Catatan Bupati Siak Pada Dialog Kebangsaan Para Kepala Daerah dengan SBY
ALHAMDULILLAH kedatangan narasumber tokoh Bangsa, Presiden RI ke-6 Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dialog tidak tertutup, terbuka, bisa direkam siapa saja, dan dipandu oleh Wamendagri, Bapak Bima Arya.
Seperti ada hubungan kebatinan, atau mungkin karena insting kepemimpinan, materi kebangsaan dari Bapak SBY disampaikan dengan penuh kesantunan, wibawa, dan menjadi magnet kebijaksanaan.
Apa yang disampaikan seolah menjadi kesimpulan paripurna, untuk memahami beban yang dirasakan para kepala daerah. Tanpa disangka, tanpa settingan, suasana dialog kebangsaan, sempat berubah menjadi getar keharuan.
Air mata beberapa Kepala Daerah tumpah, meski sudah ditahan-tahan. Beberapa dari mereka mungkin adalah laki-laki terkuat dan tergagah di daerahnya, pun tampak terisak menahan sesak.
Ini bukan lagi soal ego pribadi. Ini tentang Merah Putih. Tentang NKRI. Tentang kondisi rapuhnya ceruk-ceruk daerah penopang persatuan Bangsa, yang sedang dimohonkan bisa tersampaikan ke ruang-ruang kokoh dan megah di Istana Negara.
Setelah pesan mengharu biru dari dua Kepala Daerah bagian Timur, saya dikasi kesempatan berbicara. Dengan suara dan kebatinan yang aslinya sudah teramat letih, tersampaikan juga segala rintih.
Terceritakan tentang kaki yang rasanya tak berhenti melangkah. Tentang tangan yang rasanya tak berhenti berjuang mengetuk.
Bahkan tentang warisan sejarah panjang sumpah setia Sultan Siak, beserta segala harta dan tahta yang dipersembahkan, demi berkibarnya Merah Putih di awal kemerdekaan. "Kami kini hanya meminta apa yang menjadi hak rakyat Siak saja. Tidak lebih...".
Air mata itu tumpah juga. Seperti Bapak-bapak Kepala Daerah sebelumnya. Seisi ruangan terasa hening. Tak ada satupun yang menyodorkan tisu. Seperti terwakili dan memberi waktu.
Suara kami yang terisak disimak. Tak hanya oleh para pejabat yang hadir. Juga oleh beliau, satu-satunya Presiden Indonesia yang pernah menginjakkan kaki di Negeri Istana, saat peresmian Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah itu.
Wajahnya terlihat lebih letih dari kami semua. Pertemuan yang awalnya bertema kebangsaan, berubah jadi forum penitipan. Seisi ruangan secara tak resmi seolah menitip beban tersangat besar pada Tokoh Bangsa itu.
Agar kondisi sebenarnya di daerah tidak tertutupi dan berhenti sebatas laporan manis anak buah. Sesungguhnya, telah nyata bahwa Otonomi Daerah sedang berdarah-darah.
"Saya tidak mau cawe-cawe. Tidak pantas untuk seorang mantan Presiden mengkritik. Saya tidak akan melakukan itu. No way. Saya sekarang lagi bikin buku puisi dan lebih banyak melukis. Namun bagaimanapun, saya paham kerisauan tentang kondisi daerah saat ini, sudah disampaikan banyak pihak sejak tahun lalu,"
"Untuk kepentingan Bangsa tentu akan dicoba cari cara untuk disampaikan agar ada solusi bersama. Tidak boleh ada kemacetan komunikasi dan seolah tidak terjembatani. Saya nanti coba berpikir bagaimana caranya..."
Beliau mengajak kami tetap setia. Beliau tetap meminta kami memperjuangkan, sebagaimana beliau juga berjuang jalan kaki lebih 7 Km dulunya demi memberi dukungan.
"Tetaplah tabah. Jangan menyerah. Jangan frustasi. Masih ada harapan. Sampaikan salam saya untuk seluruh rakyat di dae......(rah),".Yang duduk di baris terdepan, semua bisa melihat jelas, nada suaranya mendadak terbata-bata.
Tokoh Bangsa yang pernah memimpin Indonesia dua periode itu, tampak meletakkan microfon dengan segera. Pak SBY ternyata juga menahan tangis yang sama.
Jakarta, 7 September 2026
Bupati Siak, Dr Afni Z, MSi
