Menteri LH Mengaku Sering Malu Sendiri Melihat Inisiatif Masyarakat Dalam Menjaga Lingkungan
MENTERI Lingkungan Hidup/Kepala Badan
Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, mengaku sering
merasa malu sendiri kala melihat inisiatif luar biasa masyarakat dan sejumlah
komunitas dalam menjaga lingkungan.
Ia menyoroti peran komunitas lingkungan yang selama ini
bergerak dengan inisiatif sendiri itu. Baginya, kepedulian masyarakat menjadi
energi penting yang dapat mendorong perubahan, bahkan ketika dukungan
pemerintah belum sepenuhnya hadir.
"Saya sendiri sering malu melihat inisiatif dari bawah
(komunitas peduli lingkungan) yang luar biasa. Tidak pakai duit tidak pakai
apa, tiba-tiba mereka bisa bekerja lebih semangat dari saya," kata Menteri
Jumhur saat berdialog dengan komunitas lingkungan dalam Konferensi Sungai
Indonesia 2026 di Sumber Gempong, Mojokerto, Jawa Timur.
Baca Juga
Tak segan ia mengapresiasi berbagai gerakan masyarakat yang
lahir dari kepedulian terhadap lingkungan Menurutnya, banyak komunitas mampu
menunjukkan bahwa menjaga lingkungan dapat dilakukan dengan semangat,
kepedulian, dan kerja bersama.
Di berbagai sudut Indonesia, kepedulian terhadap lingkungan
sering kali tumbuh dari langkah-langkah kecil masyarakat yang memilih untuk
bergerak. Dari membersihkan sungai, memilah sampah, hingga mengajak warga
sekitar menjaga lingkungan, gerakan tersebut menjadi bukti bahwa perubahan
dapat dimulai dari kesadaran bersama.
Menurut Menteri Jumhur, komunitas peduli lingkungan memiliki
peran penting sebagai penggerak yang mampu menjaga semangat pelestarian
lingkungan tetap hidup di tingkat masyarakat, termasuk dalam penyelesaian
persoalan sampah yang sedang terjadi di Indonesia membutuhkan kesadaran
kolektif semua pihak.
Menteri Jumhur menyampaikan bahwa persoalan sampah merupakan
tanggung jawab bersama. Meskipun, pemerintah daerah menjadi pihak yang memiliki
kewenangan utama dalam pengelolaan sampah, dengan pembinaan dari pemerintah
provinsi serta pengawasan pemerintah pusat melalui KLH/BPLH. Namun, masyarakat
sebagai pelaku utama harus memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan agar
terhindar dari sampah.
"Pemerintah pusat juga mungkin tidak terlalu baik
pengawasannya selama 10 tahun terakhir, sehingga banyak yang abai dan akhirnya
bupati dan wali kota juga abai. Kalau mau jujur ini memang kesalahan
kolektif," tutur Menteri Jumhur.
Menteri Jumhur menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat
upaya penyelesaian persoalan sampah dengan pendekatan yang lebih menyeluruh.
Sampah tidak hanya dilihat sebagai permasalahan lingkungan, tetapi juga sebagai
peluang untuk menciptakan ekonomi sirkular yang memberikan manfaat bagi
masyarakat.
"Bapak Presiden memberikan waktu 2-3 tahun masalah
sampah harus selesai. Insya Allah bisa lebih cepat dari waktu yang ditargetkan,
KLH akan bekerja keras dengan kerja sama didukung dari semua pihak agar beres
persoalan sampah," kata dia.
Menurutnya, pengelolaan sampah ke depan harus mampu
menghadirkan nilai tambah, termasuk menciptakan lapangan pekerjaan hijau (green
jobs) dan membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak. "Solusi
masalah ini sudah saya persiapkan, insya Allah 1 atau 1,5 tahun masalah sampah
bisa selesai lebih cepat," tambah Menteri Jumhur.
Menteri Jumhur menjelaskan, pemerintah juga membuka ruang
dukungan melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) bagi masyarakat
sipil maupun komunitas yang memiliki program nyata dalam pemulihan lingkungan.
"Jadi tidak harus mengandalkan uang pemerintah daerah
atau pusat. Dana-dana yang lain nanti bisa dikolaborasi, kalau memang pekerjaan
itu betul-betul nyata dan jelas serta organisasinya," pungkasnya.
Melalui kolaborasi multipihak, upaya pengelolaan sampah
diharapkan tidak berhenti sebagai kewajiban, tetapi menjadi gerakan bersama
untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih sekaligus menghadirkan manfaat
bagi kehidupan masyarakat.
