Logo Porosbumi
13 Jul 2026,
13 July 2026
LIVE TV

Setarikan Nafas, Sehamparan Jiwa

Catatan Kaki “Oxygen” Pameran Solo Agus Budiyanto

Hendri Irawan 13 Jul 2026, 10:08:52 WIB
Setarikan Nafas, Sehamparan Jiwa

BAMBANG ASRINI

Penulis dan Kerani Seni

 

SALAH satu kanon dalam sejarah seni rupa modern Barat tentunya mengenal Kandinsky, yang mata pena penulisannya menggugah jagad dengan buku Concerning the Spiritual in Art. Ia mengembalikan hari ini lukisan abstrak dan relasinya dengan jiwa.

Saat lukisan menjadi tempat bernaung, dan kata-kata kehilangan mantra-mantra tersaktinya serta pula nalar terantuk-antuk dalam remang wujud hakikat realitas. Maka pengertian jiwa membawa cara pelukis abstrak Agus Budiyanto berpameran solo, pada Juli 2026 ini, di Zen1 Gallery, dengan juluk ‘Oxygen’, yakni semacam pesan tentang kedalam-kedalaman pengalaman batiniah privatnya.


Ia mengembalikan ingatan kita bahwa kecanggihan-kecanggihan bentuk, warna, taburan cat air serta goresan-goresan bertenaga yang berpadu mengantar pada gerbang misteri batin. Yang mungkin hanya penggalan puitika, bahwa melukis semata seperti juga saat menghela nafas sebagai perwakilan atas kondisi-kondisi tertentu atas dekapan sekaligus luapan jiwa.

Perjalanan estetis Kandinsky, juga hampir seluruh pengalaman bantiniah perintis maestro seni kita, termasuk yang menekuni seni lukis abstrak, sebagai misal Ahmad Sadali, ia dibangunkan secara tidak sadar oleh tanda-tanda yang secara universal membawa semangat spiritual tertentu. 

Gairah-gairah misterius, dari energi batin, yang mana warna-warna tebal, titik-titik dan lubang-lubang, dan guratan-guratan pada bidang dapat mengingatkan gambaran-gambaran misteri, kuno, dan kefanaan semata atas realitas keyakinan mata batin.  

Jika Kandinsky membawa frasa tentang seniman semestinya melatih tak hanya matanya, namun mata batinnya, maka berulangkali Agus Budiyanto berujar pada penulis dalam banyak wawancara dan pertemuan, bahwa ia meyakini “pelukis hakekatnya adalah orang yang mendengarkan lewat matanya”.

Agus memercayai bahwa manusia dan alam menyatu dan saling membawa energi untuk mutual memberi dan menerima. Dalam konteks berkesenian ini, yang justru diyakini jalan spiritualitas dalam estetika pada pandangan Kandinsky, yaitu emosi manusia menangkap energi alam dan diri secara bersamaan.  

 

Sejumlah Tanda dan Getaran Jiwa

Jika kita jeli dan mengamati tiap-tiap karyanya, Agus menggunakan juga nalarnya yang tajam, selain yang mengemuka yakni getaran jiwa dengan tanda-tanda tertentu. Yakni strategi pemberian judul karya dan atmosfer wujudnya yang mengundang enigma di kertas.

Pada karya Amorphous #7, 121 x 121, Watercolor on Paper, 2020, ia mengeja ketakberbentukan, yang dalam kajian abstrak non representasional dengan sengaja menimbulkan kondisi lukisan nirwujud yang tak mengitimasi sama sekali alam riil.


Lukisan itu berupa semacam tumpahan cat putih yang berpendar dari latar gelap. Maka, paradigma tentang abstraksi yang diindera dalam wujud nyata dalam realitas keseharian hilang, digantikan dengan kenikmatan apresian menggunakan imajinasinya tentang ketakberwujudan.

Demikian pula jika kita mengamati lukisan berjudul Niskala #2, 131 x 161, Watercolor on Paper 2025; dan Unexpected #3,140 x 140, Watercolor on Paper, 2026 sama seperti sensasi nalar kita tak menangkap perwujudan nyata dalam kasunyataan realitas alam.


Lukisan tersebut, mengulang Amorphous #7, yakni abstraksi tentang imajinasi yang magis, misteri tak berwujud, dari kata sansekerta Niskala; demikian pula kita telaah juluk Unexpected, yaitu ketakterdugaan, yang tentunya muskil dijelaskan secara gamblang dua kata tersebut dalam pengertian sama secara nalar. 

Namun sebuah gambaran berbeda dan intensitas serta pengalaman-pengalaman emosi yang sangat subyektif baik pelukis dan apresiannya menafsirkan dengan emosi yang merupakan resonansi pendaran jiwa. Maka, disanalah terletak keelokan dalam ketidaktahuan, keindahan dalam penerimaan yang sangat personal. 

Tanda-tanda yang kita tangkap secara logis, berupa kata-kata dalam judul karya bertumbukan dengan pengalaman-pengalaman batiniah menyaksikan karya. Agus piawai membawa kita, sebagai misal menerbangkan benak pada karya City Corner #3, 60 x 60 x 80, Watercolor on Paper karya di tahun 2026 ini.

Agus dalam karyanya City Corner itu menciptakan bentuk yang membeda dengan metoda melukis standar (berwujud flat) di kertas. Ia meremas-remas membentuk dan membangun semacam retakan.

