Logo Porosbumi
02 Jul 2026,
02 July 2026
LIVE TV

Mohon Doa, Legenda Petualang Don Hasman Tengah Dirawat dan Akan Menjalani Operasi

PorosBumi 02 Jul 2026, 00:30:34 WIB
Mohon Doa, Legenda Petualang Don Hasman Tengah Dirawat dan Akan Menjalani Operasi
Legenda petualang Don Hasman (kanan) saat dibesuk salah satu senior pencinta alam, Aries Inbazh di rumah sakit.

LEGENDA petualang dan fotografer senior Don Hasman dikabarkan tengah dirawat di rumah sakit dan akan menjalani operasi. Kabar ini ramai beredar di WA grup (WAG) terutama WAG komunitas pencinta alam, Rabu (1/7/2026).

"Para sahabat,...........Mohon doanya semoga operasi untuk om Don Hasman besok pagi diberi kelancaran, kembali kuat dan sehat." Demikian isi pesan berantai di salah satu WAG pencinta alam.

Ditanya di rumah sakit mana dan operasi apa, penerus pesan hanya menjawab di salah satu rumah sakit di daerah Depok, Jawa Barat. "Di Depok, tapi pesannya gak mau di bezoek, kata beliau nanti aja setelah keluar."

Diketahui, Don Hasman yang biasa akrab disapa Om Don, kabar terbarunya baru saja mengikuti kegiatan pendakian di Gunung Prau, dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Kabar itu terbaca dari akum facebook-nya, pada 21 Juni 2026.

"Pagi hari cerah di pertengahan bulan Juni 2026 di sekitar Gunung Prau, Dieng, Jawa Tengah. Bersama sahabat fotografer @sambodo.msr dan pak Kisman beserta tetangganya di Dieng kami menikmati suasana damai di sekitar area perkemahan Gn. Prau. Di latar belakang tampak dengan angunnya gunung Sindoro dan Sumbing"

Dalam postingannya, Om Don menyertakan sejumlah foto dirinya bersama sejumlah pendaki. Nampak Om Don segar bugar dan sangat menikmati suasana pendakiannya.

Pemegang Sejumlah Rekor

Don Hasman, lahir 7 Oktober 1940 adalah seorang fotografer legendaris Indonesia yang dikenal sebagai pionir dalam dunia etnofotografi. Ia mendedikasikan hidupnya selama lebih dari 60 tahun untuk merekam kebudayaan, kehidupan suku pedalaman, serta keindahan alam Indonesia dan dunia.

Selain hobi memotret, ia juga seorang penjelajah alam sejati. Don Hasman tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang melakukan ekspedisi mendaki Pegunungan Himalaya pada tahun 1976.

Ia juga orang Indonesia pertama yang berhasil mencapai Everest Base Camp dan juga pendaki pertama dari Indonesia yang menaklukkan puncak Gunung Kilimanjaro di Tanzania.

Tak hanya mendaki gunung, Don Hasman juga aktif di banyak kegiatan outdor, salah satunya kegiatan caving (penelurusan goa) dan telah memetakan gua-gua di Sulawesi, Pacitan, hingga Jenolan Cave di Australia.
Fokus Etnofotografi.

Lewat lensa kameranya, Don Hasman fokus merekam kehidupan antropologi budaya, serta mengabadikan kehidupan autentik berbagai suku di pelosok Nusantara, salah satunya adalah masyarakat Baduy.

Tidak hanya di pedalaman Nusantara, ia juga memotret dinamika perkotaan mulai dari Tanah Air hingga sejumlah negara luar. Hingga usia senjanya, Don Hasman tetap aktif melakukan perjalanan, memotret, serta membagikan ilmunya kepada generasi muda.

Don Hasman yang pernah berjalan kaki dan bersepeda di Eropa bahkan menyelami banyak lautan, senantiasa berkomitmen penuh pada profesi, loyal pada rekan, hidup bersahaja dan selalu rindu berbagi.

Karir Memotret Don Hasman

Don Hasman, fotografer senior kelahiran Jakarta, 7 Oktober 1940 ini sudah mulai memotret sejak usia 11 tahun. Saat itu Don kecil menggunakan kamera merk Voigtlander milik sang kakak. Pada tahun 1968, Don memulai karirnya sebagai fotografer profesional.

Don Hasman mulai memproses sendiri cuci cetak foto-fotonya yang saat itu masih hitam putih. Sebelas tahun kemudian, Don direkrut Aristides Katoppo menjadi wartawan foto di Tabloid Mutiara Jakarta hingga akhirnya pensiun tahun 1995.

