Dari Aset Bermasalah Menjadi Produktif, Jejak Jenius Jimmy Yang Menghidupkan Kembali RPH Karawaci
DI dunia perbankan, aset berstatus Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah kerap dipandang sebagai aset yang sulit diselesaikan. Kompleksitas persoalan hukum, administrasi, hingga negosiasi antar pihak membuat penyelesaian aset seperti ini membutuhkan pengalaman, kesabaran, dan strategi yang matang.
Di tengah tantangan tersebut, nama Jimmy Yang dikenal sebagai salah satu praktisi yang selama bertahun-tahun berkonsentrasi pada penyelesaian aset kredit bermasalah serta pendanaan perbankan untuk kebutuhan modal kerja.
Rekam jejaknya banyak diisi dengan proses negosiasi aset yang dinilai rumit dan berisiko tinggi. Keberhasilan terbarunya adalah pengambilalihan kembali Rumah Potong Hewan (RPH) Karawaci, Kota Tangerang, yang secara resmi ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) pada Jumat, 17 Juli 2026.
Di balik seremoni tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang tidak mudah. RPH Karawaci sebelumnya berada dalam penguasaan Kantor Pusat BCA setelah proses Ayda pada November 2025.
Selama hampir delapan bulan, berbagai upaya dilakukan untuk pembelian aset Ayda tersebut. Tiga kali proses negosiasi belum membuahkan hasil.
Bahkan kesempatan keempat telah melewati batas waktu administratif yang ditetapkan pada 10 Juli 2026. Dalam praktik bisnis, kondisi seperti itu sering kali dipandang sebagai akhir dari sebuah transaksi.
Namun kenyataannya berbeda.
Melalui proses negosiasi yang intensif, koordinasi berbagai pihak, serta penyelesaian berbagai aspek administratif dan teknis, pembelian aset Ayda tersebut akhirnya berhasil diselesaikan pada Jumat, 17 Juli 2026.
RPH Karawaci sendiri merupakan salah satu fasilitas yang memiliki nilai strategis bagi sektor peternakan nasional. Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, lokasi ini pernah menjadi tujuan kunjungan kerja sejumlah pejabat pemerintah, termasuk Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dalam rangka meninjau program pengembangan sektor peternakan.
Bagi Jimmy Yang, keberhasilan sebuah transaksi tidak berhenti pada berpindahnya kepemilikan aset. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana aset tersebut dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Aset yang menganggur tidak menciptakan nilai. Tetapi ketika aset itu kembali hidup, ia menghadirkan pekerjaan, menggerakkan ekonomi, dan membuka harapan baru bagi banyak orang," ujar Jimmy.
Pandangan tersebut sejalan dengan perjalanan profesional Jimmy Yang, yang telah lebih dari dua dekade berkecimpung di sektor properti, restrukturisasi kredit, pembiayaan perbankan, dan penyelesaian aset-aset NPL.
Selain dikenal sebagai praktisi bisnis, Jimmy Yang juga aktif dalam berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Tahun lalu, namanya sempat menjadi perhatian publik dengan belasan billboard ukuran besar ketika menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi dalam pembangunan Kota Pangkalpinang melalui pencalonannya sebagai bakal calon wali kota.
Namun baginya, pengabdian kepada masyarakat tidak harus diwujudkan melalui jabatan politik. "Saya percaya, melayani masyarakat tidak selalu harus dari kursi pemerintahan. Dunia usaha pun dapat menjadi sarana untuk menciptakan manfaat yang nyata bagi banyak orang," ungkapnya.
Saat ini Jimmy Yang juga dipercaya menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Pandu Tani Indonesia (PATANI) DKI Jakarta. Melalui peran tersebut, ia mendorong kolaborasi antara sektor pertanian, peternakan, industri pangan, dan dunia perbankan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi kerakyatan.
Ke depan, RPH Karawaci direncanakan berkembang menjadi pusat pengolahan hasil peternakan, termasuk produksi bakso dan berbagai produk turunannya.
Pengembangan tersebut diharapkan mampu menciptakan rantai nilai yang melibatkan peternak, pelaku UMKM, industri pengolahan, hingga sektor distribusi.
Rencana strategis dan jenius yang digagas Jimmy Yang ini juga selaras dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto, yang hendak menjadikan Indonesia berdaulat di bidang pangan.
Menurut Jimmy Yang, Indonesia masih memiliki banyak aset yang sebenarnya produktif, namun terhenti akibat persoalan pembiayaan maupun kredit bermasalah. Dengan pendekatan yang tepat, aset-aset tersebut dapat dihidupkan kembali dan menjadi motor penggerak ekonomi.
"Aset bermasalah bukanlah akhir dari sebuah perjalanan bisnis. Di tangan yang tepat, ia justru bisa menjadi awal lahirnya nilai ekonomi baru," tukasnya.
Jimmy menambahkan bahwa setiap aset yang berhasil diselamatkan bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan kesempatan untuk menciptakan lapangan kerja, menghidupkan kembali aktivitas ekonomi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Keberhasilan sejati bukan diukur dari berapa banyak aset yang kita miliki, melainkan berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena aset itu kembali produktif," ujarnya.
Menutup pembicaraan, Jimmy menyampaikan filosofi yang selama ini menjadi pegangan dalam setiap proses penyelesaian aset yang ia tangani.
"Negosiasi mungkin memenangkan sebuah transaksi. Tetapi kepercayaanlah yang memenangkan masa depan. Dan ketika sebuah aset kembali hidup, sesungguhnya yang sedang kita bangun bukan sekadar bisnis, melainkan harapan," tandasnya.
