Logo Porosbumi
18 Mei 2026,
18 May 2026
LIVE TV

Bersepeda Lintas Negara dan Benua Karena Tanah yang Makin Kritis

PorosBumi 18 Mei 2026, 15:08:27 WIB
Bersepeda Lintas Negara dan Benua Karena Tanah yang Makin Kritis

JARAK sering membuat orang merasa dapat mengambil langkah menjauh dari suatu persoalan. Namun bagi aktivis lingkungan Konstantin Zulske, jarak bukan alasan untuk mengabaikannya.

Dari Jerman Timur ke India hingga Indonesia, Konstantin Zulske telah menempuh lebih dari 17.000 kilometer hanya dengan bersepeda. Semua itu ia lakukan untuk mempromosikan Save Soil, sebuah gerakan yang mengangkat kesadaran mengenai degradasi tanah yang semakin cepat terjadi di berbagai belahan dunia.

Selama perjalanannya, ia telah melakukan banyak wawancara, berkemah di ruang terbuka, melintasi negara-negara berbeda, serta bertemu orang-orang dari berbagai latar budaya yang ikut membentuk perjalanan hidup dan pemahamannya tentang makna gerakan ini.

Saat ini, ia berada di Jakarta setelah menyelesaikan perjalanan di sejumlah wilayah Indonesia dan Bali. Wawancaranya bersama tim India News Desk di Taman Menteng menjadi salah satu titik terbaru dalam perjalanan panjangnya.

Melintasi Batas untuk Sebuah Misi Global

Save Soil awalnya didirikan oleh Sadhguru dan Isha Foundation sebagai upaya meningkatkan perhatian terhadap krisis degradasi tanah. Apa yang semula muncul sebagai isu lokal kemudian berkembang menjadi gerakan global dengan jutaan relawan di berbagai negara.

Menurut Konstantin, para ilmuwan telah memperingatkan bahwa sekitar 52 persen tanah produktif untuk pertanian di dunia telah mengalami degradasi, menciptakan dampak yang jauh melampaui sektor pertanian itu sendiri.

Bagi Konstantin, persoalan ini berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, hilangnya keanekaragaman hayati, migrasi, perubahan iklim, hingga stabilitas global.
“Semua orang berbicara tentang perubahan iklim dan krisis air. Namun hampir tidak ada yang membicarakan soal tanah,” ujarnya.

Keterlibatan Konstantin dalam gerakan ini terasa alami. Jauh sebelum perjalanan dimulai, bersepeda telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia mengaku terbiasa menempuh perjalanan jauh sejak masa sekolah hingga kuliah, bahkan sering bersepeda puluhan kilometer setiap hari.

Ketika latar belakang akademiknya di bidang ilmu tanah bertemu dengan gerakan Save Soil, ia merasa menemukan perpaduan antara minat pribadi dan tujuan hidup.

“Saya suka bersepeda, saya suka menyelamatkan tanah. Jadi itulah yang mendorong saya melakukan sesuatu yang cukup gila,” katanya sambil tertawa.

Keputusan “gila” itu kemudian berkembang menjadi #cyclingforsoil, sebuah misi yang membawanya melintasi benua dan berbagai bentang alam. Ketika ditanya mengenai bagian paling berkesan dari perjalanannya, Konstantin mengatakan banyak momen istimewa muncul justru saat ia sendirian.

Di luar wawancara dan interaksi dengan masyarakat lokal, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk memperhatikan perubahan lanskap yang ia lewati. Jalanan, pegunungan, garis pantai, hutan, hingga langit malam perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.

Lanskap Indonesia, Keramahan Warga, dan Tantangan yang Tak Diduga

Meski perjalanan panjangnya dipenuhi berbagai tantangan, Konstantin justru menyebut Indonesia sebagai salah satu pengalaman tersulit secara fisik.

Setelah menghabiskan enam bulan di India untuk fokus pada yoga dan meditasi tanpa bersepeda, ia tiba di Jakarta dan langsung memulai perjalanan menuju Bandung melalui jalur Puncak.

Di tengah perjalanan, ia mengalami gangguan pencernaan sekaligus nyeri hebat pada lutut saat harus menghadapi jalur menanjak. Namun kesulitan di awal itu perlahan tergantikan oleh pengalaman-pengalaman yang membekas.

Saat pertama kali tiba di Jakarta bertepatan dengan perayaan Idulfitri, ia justru dikejutkan oleh suasana kota yang sangat sepi. Setelah datang dari Mumbai yang padat dan ramai, Jakarta yang lengang terasa sangat berbeda dari bayangannya.

