Logo Porosbumi
26 Apr 2026,
26 April 2026
LIVE TV

Catatan Kemenangan LavAni, Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

PorosBumi 26 Apr 2026, 20:01:25 WIB
Catatan Kemenangan LavAni, Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

AK Supriyanto
Fans LavAni dari Bandung, Dosen di Unpad

Di bawah lengkung langit-langit GOR Among Rogo yang temaram, di antara ribuan pasang mata yang menahan napas, malam itu Jogja menjadi saksi bisu lahirnya sebuah puisi tentang kebangkitan. Saya duduk di tribun, bercampur dalam lautan kaus biru dan putih LavAni, merasakan jantung yang seolah dipompa bukan oleh darah, melainkan oleh adrenalin yang mendidih.

Di depan kami, di lapangan persegi empat itu, sebuah drama yang ditulis oleh dewa-dewa olahraga sedang dimainkan dengan intensitas yang nyaris tak tertanggungkan oleh jiwa manusia biasa. Dua set pertama adalah simfoni kemenangan. Smash-smash LavAni menghunjam lantai seperti cambuk petir, block raksasa mereka adalah dinding beton yang tak tertembus.

Skor berpihak, dan di wajah para pemain Bhayangkara Presisi mulai tergurat garis-garis frustrasi. Kami, para suporter, bersorak dengan keyakinan penuh—piala juara Proliga sudah di depan mata, tinggal menjumput, membungkusnya dengan kain kemenangan, dan membawanya pulang.

Namun, dewi fortuna ternyata belum selesai menenun ceritanya. Ia menyimpan plot twist yang akan membuat malam itu menjelma legenda. Memasuki set ketiga, LavAni tiba-tiba seperti mesin yang kehabisan bensin. Bukan, bukan bensin yang habis, melainkan seolah ada tangan tak kasat mata yang mengunci sendi-sendi kekuatan mereka.

Bola-bola yang tadi begitu mudah diantisipasi, kini melesat seperti hantu. Smash yang tadinya mematikan, kini berkali-kali tersangkut di net atau melebar dari garis lapangan. Bhayangkara, yang terluka, bangkit dengan amarah seekor singa yang terpojok. Mereka mencabik-cabik pertahanan LavAni, dan set ketiga pun lenyap dari genggaman. Skor menjadi 2-1.

Ketegangan di set keempat bukanlah ketegangan biasa. Ia adalah ketegangan yang bisa kau rasakan di ujung rambut, di punggung yang basah oleh keringat dingin, di telapak tangan yang gemetar tak bisa bertepuk. LavAni tertinggal. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Setiap kali poin demi poin direbut lawan, rasanya seperti seutas benang harapan putus satu per satu.

Di sekeliling saya, para suporter mulai terdiam. Doa-doa lirih terucap, bibir-bibir bergumam, mata-mata mulai berkaca-kaca. Kami seperti tengah menyaksikan sebuah kapal megah yang perlahan bocor dan limbung di lautan, sementara pelabuhan kemenangan yang tadinya begitu dekat, kini menjadi fatamorgana yang menjauh.

Di tengah atmosfer yang nyaris putus asa itulah, sebuah sihir terjadi. Bukan sihir tongkat, bukan mantra dari negeri dongeng, melainkan sihir yang paling kuat di muka bumi: fokus dan keyakinan yang menolak untuk padam. Di sepertiga akhir set keempat, ketika defisit poin masih menganga, para pemain LavAni seolah menarik napas terdalam dari sumsum jiwa mereka.

Mereka tidak lagi bermain sebagai individu, melainkan sebagai satu organisme raksasa yang bernapas dan bergerak dalam satu irama. Tidak ada lagi raut wajah gentar. Di wajah mereka, terutama Boy Arnez yang seolah menjadi jangkar moral, mulai terpahat raut baja yang tenang. Raut yang seolah berkata, "Badai boleh mengamuk, tapi kapal ini tidak dirancang untuk karam."

Satu demi satu, poin direbut. Bukan dengan gegap gempita yang meledak-ledak, melainkan dengan ketenangan yang mematikan. Blok-blok kokoh kembali berdiri. Pertahanan yang tadinya bolong, kini rapat dan liar menyelamatkan bola-bola mustahil. Serangan balik dibangun dengan presisi seorang ahli bedah.

Dan kemudian, tibalah momen comeback dramatis itu. Skor berbalik. Dari tertinggal, menjadi imbang, lalu unggul, dan akhirnya _match point_. Ketika bola terakhir Bhayangkara gagal menyeberangi net dengan sempurna, seisi GOR meledak. Bukan hanya sorakan, itu adalah erupsi emosi, jeritan lega yang begitu menggelegar, pelepasan dari puluhan menit pencekikan psikologis.

