BRIN dan UI Tegaskan Kepulauan sebagai Pusat Peradaban dan Pengetahuan, Bukan Pinggiran
WILAYAH kepulauan tidak seharusnya
dipandang sebagai kawasan pinggiran, terasing, atau sekadar destinasi wisata.
Sebaliknya, pulau-pulau di Indonesia dan Asia Tenggara merupakan pusat sejarah,
budaya, ekonomi, sekaligus ruang lahirnya pengetahuan yang membentuk peradaban
maritim.
Dalam lokakarya internasional "Doing Critical Island
Studies in Southeast Asia" yang berlangsung pada 13–14 Juli 2026,
Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PRMLTL) BRIN,
Sastri Sunarti, mengungkapkan masih terdapat ketimpangan cara pandang yang
menempatkan wilayah kontinental sebagai pusat kemajuan, sedangkan wilayah
kepulauan diposisikan sebagai daerah periferal.
Menurutnya, perspektif tersebut kerap mengabaikan konteks
sosial, budaya, dan ekologis masyarakat kepulauan. Ia mencontohkan masyarakat
Pulau Lamalera yang pernah mendapat sorotan karena tradisi penangkapan pausnya.
Baca Juga
Sastri menekankan bahwa praktik tersebut sering dipahami
secara sempit melalui perspektif isu lingkungan global tanpa mempertimbangkan
konteks budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat.
Sayangnya, pandangan yang ada saat ini menganggap wilayah
daratan lebih maju daripada wilayah kepulauan. Pandangan berat sebelah ini ditemukan
di Pulau Lamalera, ketika masyarakat dilarang menangkap paus karena dianggap
ikut menyumbang pemanasan global.
“Bayangkan betapa tidak adilnya ketimpangan pandangan
tersebut," ujar Sastri dalam lokakarya yang berlangsung di Kawasan Sains
Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo BRIN, Jakarta.
Senada dengan itu, Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan
dan Budaya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Ahmad
Fahrurodji, menegaskan bahwa studi kepulauan perlu dilakukan dengan melibatkan
masyarakat sebagai subjek utama penelitian, bukan sekadar objek kajian.
Menurutnya, pulau merupakan ruang yang menyimpan sejarah,
budaya, dan dinamika sosial yang membentuk masa depan kawasan. Karena itu,
penelitian kepulauan harus berangkat dari interaksi langsung dengan masyarakat
untuk memahami warisan budaya dari berbagai perspektif.
"Pulau bukanlah wilayah pinggiran yang terasing; mereka
adalah pusat sejarah, budaya, ekonomi, dan masa depan kita. Istilah doing dalam
lokakarya ini sangat penting karena mengingatkan kita bahwa studi ini bukan
sekadar teori, melainkan praktik penelitian yang mengharuskan kita terjun
langsung, berinteraksi dengan warga lokal, dan memaknai warisan budaya dari
berbagai sudut pandang," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa,
dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Jogaswara, menilai Indonesia memiliki
posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan kajian kepulauan di tingkat
internasional. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki
pengalaman historis dan kekayaan budaya maritim yang dapat menjadi rujukan
dalam membangun kolaborasi riset global.
"Indonesia tidak boleh hanya menjadi objek penelitian,
tetapi harus menjadi pemain utama dalam membangun kerja sama riset
internasional. Kita harus melihat laut bukan sebagai batas yang memisahkan,
melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai peradaban melalui
pergerakan orang, bahasa, dan pengetahuan," kata Herry.
Lokakarya internasional Doing Critical Island Studies in
Southeast Asia diselenggarakan oleh PRMLTL, Arbastra BRIN bekerja sama dengan
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Forum tersebut
menghadirkan pakar dari Indonesia, Filipina, Jepang, dan Korea Selatan serta
menyeleksi 57 makalah dari 77 naskah yang masuk. Hasil diskusi akan diterbitkan
dalam bentuk buku sebagai kontribusi ilmiah bagi pengembangan studi kepulauan
di Indonesia dan Asia Tenggara. (pau, dok: sgd/ed. mfs)
