Setarikan Nafas, Sehamparan Jiwa
Catatan Kaki “Oxygen” Pameran Solo Agus Budiyanto
BAMBANG ASRINI
Penulis dan Kerani Seni
Baca Juga
SALAH satu kanon dalam sejarah seni
rupa modern Barat tentunya mengenal Kandinsky, yang mata pena penulisannya
menggugah jagad dengan buku Concerning the Spiritual in Art. Ia
mengembalikan hari ini lukisan abstrak dan relasinya dengan jiwa.
Saat lukisan menjadi tempat bernaung, dan kata-kata kehilangan mantra-mantra tersaktinya serta pula nalar terantuk-antuk dalam remang wujud hakikat realitas. Maka pengertian jiwa membawa cara pelukis abstrak Agus Budiyanto berpameran solo, pada Juli 2026 ini, di Zen1 Gallery, dengan juluk ‘Oxygen’, yakni semacam pesan tentang kedalam-kedalaman pengalaman batiniah privatnya.

Ia mengembalikan ingatan kita bahwa kecanggihan-kecanggihan
bentuk, warna, taburan cat air serta goresan-goresan bertenaga yang berpadu
mengantar pada gerbang misteri batin. Yang mungkin hanya penggalan puitika,
bahwa melukis semata seperti juga saat menghela nafas sebagai perwakilan atas
kondisi-kondisi tertentu atas dekapan sekaligus luapan jiwa.
Perjalanan estetis Kandinsky, juga hampir seluruh pengalaman bantiniah perintis maestro seni kita, termasuk yang menekuni seni lukis abstrak, sebagai misal Ahmad Sadali, ia dibangunkan secara tidak sadar oleh tanda-tanda yang secara universal membawa semangat spiritual tertentu.
Gairah-gairah misterius, dari energi batin, yang mana
warna-warna tebal, titik-titik dan lubang-lubang, dan guratan-guratan pada
bidang dapat mengingatkan gambaran-gambaran misteri, kuno, dan kefanaan semata
atas realitas keyakinan mata batin.
Jika Kandinsky membawa frasa tentang seniman semestinya
melatih tak hanya matanya, namun mata batinnya, maka berulangkali Agus
Budiyanto berujar pada penulis dalam banyak wawancara dan pertemuan, bahwa ia
meyakini “pelukis hakekatnya adalah orang yang mendengarkan lewat matanya”.
Agus memercayai bahwa manusia dan alam menyatu dan saling
membawa energi untuk mutual memberi dan menerima. Dalam konteks berkesenian
ini, yang justru diyakini jalan spiritualitas dalam estetika pada pandangan
Kandinsky, yaitu emosi manusia menangkap energi alam dan diri secara
bersamaan.
Sejumlah Tanda dan Getaran Jiwa
Jika kita jeli dan mengamati tiap-tiap karyanya, Agus
menggunakan juga nalarnya yang tajam, selain yang mengemuka yakni getaran jiwa
dengan tanda-tanda tertentu. Yakni strategi pemberian judul karya dan atmosfer
wujudnya yang mengundang enigma di kertas.
Pada karya Amorphous #7, 121 x 121, Watercolor on Paper, 2020, ia mengeja ketakberbentukan, yang dalam kajian abstrak non representasional dengan sengaja menimbulkan kondisi lukisan nirwujud yang tak mengitimasi sama sekali alam riil.

Lukisan itu berupa semacam tumpahan cat putih yang berpendar
dari latar gelap. Maka, paradigma tentang abstraksi yang diindera dalam wujud
nyata dalam realitas keseharian hilang, digantikan dengan kenikmatan apresian
menggunakan imajinasinya tentang ketakberwujudan.
Demikian pula jika kita mengamati lukisan berjudul Niskala #2, 131 x 161, Watercolor on Paper 2025; dan Unexpected #3,140 x 140, Watercolor on Paper, 2026 sama seperti sensasi nalar kita tak menangkap perwujudan nyata dalam kasunyataan realitas alam.