Ketika mulai kembali bersepeda, ia merasakan antusiasme masyarakat Indonesia yang menurutnya sangat unik.
“Semua orang sangat antusias melihat saya,” katanya sambil tertawa saat mengingat bagaimana orang-orang meneriakkan “Mister!” dan “Bule!” berkali-kali sepanjang perjalanan.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat mengunjungi Gunung Bromo. Melihat gunung berapi dari jarak dekat untuk pertama kalinya, lalu menuruni jalur menuju Probolinggo di bawah cahaya bulan, menjadi salah satu momen yang paling ia ingat.

Ia menggambarkan perjalanan melewati garis pantai, jalanan yang diterangi bulan, hingga area dengan kunang-kunang sebagai pengalaman yang sulit dilupakan. Ia juga memuji keramahan masyarakat Indonesia.

“Orang Indonesia sangat ramah dan menyenangkan,” ujarnya sambil tertawa.
Mulai dari sekolah, universitas, hingga warga yang membuka pintu rumah dan berbagi makanan dengannya, Konstantin merasa selalu diterima selama berada di Indonesia.

Menjelang akhir wawancara, Konstantin mengatakan pelajaran terbesarnya bukan sekadar tentang perjalanan fisik.
Bertahun-tahun menghabiskan waktu di jalan yang panjang dan sepi memberinya ruang untuk menghadapi banyak pikiran yang selama ini tenggelam di tengah rutinitas.

Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai perjalanan yang sangat personal, bahkan spiritual. Baginya, perjalanan itu menjadi kesempatan untuk memahami apa yang benar-benar ia inginkan dalam hidup dan hal-hal yang ternyata tidak terlalu ia perlukan.

Di luar refleksi pribadi, perjalanan juga mengubah cara pandangnya terhadap orang lain. Setelah mengunjungi berbagai negara, termasuk wilayah yang sering dikaitkan dengan ketegangan politik, ia menyadari bahwa manusia di mana pun memiliki harapan dan pergumulan yang serupa.
“Pada akhirnya, manusia tetaplah manusia,” ujarnya.

Saat menutup percakapan, Konstantin mengingatkan bahwa di balik seluruh pengalaman positifnya, ia juga melihat langsung pembakaran sisa tanaman dan sungai-sungai yang mulai mengering selama perjalanannya.

Degradasi tanah terus berlangsung secara perlahan di banyak tempat, tetapi ia percaya kesadaran dan tindakan bersama masih dapat mengubah masa depannya.

Tentang Degradasi Tanah

Diketahui, degradasi tanah adalah menurunnya kualitas dan kesuburan tanah akibat aktivitas manusia atau bisa juga karena proses alami. Hal ini menyebabkan tanah kehilangan kemampuan untuk mendukung pertumbuhan tanaman, menyerap air, dan menyediakan nutrisi, sehingga lahan menjadi kritis dan tidak produktif. 

Degradasi tanah umumnya dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya erosi atau pengikisan lapisan humus dan tanah subur oleh air hujan atau angin. Bisa juga akibat praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, seperti monokultur terus-menerus dan penggembalaan hewan yang berlebihan.

Pencemaran akibat akumulasi bahan kimia beracun, pestisida, atau limbah industri; deforestasi atau alih fungsi hutan menjadi lahan terbuka atau perkebunan yang mempercepat kerusakan struktur tanah; serta degradasi kimia hingga berkurangnya unsur hara (nutrisi) tanah secara drastis, peningkatan salinitas (kadar garam), dan pengasaman tanah, juga memicu krisis degradasi tanah.

Jika dibiarkan, degradasi tanah membawa konsekuensi serius bagi lingkungan dan manusia, di antaranya menurunnya hasil pertanian; bencana alam seperti peningkatan risiko tanah longsor, banjir, dan kekeringan, hilangnya keanekaragaman hayati dan rusaknya habitat mikroorganisme dan flora lokal. 

Adapun upaya pemulihan (restorasi) untuk mengembalikan fungsi ekologis dan produktivitas lahan, beberapa langkah pengelolaan lahan berkelanjutan yang bisa diterapkan meliputi reboisasi atau penanaman kembali hutan gundul untuk memperkuat cengkeraman akar pada tanah, serta rehabilitasi lahan dengan pemulihan status hara tanah melalui penambahan bahan organik atau pupuk alami.

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```