lebih efektif, transparan, dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Profesor Riset dari Pusat Riset Teknologi Penerbangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gunawan Setyo Prabowo dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) “Peta Digital Desa Gobang dan Keuntungannya” di Desa Gobang, Kabupaten Bogor, Senin (15/6).

Gunawan menyampaikan bahwa peta digital presisi tidak hanya sebagai media visualisasi wilayah, tetapi juga instrumen strategis untuk pengambilan keputusan berbasis data untuk pembangunan desa. Melalui pemetaan berbasis drone dan informasi geospasial, pemerintah desa memperoleh gambaran kondisi wilayah yang lebih akurat dibandingkan peta indikatif.

Perbandingan antara peta indikatif yang tersedia dengan peta hasil pemetaan drone di Desa Gobang. Pertanyaan utama yang mengemuka adalah bagaimana peta indikatif dapat ditingkatkan menjadi peta definitif yang mampu menggambarkan kondisi riil di lapangan secara lebih akurat.

Menurut Gunawan, peta presisi memungkinkan identifikasi berbagai karakteristik wilayah, mulai dari aspek lingkungan, ekonomi, hingga perkembangan kawasan permukiman. Informasi tersebut menjadi fondasi penting dalam penyusunan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran serta berorientasi pada keberlanjutan.

Dalam pemetaan Desa Gobang, kondisi wilayah dianalisis menggunakan tiga komponen utama, yakni Indeks Lingkungan/Ekologi (IEKO) sebesar 0,523 yang mencerminkan keberadaan hutan alami, semak alami, serta kawasan hutan lindung sebagai penyangga ekosistem. Selanjutnya, Indeks Produksi Ekonomi (IPROD) sebesar 0,208 yang mencakup pemanfaatan lahan untuk sawah, ladang, perkebunan, perikanan, dan aktivitas produktif lainnya.

Adapun Indeks Sosial/Urbanisasi (IURB) sebesar 0,094 menggambarkan tingkat pembangunan permukiman, rumah, gedung, serta infrastruktur lainnya. Ketiga indikator tersebut kemudian diintegrasikan dalam Indeks Keberlanjutan Spasial Desa (IKSD) dengan formula IKSD = 0,4 (IEKO) + 0,3 (IPROD) + 0,3 (1 − IURB).

Pendekatan ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai keseimbangan antara pelestarian lingkungan, produktivitas ekonomi, dan pengendalian urbanisasi sebagai dasar pembangunan desa yang berkelanjutan. Gunawan menjelaskan bahwa implementasi Indeks Keberlanjutan Spasial Desa (IKSD) memberikan sejumlah manfaat strategis bagi pemerintah desa.

Di antaranya membantu mengarahkan perencanaan pembangunan secara lebih objektif, menentukan prioritas pembangunan berdasarkan kondisi spasial yang aktual, menjaga tata ruang desa dalam konteks keberlanjutan lingkungan, serta mendorong pemantauan berkala terhadap perubahan kondisi spasial melalui pembaruan peta presisi.

“Melalui pemantauan berkelanjutan, perubahan penggunaan lahan dapat dideteksi lebih dini sehingga kebijakan pembangunan dapat disesuaikan dengan dinamika di lapangan,” ujarnya.

Gunawan menyatakan bahwa implementasi IKSD membantu perencanaan pembangunan yang lebih objektif, penentuan prioritas berbasis kondisi spasial aktual, menjaga tata ruang desa, serta mendorong pemantauan berkala melalui pembaruan peta presisi.

Dengan pemantauan berkelanjutan, perubahan penggunaan lahan dapat dideteksi lebih dini sehingga kebijakan pembangunan dapat disesuaikan dengan dinamika di lapangan.

Sebagai bagian dari usulan implementasi, Gunawan mengemukakan agar peta digital desa tersedia secara daring dan dapat diakses oleh masyarakat, perangkat desa, serta pemangku kepentingan lainnya. Peta yang terus diperbarui tersebut juga diharapkan tersedia di tingkat kecamatan sebagai instrumen bagi camat dalam memantau perubahan tata ruang desa di wilayahnya.

Lebih lanjut, peta presisi dapat dimanfaatkan untuk mengawasi penggunaan lahan, mengidentifikasi potensi investasi di sektor perkebunan, perikanan, dan sektor produktif lainnya, serta menjadi media musyawarah antara pemerintah desa dan masyarakat dalam mengoptimalkan pemanfaatan ruang secara transparan dan berbasis data.

“Pemanfaatan peta digital presisi menunjukkan peran inovasi teknologi geospasial dalam mendorong transformasi tata kelola desa menjadi lebih adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ketersediaan data spasial yang akurat dan mudah diakses memberikan landasan yang kuat bagi pemerintah desa dalam merencanakan pembangunan, menjaga keseimbangan lingkungan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan ruang yang optimal.

Paparan ini menjadi salah satu contoh penerapan hasil riset dan inovasi geospasial yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan desa serta mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti di tingkat lokal. (tw/ed:jh,jml)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```