Logo Porosbumi
11 Sep 2026,
11 September 2026
LIVE TV

Fuad Hasan, Drummer Legendaris yang Pergi Terlalu Cepat dari God Bless

PorosBumi 11 Sep 2026, 14:13:44 WIB
Fuad Hasan, Drummer Legendaris yang Pergi Terlalu Cepat dari God Bless

SEBELUM God Bless dikenal sebagai salah satu grup rock paling legendaris di Indonesia, ada sosok penggebuk drum yang telah lebih dahulu menorehkan jejak panjang di dunia musik Tanah Air sejak era 1960-an. Namanya Fuad Hasan.

Di kalangan musisi sezamannya, ia dikenal sebagai salah satu drummer berbakat. Sayangnya, perjalanan hidup dan kariernya harus berakhir begitu cepat dalam sebuah kecelakaan tragis yang meninggalkan duka mendalam bagi dunia musik Indonesia.

Fuad Hasan lahir di Yogyakarta pada 24 Agustus 1942. Ia tumbuh sebagai keturunan Arab dan dikenal pula sebagai penggemar sepak bola. Kecintaannya terhadap musik kemudian membawanya menekuni dunia drum sejak usia muda.

Perjalanan profesionalnya dimulai pada 1962 ketika ia bergabung dengan band Pandawa. Setahun kemudian, Fuad memperkuat Zainal Combo.

Pada 1964, ia bergabung dengan Medenaz yang saat itu menjadi band pengiring dalam rekaman sejumlah penyanyi, termasuk Ernie Djohan dan Liesda Djohan.

Kariernya terus berkembang. Pada 1965, Fuad ikut membentuk Dieselina bersama May Sumarna dan Imran. Ia bahkan sempat merantau ke Italia dan bermain bersama band Black Bird.

Pengalaman tersebut semakin memperkaya perjalanan musikalnya sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Sekembalinya ke Jakarta pada 1971, Fuad tinggal di rumah Keenan Nasution di kawasan Pegangsaan Barat.

Tempat tersebut menjadi salah satu ruang berkumpul para musisi untuk bermain dan bereksperimen bersama. Fuad kerap melakukan jam session bersama sejumlah musisi yang kelak menjadi nama-nama besar, di antaranya Chrisye pada bas, Onan pada kibor, dan Gaury Nasution pada gitar.

Pada tahun yang sama, Fuad juga mendirikan Abstract Club Band bersama penyanyi jazz Margie Segers. Ia turut menciptakan sejumlah komposisi orisinal, seperti "Manisku" dan "Pantai Sanur", serta menggubah kembali lagu The Beatles, "Fool on the Hill".

Sayangnya, perjalanan Abstract Club Band tidak berlangsung panjang. Grup tersebut hanya sempat menghasilkan satu album sebelum akhirnya menghilang dari peredaran.

Titik penting dalam perjalanan Fuad terjadi pada 1973. Ahmad Albar yang baru kembali dari Belanda kemudian mengajaknya bergabung dalam sebuah formasi bernama Crazy Wheels.

Dalam formasi tersebut terdapat sejumlah musisi, antara lain Ludwig Lemans, Donny Fattah, Deddy Dores, dan Fuad Hasan. Seiring perjalanan, Crazy Wheels kemudian berkembang menjadi God Bless.

Formasi awal tersebut tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, sebelum kemudian ambil bagian dalam konser besar "Summer 28" di Ragunan.

Konser tersebut kelak dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan musik rock Indonesia dan bahkan kerap disandingkan dengan konsep Woodstock dalam konteks Indonesia.

Bagi Fuad, bergabung dengan God Bless menjadi salah satu puncak perjalanan musikalnya. Sayangnya, ia tidak memiliki kesempatan untuk menyaksikan sejauh mana band tersebut akan berkembang di kemudian hari.


Kisah Cinta yang Tidak Biasa

Di luar panggung, kehidupan pribadi Fuad Hasan juga memiliki cerita tersendiri. Ia pernah menikah dengan Fitria, kakak tiri dari penyanyi sekaligus aktris Camelia Malik.

Dari pernikahan tersebut, Fuad dikaruniai seorang putri bernama Alba Fuad, yang kemudian dikenal sebagai aktris pada era 1990-an.

Dalam perjalanan hidupnya, Fuad kemudian kembali terhubung dengan keluarga yang sama. Ia menikah dengan Camelia Malik, yang merupakan adik tiri dari istri pertamanya.

Kisah tersebut menjadi salah satu bagian unik dalam perjalanan kehidupan pribadi sang drummer, di samping kiprahnya yang cukup panjang di dunia musik.

Namun, hanya sekitar setahun setelah God Bless terbentuk, perjalanan Fuad Hasan harus berakhir secara tragis. Pada Selasa, 9 Juli 1974, Fuad berencana menuju rumah Keenan Nasution di Pegangsaan bersama sejumlah rekannya.

Saat itu, teman-temannya sempat menyarankan agar ia ikut menggunakan mobil bersama rombongan. Fuad yang baru saja sembuh dari sakit justru memilih mengendarai sepeda motor Yamaha miliknya.

Ia berboncengan dengan Soman Lubis, mantan pemain keyboard God Bless. Sementara itu, rombongan lainnya memilih melewati jalur Cawang menggunakan mobil.

Ketika melintasi kawasan Pancoran, kecelakaan lalu lintas terjadi. Peristiwa tersebut merenggut nyawa Fuad Hasan ketika usianya masih sekitar 31 tahun.

Kepergiannya menjadi pukulan berat bagi God Bless yang saat itu baru saja memulai perjalanan. Band yang baru lahir tersebut harus kehilangan salah satu sosok penting dalam formasi awalnya.

Fuad bahkan sempat disebut-sebut sebagai salah satu kandidat penggebuk drum untuk Koes Plus. Namun, takdir berkata lain. Perjalanan musikal yang telah ia bangun sejak era 1960-an harus terhenti ketika kariernya bersama God Bless baru saja dimulai.

Meski hanya sebentar menjadi bagian dari sejarah God Bless, jejak Fuad Hasan tidak pernah benar-benar hilang. Ia merupakan bagian dari generasi musisi yang ikut meletakkan fondasi musik rock Indonesia pada masa awal perkembangannya.

Namanya mungkin tidak selalu berada di garis depan ingatan publik, tetapi bagi sejarah musik Indonesia, Fuad Hasan tetap menjadi sosok penting—seorang drummer berbakat yang memiliki perjalanan panjang, meninggalkan karya, dan pergi terlalu cepat ketika dunia musik masih menantikan langkah-langkah berikutnya darinya. (abi riza saamar)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```