Selain berbakat di bidang fotografi, sejak kanak-kanak Don juga dikenal sebagai pribadi yang berjiwa petualang. Bahkan saat usianya baru menginjak 12 tahun, ia nekat bersepeda dari Jakarta ke Bandung demi menyaksikan Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Kisah petualangan seorang Don Hasman terus berlanjut seiring waktu. Berbagai puncak gunung tertinggi di dunia sudah ditaklukkannya. Puncak tertinggi yang pernah dipijaknya adalah Nuptse, di kawasan Himalaya yang masuk wilayah geografis Nepal.

Wilayah ini terletak 6.150 meter di atas permukaan laut. Pendakian ini dilakukannya tahun 1978, di mana baru 9 tahun kemudian rekor tersebut kemudian diperbaharui oleh orang Indonesia lainnya. Prestasi ini mengukirkan nama Don Hasman sebagai orang Indonesia pertama yang berhasil menginjakkan kakinya di Himalaya.

Om Don, begitu ia kerap disapa, juga pernah menaklukkan salah satu puncak tertinggi di dunia, yaitu puncak gunung Kilimanjaro di Tanzania, setinggi 5.985 meter di atas permukaan laut tahun 1985. Ia berangkat antara lain bersama mendiang Norman Edwin – pecinta alam legendaris sekaligus wartawan Kompas.

Bahkan pada tahun 2007, di usianya yang sudah memasuki 67 tahun, dosen fotografi di FMSR ISI Yogyakarta ini masih kuat berjalan kaki sejauh 1000 kilometer saat menjelajah Saint Jean-Pied de Port di Perancis Selatan menuju ke Katedral Santiago de Compostela di Cape Finisterre, Spanyol Barat Laut.

Perjalanan menelusuri napak tilas Santo Yakobus itu dilakukan selama 35 hari dan ditempuh dengan 2.200.000 langkah. Perjalanan tersebut diabadikan anggota kehormatan Mapala UI bernomor anggota MK 225 ini dalam lebih dari 14 ribu foto lewat kamera digital Canon 30D, G7 dan A640 yang disimpan dalam harddisk sebanyak 44 gigabit.

Pada tahun 2009, Don Hasman masih kuat mendaki gunung Tambora untuk menyusun buku fotografi tentang gunung yang berada di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat itu. Gunung Tambora jadi legendaris lantaran letusannya pada April 1815 tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah dunia.

Jiwa petualang suami dari Suryati ini amat mendukung hobi fotografinya. Oleh sebab itu, ia lebih dikenal sebagai fotografer spesialis alam. Hampir semua hal yang diabadikannya saat melanglang buana naik turun gunung bernilai seni tinggi.

Bahkan bekas-bekas aliran air pun menjadi karya foto yang menarik. Mengutip pernyataan Don Hasman di situs Landscape Indonesia, “Foto bagus adalah foto yang bisa menggugah perasaan. Foto yang menggugah bisa menginspirasi orang yang melihatnya. Membuat orang melakukan sesuatu,” ujar fotografer senior berdarah campuran Betawi, Sunda, Malaysia, China, dan Portugis ini.

Dosen fotografi di FMSR ISI Yogyakarta ini juga masih kuat berjalan kaki sejauh 1000 kilometer saat menjelajah Saint Jean-Pied de Port di Perancis Selatan menuju ke Katedral Santiago de Compostela di Cape Finisterre, Spanyol Barat Laut. Perjalanan menelusuri napak tilas Santo Yakobus itu dilakukan selama 35 hari dan ditempuh dengan 2.200.000 langkah.

Pengalaman puluhan tahun mengabadikan pemandangan indah di seluruh belahan dunia, membuat pria jebolan Akademi Hubungan Internasional tahun 1971 ini banyak dikagumi para fotografer muda yang ingin menimba ilmu padanya.

Meski usianya sudah senja, sepertinya tak ada kata lelah dalam kamus hidup Don Hasman. Ia akan dengan senang hati membagikan ilmu dan pengalamannya di dunia fotografi. Uniknya, Don tak pernah mengharapkan imbalan materi berlimpah untuk ‘jasa’nya itu.

Fotografi memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup ayah dua putri bernama Arina dan Tarita ini. Dengan berbagai pengalamannya, tak heran jika pemerintah Perancis memasukkan namanya ke dalam daftar 100 Famous Photographer in The World tahun 2000.

Portofolio dan keseharian Don Hasman dapat dipantau langsung melalui akun Instagram dan Facebook resmi Don Hasman. Informasi perjalanannya juga pernah diulas dalam artikel pendakian berikut perjalanan Canon Asia serta profil lengkapnya di Wikipedia Don Hasman. (hendri irawan)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```