Peneliti BRIN Teliti Interaksi Laut dan Atmosfer di Laut Banda, Simak Hasilnya!
PENELITI Pusat Riset Iklim dan Atmosfer
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arief Suryo menyampaikan hasil
penelitian mengenai dinamika interaksi laut-atmosfer di Laut Banda. Penelitian
tersebut memanfaatkan data lima profiling floats atau pelampung profil
yang beroperasi di Laut Banda pada Oktober 2022 hingga Agustus 2025.
“Selama periode tersebut, lima floats tersebut
menghasilkan 681 profil yang telah melalui proses pengendalian kualitas
(quality control),” ungkap Arief saat menyampaikan penelitian berjudul
‘Observed Barrier Layer Modulation of Intraseasonal Air-Sea Coupling in the
Banda Sea from Five Profiling Floats’, dalam pertemuan tahunan ke-23 Asia
Oceania Geosciences Society (AOGS) 2026.
Pertemuan ini berlangsung di Fukuoka International Congress
Centre, Fukuoka, Jepang, 2–7 Agustus 2026 lalu. Penelitian ini didukung U.S.
National Science Foundation melalui program Measurements and Modelling of the
Indonesian Throughflow International Experiment (MINTIE).
Baca Juga
Arief menjelaskan bahwa 681 data profil tersebut kemudian
dikombinasikan dengan data ERA5 untuk memperoleh informasi mengenai kondisi
atmosfer, termasuk fluks panas permukaan dan kecepatan angin, serta indeks
Madden-Julian Oscillation (MJO) untuk mengidentifikasi kejadian MJO yang
melintasi atau terhambat di wilayah Maritime Continent.
“Laut Banda merupakan wilayah yang penting untuk memahami
interaksi antara atmosfer dan laut di kawasan Maritime Continent. Perubahan
kondisi lapisan permukaan laut dapat memengaruhi respons laut terhadap angin
dan pada akhirnya berkaitan dengan dinamika propagasi MJO,” jelas Arief.
Penelitian yang dilakukan bersama M. Furqon Aziz Ismail
(BRIN), Widodo Setiyo Pranowo (BRIN), dan Stephen Riser dari University of
Washington, Amerika Serikat itu salah satu fokusnya mengamati barrier layer
di Laut Banda. Barrier layer yaitu lapisan air hangat yang berada di
antara lapisan campur (mixed layer) dan termoklin.
Lapisan ini terbentuk akibat perbedaan struktur suhu dan
salinitas sehingga dapat membatasi pencampuran vertikal air laut. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa barrier layer di Laut Banda relatif tipis
pada sebagian besar waktu. Dari 681 profil yang dianalisis, nilai tengah
ketebalan barrier layer tercatat sekitar 1,8 meter, sedangkan sekitar 20
persen profil memiliki ketebalan lebih dari 10 meter.
Ketebalan barrier layer juga menunjukkan variasi
musiman. Lapisan yang lebih tebal cenderung ditemukan pada periode basah dan
relatif jarang terjadi pada Oktober hingga Desember. “Meskipun demikian,
variasi musiman hanya menjelaskan sekitar 10 persen variasi ketebalan barrier
layer dalam dataset penelitian”, terang Arief.
Penelitian kemudian menguji bagaimana keberadaan lapisan
tersebut memengaruhi respons laut terhadap angin. Hasilnya menunjukkan adanya
perbedaan respons yang kuat antara kondisi barrier layer tipis dan
tebal. “Lapisan penghalang menjadi semacam pengatur interaksi antara atmosfer
dan laut. Dengan kondisi angin yang sama, respons laut dapat berbeda bergantung
pada struktur stratifikasinya,” ujar Arief.
Ketika barrier layer tipis, angin mendinginkan
seluruh lapisan pada kedalaman 15 hingga 90 meter. Namun ketika barrier
layer tebal, pendinginan itu hilang sama sekali dan lapisan pada kedalaman
45 hingga 100 meter justru menghangat, karena air hangat dari barrier layer
terdorong ke bawah alih-alih air dingin terangkat ke atas.
Penelitian ini juga mengkaji hubungan antara MJO dan
perubahan struktur lapisan laut. Dari periode pengamatan, terdapat 10 kejadian
MJO yang memenuhi kriteria penelitian, terdiri atas empat kejadian yang
berhasil melintasi Maritime Continent (crossing) dan enam kejadian yang
terhambat (blocked).
Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kejadian MJO yang
melintasi wilayah tersebut, kedalaman lapisan isotermal (isothermal layer
depth/ILD) tercatat sekitar 26 meter lebih dalam dibandingkan kejadian yang
terhambat, sedangkan kedalaman lapisan campur (mixed layer depth/MLD) sekitar
17 meter lebih dalam. Kedua selisih tersebut memiliki rentang ketidakpastian
yang tidak mencakup nilai nol dan tetap bertahan ketika salah satu kejadian
dikeluarkan dari analisis.
Sementara itu, perubahan ketebalan barrier layer
sendiri menunjukkan arah yang sesuai dengan hipotesis penelitian, yakni
bertambah sekitar 9 meter, tetapi rentang ketidakpastiannya masih mencakup
nilai nol. Dengan demikian, besarnya perubahan barrier layer akibat MJO
belum dapat ditetapkan secara kuat berdasarkan jumlah kejadian yang tersedia.
Arief menjelaskan bahwa salah satu keterbatasan penelitian
adalah jumlah kejadian MJO yang dapat diamati oleh floats. Keempat
kejadian MJO yang melintasi wilayah penelitian juga berada pada periode
Desember hingga Maret sehingga terdapat faktor musiman yang perlu
diperhitungkan dalam interpretasi hasil.
“Data yang tersedia menunjukkan adanya sinyal fisik yang
menarik, tetapi jumlah kejadian masih terbatas. Karena itu, kami perlu
berhati-hati dalam menggeneralisasi hubungan langsung antara MJO dan perubahan
ketebalan barrier layer,” ungkapnya.
Temuan penelitian ini memperlihatkan pentingnya observasi
laut secara langsung untuk memahami proses interaksi laut-atmosfer di wilayah
kepulauan Indonesia. Keberadaan profiling floats memungkinkan pengamatan
kondisi bawah permukaan laut yang sebelumnya relatif sulit diperoleh secara
kontinu.
Ke depan, penelitian akan dikembangkan dengan memanfaatkan
data akustik dari Passive Aquatic Listeners (PAL) yang terpasang pada floats.
“Datanya sudah tersedia, hanya saja belum sempat diolah dan dianalisa lebih
lanjut”, ungkap Arief.
Menurut Arief, data tersebut diharapkan dapat memberikan
validasi independen terhadap data angin ERA5 sekaligus membantu menghubungkan
kejadian hujan secara langsung dengan pembentukan lapisan air tawar di
permukaan laut.
Kombinasi pengamatan in-situ, data atmosfer, serta indeks
iklim menjadi penting untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif
mengenai mekanisme interaksi laut dan atmosfer di kawasan Maritime Continent.
Partisipasi peneliti BRIN dalam AOGS 2026 sekaligus menjadi
kesempatan untuk memperkenalkan hasil observasi dan penelitian kebumian
Indonesia kepada komunitas ilmiah internasional. Forum tersebut juga membuka
ruang pertukaran pengetahuan dan pengembangan jejaring kolaborasi penelitian di
bidang oseanografi, meteorologi, dan ilmu kebumian. (dk,kf/ed:jml)