Agus kemudian imbuhkan materi pernis (biasa digunakan bahan untuk melindungi permukaan benda/objek) yang memunculkan wujud “separuh trimatra karya”, yang mengajak apresian menyentuh dan merabanya.

Ia letakkan di sudut sebuah tembok di galeri Zen1, seolah menyapa sekaligus menelikung ruang yang mana cukup unik tampil berbeda dengan karya-karya yang flat dengan lukisan-lukisan cat air lainnya.

Maka penanda awal City Corner #3 adalah bagaimana bentuknya lukisan yang tak biasa itu seolah “tersudut” atau “disudutkan” atau memposisikan diri di lokasi abstraktif “sudut” sebuah “kota”, yang diletakkan realitanya berwujud sudut riil sebuah tembok galeri seni.

Sungguh merangsang fikir dan rasa, karya tersebut membawa kenangan tentang warna gemerlap yang membuka ingatan tentang kota besar, cahaya-cahaya di billboard, kamera-kamera dan blitz, taman yang ramai dan lalu lintas tak henti.

Mungkin tepat pernyataan kurator pameran Oxygen, Rizki Zaelani, bahwa karya Agus bisa diterima oleh jiwa yang sensitif serta kekuatan sensasi. Seseorang yang mampu menemukan, menyusuri, atau bahkan menjelajahi dalam lapisan-lapisan warna atau sensitifitas garis serta ruang dan kedalaman-kedalaman wujudlahlah yang bisa menemukan kekuatan “sang oksigen”, sebagaimana yang dibayangkan Agus Budiyanto. 

Oksigen, bagi penulis seperti juga kurator pameran; karakter eksistensi konsepnya adalah keadaanya berlandas hukum fisika (dalam senyawa air), maupun maknanya secara metaforik.

Rizki mengutip gagasan filsuf Deleuze-Guattari soal seni yang mampu mengonstruksi sensasi, yang mengekspresikan proses “kemenjadian dunia”. Kompleksitas jagad realitas yang dibentuk oleh persepsi, artikulasi dan pengalaman-pengalaman yang sangat subtil dari si seniman dan direspon oleh apresiannya.

 

Oase, Hulu dan Ibu: Sebuah Kekayaan Tafsir

Dari sekian karyanya, baik berupa lukisan-lukisan cat air dan juga yang memberi sensasi “trimata”, atau lebih tepatnya semacam relief pada sudut tembok galeri tadi, ada satu karya terdiri dari tiga bagian di sebuah ruang tersendiri meski tak terlalu terpisah—menimbang luas dan tata letak galeri.

Tiga karya cukup membetot atensi, terutama bagi penulis. Yakni karya Hulu, 65 x 40 x 3,5, Mix Media on Paper, 2026; kemudian karya Oase, 65 x 40 x 3,5, Watercolor on Paper, 2026; pun karya Menggapai Ibu, 65 x 40 x (Variable Dimension), Watercolor on Paper, 2026. Tiga karya ini cantik sekaligus menggedor rasa, sebab tak biasa dan unik, yang penulis mewawancarai Agus dalam ruang pamer tentang pembuatannya.


Penulis mencoba menelaah dari materi kertas yang bertumpuk, kemudian mengamati imbuhan eksperimentasi acrylic transparan dan memperhatikan  lumuran cat air di beberapa bagian, yang membentuk kepaduan bentuk kertas yang bertumpuk berongga serta membawa sensasi tertentu.

Yang mengagetkan adalah imbuhan cahaya pada karya Menggapai Ibu, berpendar menerangi bagian kertas yang berlobang, sebab Agus dilaburi cat sedikit, hinggga memberi impresi tertentu. Sumber curahan cahaya tersebut, berupa lampu-lampu mungil di bagian tersembunyi di dalam karya. 

Karya menjadi semacam kotak box transparan, bisa disaksikan dengan mudah, yang membawa ingatan seperti aeolah karya dibantu mesin cetak dengan pendekatan desain, namun Agus membawanya dalam ekspresi-ekspresi intim yang menggugah emosi dan keterkaitan antara juluk Hulu, Oase, dan Ibu.

Seketika, benak akan berasosiasi pengertian hulu, sebagai kesepakatan bahasa bahwa ia memberi pengertian asal-muasal, yakni mata air dan sungai. Sementara oase adalah sebuah ruang-ruang terpenting saat manusia menemukan perjumpaan atas kekeringan dan menuntaskan rasa haus di sebuah gurun pasir. Sedangkan ibu, segala semesta manusia berasal dan tentunya sebagai pusat kasih.

Agus memberi kekayaan tafsir dengan tanda, meski secara abstraktif benak kita tak menemui logika sungai, mata air serta wujud yang cair di gurun, serta bentuk manusia perempuan sebagai ibu. Keterikatan antar ketiga karya ini memberi satu pesan maknawi yang menghunjam jauh ke kalbu.

Hulu dikelir dengan warna putih bertemu kehitaman, sementara coklat, biru kehijauan diterakan warnanya di Oase, sementara pemberhentian utamanya adalah pendaran cahaya yang seolang jatuh, berkedip di ronga-rongga kertas berlabur ochre itu. Sebuah pesan yang menyentuh dan Agus Budiyanto sungguh-sungguh mewakili setarikan nafas, sehamparan jiwa kita, mengenang sosok ibu dengan cara paling khidmat lewat seni.

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```