Lukisan tersebut, mengulang Amorphous #7, yakni abstraksi tentang imajinasi yang magis, misteri tak berwujud, dari kata sansekerta Niskala; demikian pula kita telaah juluk Unexpected, yaitu ketakterdugaan, yang tentunya muskil dijelaskan secara gamblang dua kata tersebut dalam pengertian sama secara nalar.
Namun sebuah gambaran berbeda dan intensitas serta
pengalaman-pengalaman emosi yang sangat subyektif baik pelukis dan apresiannya
menafsirkan dengan emosi yang merupakan resonansi pendaran jiwa. Maka,
disanalah terletak keelokan dalam ketidaktahuan, keindahan dalam penerimaan
yang sangat personal.
Tanda-tanda yang kita tangkap secara logis, berupa kata-kata
dalam judul karya bertumbukan dengan pengalaman-pengalaman batiniah menyaksikan
karya. Agus piawai membawa kita, sebagai misal menerbangkan benak pada karya City
Corner #3, 60 x 60 x 80, Watercolor on Paper karya di tahun 2026 ini.
Agus dalam karyanya City Corner itu menciptakan
bentuk yang membeda dengan metoda melukis standar (berwujud flat) di kertas. Ia
meremas-remas membentuk dan membangun semacam retakan.
Agus kemudian imbuhkan materi pernis (biasa digunakan bahan
untuk melindungi permukaan benda/objek) yang memunculkan wujud “separuh
trimatra karya”, yang mengajak apresian menyentuh dan merabanya.
Ia letakkan di sudut sebuah tembok di galeri Zen1, seolah
menyapa sekaligus menelikung ruang yang mana cukup unik tampil berbeda dengan
karya-karya yang flat dengan lukisan-lukisan cat air lainnya.
Maka penanda awal City Corner #3 adalah bagaimana
bentuknya lukisan yang tak biasa itu seolah “tersudut” atau “disudutkan” atau
memposisikan diri di lokasi abstraktif “sudut” sebuah “kota”, yang diletakkan
realitanya berwujud sudut riil sebuah tembok galeri seni.
Sungguh merangsang fikir dan rasa, karya tersebut membawa
kenangan tentang warna gemerlap yang membuka ingatan tentang kota besar,
cahaya-cahaya di billboard, kamera-kamera dan blitz, taman yang
ramai dan lalu lintas tak henti.
Mungkin tepat pernyataan kurator pameran Oxygen, Rizki
Zaelani, bahwa karya Agus bisa diterima oleh jiwa yang sensitif serta kekuatan
sensasi. Seseorang yang mampu menemukan, menyusuri, atau bahkan menjelajahi
dalam lapisan-lapisan warna atau sensitifitas garis serta ruang dan
kedalaman-kedalaman wujudlahlah yang bisa menemukan kekuatan “sang oksigen”,
sebagaimana yang dibayangkan Agus Budiyanto.
Oksigen, bagi penulis seperti juga kurator pameran; karakter
eksistensi konsepnya adalah keadaanya berlandas hukum fisika (dalam senyawa
air), maupun maknanya secara metaforik.
Rizki mengutip gagasan filsuf Deleuze-Guattari soal seni
yang mampu mengonstruksi sensasi, yang mengekspresikan proses “kemenjadian
dunia”. Kompleksitas jagad realitas yang dibentuk oleh persepsi, artikulasi dan
pengalaman-pengalaman yang sangat subtil dari si seniman dan direspon oleh
apresiannya.
Oase, Hulu dan Ibu: Sebuah Kekayaan Tafsir
Dari sekian karyanya, baik berupa lukisan-lukisan cat air
dan juga yang memberi sensasi “trimata”, atau lebih tepatnya semacam relief
pada sudut tembok galeri tadi, ada satu karya terdiri dari tiga bagian di
sebuah ruang tersendiri meski tak terlalu terpisah—menimbang luas dan tata
letak galeri.
Tiga karya cukup membetot atensi, terutama bagi penulis. Yakni karya Hulu, 65 x 40 x 3,5, Mix Media on Paper, 2026; kemudian karya Oase, 65 x 40 x 3,5, Watercolor on Paper, 2026; pun karya Menggapai Ibu, 65 x 40 x (Variable Dimension), Watercolor on Paper, 2026. Tiga karya ini cantik sekaligus menggedor rasa, sebab tak biasa dan unik, yang penulis mewawancarai Agus dalam ruang pamer tentang pembuatannya.

Penulis mencoba menelaah dari materi kertas yang bertumpuk,
kemudian mengamati imbuhan eksperimentasi acrylic transparan dan
memperhatikan lumuran cat air di beberapa bagian, yang membentuk kepaduan
bentuk kertas yang bertumpuk berongga serta membawa sensasi tertentu.
Yang mengagetkan adalah imbuhan cahaya pada karya Menggapai
Ibu, berpendar menerangi bagian kertas yang berlobang, sebab Agus dilaburi
cat sedikit, hinggga memberi impresi tertentu. Sumber curahan cahaya tersebut,
berupa lampu-lampu mungil di bagian tersembunyi di dalam karya.
Karya menjadi semacam kotak box transparan, bisa disaksikan
dengan mudah, yang membawa ingatan seperti aeolah karya dibantu mesin cetak
dengan pendekatan desain, namun Agus membawanya dalam ekspresi-ekspresi intim
yang menggugah emosi dan keterkaitan antara juluk Hulu, Oase, dan Ibu.
Seketika, benak akan berasosiasi pengertian hulu, sebagai
kesepakatan bahasa bahwa ia memberi pengertian asal-muasal, yakni mata air dan
sungai. Sementara oase adalah sebuah ruang-ruang terpenting saat manusia
menemukan perjumpaan atas kekeringan dan menuntaskan rasa haus di sebuah gurun
pasir. Sedangkan ibu, segala semesta manusia berasal dan tentunya sebagai pusat
kasih.
Agus memberi kekayaan tafsir dengan tanda, meski secara
abstraktif benak kita tak menemui logika sungai, mata air serta wujud yang cair
di gurun, serta bentuk manusia perempuan sebagai ibu. Keterikatan antar ketiga
karya ini memberi satu pesan maknawi yang menghunjam jauh ke kalbu.
Hulu dikelir dengan warna putih bertemu kehitaman, sementara
coklat, biru kehijauan diterakan warnanya di Oase, sementara pemberhentian
utamanya adalah pendaran cahaya yang seolang jatuh, berkedip di ronga-rongga
kertas berlabur ochre itu. Sebuah pesan yang menyentuh dan Agus
Budiyanto sungguh-sungguh mewakili setarikan nafas, sehamparan jiwa kita,
mengenang sosok ibu dengan cara paling khidmat lewat seni.
