Logo Porosbumi
31 Okt 2026,
31 October 2026
LIVE TV

Guru dan Murid SD Sukasarana Sindanglaya Tumbuhkan Budaya Peduli Sampah Setiap Jumat

PorosBumi 30 Okt 2026, 22:24:12 WIB
Guru dan Murid SD Sukasarana Sindanglaya Tumbuhkan Budaya Peduli Sampah Setiap Jumat

PENDIDIKAN lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan program besar. Kebiasaan menjaga kebersihan, mengelola sampah, dan merawat tanaman di lingkungan sekolah dapat menjadi langkah penting dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.

Semangat itulah yang terlihat dalam kegiatan lingkungan di SD Sukasarana, Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Melalui kegiatan rutin setiap Jumat, guru dan murid mulai membangun kebiasaan membersihkan lingkungan sekolah sekaligus mengembangkan pengelolaan sampah.

Upaya ini menjadi bagian dari proses menumbuhkan budaya sekolah yang lebih bersih, sehat, dan peduli terhadap lingkungan terutama membersihkan sampah di sekolah.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah langkah nyata telah dilakukan. Sekolah menempatkan ecobrick berbahan galon di setiap kelas dan sejumlah sudut sekolah.

Selain itu, sekolah juga menyediakan tempat khusus untuk menampung sampah plastik bernilai guna (high-value plastic) di pojok sekolah.

Tidak berhenti pada pengelolaan sampah, sekolah juga mulai mengembangkan taman ramah murid yang ditanami berbagai tanaman apotek hidup dan dapur hidup.

Keberadaan taman ini diharapkan dapat menjadi ruang belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengenalkan manfaat tanaman kepada anak-anak.

Tumbuhnya kegiatan lingkungan di SD Sukasarana tidak terlepas dari kejernihan berpikir, ketekunan, dan keterlibatan para guru dalam membangun kebiasaan bersama.

Kegiatan Jumat bersih menjadi kesempatan bagi guru dan murid untuk belajar melalui tindakan nyata, bukan hanya melalui penjelasan di dalam kelas.

Pengelolaan sampah anorganik yang mulai berkembang di sekolah menunjukkan adanya proses pembelajaran yang dapat terus diperkuat.

Murid tidak hanya diajak menjaga kebersihan, tetapi juga mulai mengenal pentingnya memilah sampah dan memahami bahwa sebagian bahan bekas masih dapat dimanfaatkan kembali.

Kegiatan tersebut sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan, pengalaman, dan tindakan.

Lingkungan sekolah menjadi ruang belajar bagi murid untuk mengenali persoalan di sekitarnya dan mengambil bagian dalam upaya memperbaikinya.

Dalam pengembangan kegiatan ini, Komite Sub DAS Cikundul mengambil peran sebagai pendamping yang siap membantu apabila diperlukan oleh pihak sekolah.

Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi sekolah untuk tumbuh sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan inisiatif para pendidiknya sendiri.

Pemerintah Desa Sindanglaya juga memberikan dukungan terhadap program ini agar dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena pendidikan lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan di sekolah.

Kebiasaan yang dibangun di lingkungan pendidikan perlu memiliki hubungan dengan kehidupan keluarga dan masyarakat, sehingga nilai-nilai yang dipelajari anak dapat diterapkan dalam keseharian.

Kegiatan di SD Sukasarana juga memiliki arti lebih luas dalam upaya membangun kepedulian lingkungan di Desa Sindanglaya dan kawasan Mikro DAS Cisarua – Sub DAS Cikundul – DAS Citarum.

Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat terbawa melalui saluran air dan berakhir di sungai. Karena itu, membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak dari sekolah merupakan salah satu pintu masuk untuk menumbuhkan tanggung jawab terhadap lingkungan yang lebih luas.

Meski demikian, perubahan kondisi sungai dan kawasan daerah aliran sungai tetap memerlukan upaya bersama, pengelolaan yang tepat, serta pemantauan yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara rutin, SD Sukasarana berpeluang mengembangkan sekolah sebagai ruang belajar lingkungan yang hidup.

Guru dan murid menjadi pelaku utama, sedangkan dukungan desa dan pendampingan komunitas membantu menjaga agar proses tersebut terus berkembang.

Pada akhirnya, pendidikan lingkungan bukan semata-mata tentang menyediakan tempat sampah atau menanam tanaman. Lebih dari itu, pendidikan lingkungan adalah proses membangun kebiasaan, pengetahuan, dan tanggung jawab bersama untuk merawat ruang hidup.

Dari sekolah, kepedulian itu tumbuh. Dari kebiasaan kecil, perubahan mulai dibangun. Dan dari masyarakat yang bergerak bersama, harapan bagi lingkungan yang lebih sehat dapat terus dipelihara. (fadlik al iman)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```