Logo Porosbumi
06 Jun 2026,
06 June 2026
LIVE TV

Prof Emil Salim Ungkap Kecemasan Pola Pembangunan Nasional yang Cenderung Merusak Alam

PorosBumi 06 Jun 2026, 19:54:47 WIB
Prof Emil Salim Ungkap Kecemasan Pola Pembangunan Nasional yang Cenderung Merusak Alam

MEMPERINGATI Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema "Inspired by Nature. For Climate. For Our Future", tokoh lingkungan hidup nasional sekaligus Pembina Yayasan KEHATI, Prof Emil Salim kembali menyuarakan urgensi perubahan mendasar dalam model pembangunan di Indonesia.

Prof Emil Salim mengungkapkan kecemasannya terhadap pola pembangunan nasional saat ini yang cenderung meniru model dari negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, dan Jepang, tanpa memperhitungkan perbedaan kondisi alam khatulistiwa yang mendasar.

Menurut Prof Emil, alam Indonesia memiliki karakteristik yang senantiasa hidup dan sangat berbeda dengan alam di negara-negara empat musim yang bisa "mati" saat musim salju. Ia menekankan bahwa alam tidak boleh sekadar dipandang sebagai objek eksploitasi pasif, melainkan harus diperlakukan sebagai subjek.

“Cara mengolah alam itu bukan dengan alam itu sebagai obyek tadi, tetapi bagaimana manusia itu tumbuh memanfaatkan alam tanpa merombak fungsi kehidupan alam itu,” jelas Emil Salim. Pemahaman ini didasari oleh teori interdependensi yang menuntut berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga industri, untuk mengelola alam dengan memperhitungkan kepentingan alam itu sendiri.

Sejalan dengan tema global tahun ini, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos menegaskan bahwa alam adalah sumber inspirasi sekaligus solusi utama dalam menghadapi krisis iklim. Indonesia membutuhkan paradigma pembangunan baru yang menjadikan alam sebagai fondasi pembangunan dan bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi.

"Krisis iklim yang kita hadapi saat ini merupakan peringatan bahwa pembangunan tidak bisa lagi berjalan dengan mengabaikan batas-batas ekologis," ujar Riki Frindos.

"Keanekaragaman hayati Indonesia adalah aset strategis bangsa yang berperan menjaga ketahanan iklim, pangan, air, kesehatan, dan ekonomi masyarakat. Karena itu, investasi terbaik untuk masa depan adalah investasi pada pelestarian alam dan pemulihan ekosistem”.

Pentingnya kolaborasi dan pembelajaran holistik dalam menjaga alam telah dibuktikan sendiri oleh Prof Emil Salim. Pada awal masa jabatannya sebagai Menteri Lingkungan Hidup, pandangannya mengenai lingkungan banyak terbentuk berkat proses belajar secara langsung dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berfokus pada isu laut, darat, dan masyarakat.

Lebih jauh, interaksi dengan tokoh-tokoh dunia yang memiliki pemahaman yang sama turut memperkuat wawasannya, yang pada akhirnya mendorong terbentuknya United Nations Environment Programme (UNEP) di tingkat PBB sebagai wadah saling belajar antarbangsa.

Di tengah ancaman krisis global, Prof Emil memberikan peringatan keras mengenai dampak dari proses pembangunan yang keliru. Ia menegaskan bahwa pembangunan yang mengabaikan ekosistem sering kali menyebabkan perubahan iklim yang mengubah alam ke arah yang mati.

Ia memperingatkan agar manusia tidak membangun dengan cara yang justru menjadikan alam sebagai sumber kematian bagi kehidupan manusia. Sebagai penutup, Prof Emil Salim menitipkan pesan khusus kepada generasi muda agar pendidikan saat ini berpusat pada pemahaman alam secara utuh untuk menghindari kerusakan akibat ketidakpahaman.

"Pandangan holistik, pandangan lingkungan hidup adalah inti untuk belajar bagi keberlangsungan hidup tanpa membunuh unsur hidup lainnya. Itulah cara pembangunan berwawasan lingkungan," pungkasnya, mengingatkan agar Ibu Pertiwi harus tetap lestari dan tidak boleh dibiarkan mati. (fadlik al iman)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```