Saya ikut berteriak, bukan hanya karena kemenangan, tapi karena kami baru saja menyaksikan metamorfosis dari tim biasa menjadi kumpulan manusia unggul yang jiwa mereka ditempa di atas api kesulitan. Kami pulang malam itu dengan hati ringan, riang, melayang.

Namun, di antara pusaran emosi manusia itu, pandangan saya beberapa kali tertumbuk pada satu sosok di tribun kehormatan. Seorang lelaki senior dengan kacamata khasnya, berbalut polo short biru navy yang senada dengan jersey kami.

Ia duduk, senantiasa kalem, bertepuk tangan dengan wibawa yang tak perlu dicari—Susilo Bambang Yudhoyono. Di wajah teduhnya, ketegangan itu ada. Ia tidak bisa bersembunyi dari bahasa raut yang jujur. Di sudut matanya, di tarikan tipis otot rahangnya, di situ seperti tertulis

“Saya ikut merasakan setiap detik neraka dan surga di lapangan ini.” Ia bukan lagi presiden yang bicara soal inflasi dan geopolitik, ia adalah seorang pembina, seorang “bapak” dari keluarga besar LavAni yang anak-anaknya sedang bertarung hidup-mati di hadapannya.

Saya salut, dan lebih dari itu, saya merenung dalam-dalam. Di masa ketika kekuasaan seringkali meninggalkan residu candu yang meracuni jiwa, lipatan-lipatan rindu akan protokoler ketat dan privilege, pria ini memilih jalan sunyi yang indah: olahraga dan kesenian.

Bayangkan, seorang mantan jenderal, mantan presiden yang pernah memegang kendali republik, kini justru bergulat dengan manis dan pahitnya membina klub bola voli. Ini bukan sekadar hobi. Ini adalah filosofi.

Saya menarik kilas balik perjalanan LavAni yang bukannya tanpa luka. Ada masa-masa awal yang canggung, ada turnamen di mana mereka terjungkal, ada kritik dan keraguan. Membangun tim dari fondasi adalah soal konsistensi hati.

SBY tidak sekadar melempar dana lalu pergi. Konon, ia kerap berdiskusi taktis, menyemangati pemain yang cedera, dan hadir bukan sebagai mantan penguasa, tetapi sebagai pendengar dan pemeluk semangat tim.

Di situlah letak keindahannya: sebuah dedikasi yang lahir dari cinta, bukan dari ambisi kekuasaan. LavAni adalah inkarnasi dari visinya tentang manusia Indonesia—yang jatuh, bangkit, berlatih keras, dan pada akhirnya menempa diri menjadi baja.

Lihatlah ia berjalan di antara kerumunan tanpa pasukan pengawal yang galak, tanpa sekat-sekat protokoler yang menegangkan. Ia menikmati hidup sebagai warga senior biasa, bercengkerama dengan masyarakat, berfoto dengan siapa saja yang meminta.

Tidak ada ‘post-power syndrome’, tidak ada raut was-was dihantui warisan persoalan masa lalu, tidak ada topeng yang dikenakan untuk melindungi reputasi yang retak. Yang ada hanyalah pria yang tersenyum tulus, bahagia karena tim volinya baru saja menjuarai Proliga.

Inilah role model yang langka. Di sebuah negeri yang gamang dengan transisi kepemimpinan dan keteladanan, SBY mewarnai kehidupan bangsa justru dari sisi-sisi non-politik yang paling jujur: dari cinta pada olahraga dan keindahan seni. Ia menunjukkan bahwa purna tugas bukanlah titik, melainkan koma, dan paragraf baru kehidupan bisa ditulis dengan tinta yang lebih berwarna.

Kepada generasi muda, ia seolah berseru dengan sunyi, “Janganlah kalian gantungkan identitas dan kebahagiaan hanya pada takhta. Gantungkanlah pada gairah, pada proses mencipta dan membina, pada cinta yang membuatmu mau berpeluh tanpa tanda jasa.”

Tengah malam itu, di tengah udara Jogja yang mulai dingin, kemenangan LavAni bukan hanya tentang piala. Ia adalah metafora agung. Tentang bagaimana manusia dan mimpi-mimpinya, meski kehabisan bensin dan berulang kali tertinggal, akan selalu punya kesempatan untuk comeback selama masih ada hati yang teguh, fokus yang terasah, dan teladan yang berdiri kokoh di pinggir lapangan—bukan untuk mendikte, tapi untuk menginspirasi.

Purna Presiden itu, dengan ketenangannya, telah menjadi puisi bisu yang lebih mengharu biru daripada seluruh gegap gempita malam juara. Trembesi itu telah merunduk dan meneduhkan, dan di bawahnya, tunas-tunas baru belajar untuk bertumbuh dengan akar yang mencengkeram bumi, dan mimpi yang menggapai langit.

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```