Logo Porosbumi
Rabu,
08 April 2026
LIVE TV

Simak 3 Jurus Mentan Amran Selamatkan Gula Nasional, Bongkar Ratun, Rem Impor, dan Suntik Industri

Yani Andriyansyah 08 Apr 2026, 20:46:47 WIB
Simak 3 Jurus Mentan Amran Selamatkan Gula Nasional, Bongkar Ratun, Rem Impor, dan Suntik Industri
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, membuka tiga jurus pamungkas pemerintah untuk membenahi gula nasional dari hulu sampai hilir. (dok. Kementan)

Di balik manisnya gula yang kita seduh tiap pagi, ada cerita pahit yang sudah lama mengendap, produktivitas loyo, tata niaga semrawut, dan petani tebu yang kian terjepit. Menteri Pertanian Andi Amran SulaimanRabu (8/4/2026),  akhirnya membuka tiga jurus pamungkas pemerintah untuk membenahi gula nasional dari hulu sampai hilir, bongkar ratun besar-besaran, pasang rem impor lewat Lartas, dan revitalisasi industri secara menyeluruh.


Jurus ini bukan wacana. Disampaikan langsung usai Rapat Terbatas dan RDP dengan Komisi VI DPR RI, langkah tersebut jadi bagian dari misi besar, memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengembalikan senyum petani tebu. Lantas, seperti apa ketiga jurus Mentan Amranb membenahi urusan industry gula ini? Yuk simak.  


Jurus 1, Bongkar Ratun, Cabut Akar Masalah di Hulu

Masalah gula ternyata berakar di kebun. Hasil evaluasi nasional 2025 atas arahan Presiden menunjukkan fakta getir, 70–80% tanaman tebu di Indonesia sudah tidak layak. Usianya kelewat tua, produktivitasnya jeblok.


Kita cek tebu-tebu seluruh Indonesia, 70 sampai 80 persen itu tidak layak. Sehingga kita lakukan bongkar ratun. Bapak Presiden meminta kami untuk membantu petani tebu Indonesia. Kami langsung anggarkan Rp1,7 triliun di 2025, kita lanjutkan di 2026, tegas Mentan Amran.


Dari 500 ribu hektare lahan tebu nasional, lebih dari 300 ribu hektare adalah tanaman tua. Tidak mungkin produksinya bisa naik. Sehingga petani tidak bisa untung,” lanjutnya.


Solusinya? Negara turun tangan. Pemerintah subsidi penuh bongkar ratun 100 ribu hektare per tahun selama 3 tahun. Targetnya jelas, dalam tiga tahun, kebun tebu Indonesia kembali muda dan produktif. “Langkah pemerintah adalah kita bantu bongkar ratun, dan itu subsidi pemerintah. Insya Allah 3 tahun selesai,” ujar Amran.


Jurus 2, Pasang Rem Impor, Tutup Rembesan Gula Rafinasi

Aneh tapi nyata, di satu sisi kita impor gula, di sisi lain gula lokal dan molase milik petani justru tidak laku. Harga molase yang dulu Rp1.900/liter terjun bebas ke Rp1.000/liter per Maret 2026. Gula PTPN menumpuk di gudang, sampai BUMN tekor Rp600 miliar.


Yang kedua, ini seperti anomali. Satu sisi kita impor gula, tetapi anehnya gula kita tidak bisa laku. Molase kita tidak bisa laku. Ada apa?” kata Mentan, heran.


Penyebabnya terbongkar, rembesan gula rafinasi. Gula yang seharusnya untuk industri diam-diam masuk ke pasar konsumsi sebagai gula putih. Praktik ini ditemukan di Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, dan beberapa daerah lain. Rembesannya kita tangkap... dikategorikan dimasukkan ke pasar sebagai white sugar, gula konsumsi. Ini membahayakan,” tegasnya.


Presiden pun langsung turun tangan. Kebijakan Larangan dan Pembatasan (Lartas) resmi diterbitkan untuk mengerem impor sekaligus menutup celah penyimpangan. “Solusinya adalah Bapak Presiden perintahkan Lartas. Dan itu sudah terbit. Kita harus memberi batasan,” ujar Amran sekaligus meminta BUMN ikut mengawal distribusi agar bisa dikontrol.


Jurus 3, Revitalisasi Total, Bangun Ekosistem dari Hulu ke Hilir

Dua jurus saja tidak cukup. Jurus ketiga adalah revitalisasi besar-besaran industri gula nasional. Tujuannya, membangun ekosistem yang sehat dan berkelanjutan, bukan tambal sulam. Terakhir adalah kita akan melakukan revitalisasi besar-besaran ke depan. Jadi itu solusi. Dan kita ini tidak bisa sendirian. Ini perkolaborasi, ungkap Mentan.


Dengan tiga jurus ini, Amran optimistis swasembada gula konsumsi bisa tercapai paling lambat tahun depan. Kita perbaiki tanaman. Itu mutlak. Tiga tahun berturut-turut. Insya Allah white sugar, swasembada paling lambat tahun depan,” tegasnya.


Berapa Lagi Kurangnya?

Saat ini produksi gula nasional 2,6–2,7 juta ton, sementara kebutuhan gula konsumsi 2,8–2,9 juta ton. Selisihnya tinggal 100–200 ribu ton — angka yang sangat mungkin dikejar.Total kebutuhan gula nasional sendiri 6,7 juta ton: 2,8 juta ton untuk konsumsi, 3,9 juta ton untuk industri. Dari luas areal 563 ribu hektare, produksi gula kristal putih baru 2,67 juta ton.


Tapi Mentan Amran mengingatkan, swasembada bukan cuma soal tonase. Tata kelola yang adil adalah kuncinya. Aneh banget kan? Tolong deh, kalau ada yang main-main, jangan permainkan nasib orang kecil,” katanya menohok.


Mentan Amran menutup dengan capaian pangan yang sudah terbukti, stok beras nasional tembus 4,6 juta ton per April ini—tertinggi sepanjang sejarah. Padahal biasanya April hanya 1,5 juta ton. “Sekarang gudang tidak muat,” pungkasnya.


Tiga jurus sudah diluncurkan. Pertaruhan kali ini bukan cuma soal gula, tapi soal keberpihakan. Jika bongkar ratun jalan, rem impor ketat, dan industri direvitalisasi, manisnya gula kelak akan terasa sampai ke petani. (yans)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```