BRIN dan Kemenekraf Perkuat Sinergi Riset untuk Ekosistem Ekonomi Kreatif
BADAN Riset dan Inovasi Nasional
(BRIN) dan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf)/Badan Ekonomi Kreatif
menandatangani Kesepahaman Bersama tentang Sinergi Riset dan Inovasi untuk
Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat
pemanfaatan riset dan inovasi dalam mendukung pertumbuhan sektor ekonomi
kreatif yang berdaya saing.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan ekonomi kreatif bertumpu
pada gagasan, talenta, pengetahuan, budaya, serta kemampuan mengolah teknologi
menjadi nilai tambah. Karena itu, penguatan sektor ini memerlukan dukungan
riset yang relevan agar mampu menjawab kebutuhan nyata para pelaku ekonomi
kreatif.
Baca Juga
“Kerja sama ini memiliki arti strategis karena menghadirkan
riset yang lebih dekat dengan kebutuhan pelaku ekonomi kreatif. Hasil riset
tidak boleh berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi harus bertransformasi
menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Arif dalam
sambutannya.
Menurutnya, ruang lingkup kesepahaman bersama mencakup
penelitian, pengembangan, pengkajian, penerapan dan inovasi, diseminasi hasil
riset, penguatan budaya inovasi, perlindungan kekayaan intelektual, pertukaran
data dan informasi, pengembangan kompetensi sumber daya manusia, serta
pemanfaatan sarana dan prasarana.
Arif menyebutkan, terdapat empat arah utama dalam
pelaksanaan kerja sama tersebut. Pertama, riset bersama harus disusun
berdasarkan kebutuhan nyata melalui pemetaan persoalan, potensi, dan
kesenjangan ekosistem ekonomi kreatif berbasis data sehingga agenda riset mampu
menjawab tantangan yang dihadapi.
Kedua, pemanfaatan hasil riset dan inovasi harus menjadi
orientasi sejak awal melalui pengembangan prototipe, rekomendasi kebijakan,
transfer teknologi, hingga komersialisasi kekayaan intelektual.
“Keberhasilan kita bukan diukur dari banyaknya kegiatan,
melainkan sejauh mana hasil riset dimanfaatkan, memberikan nilai tambah, dan
menghasilkan dampak yang nyata,” katanya.
Ketiga, BRIN mendorong penguatan sumber daya manusia dan
jejaring inovasi agar periset semakin memahami dinamika sektor kreatif,
sementara pelaku ekonomi kreatif memperoleh akses yang lebih luas terhadap
kepakaran, hasil riset, fasilitas, dan peluang kolaborasi.
Keempat, Arif menekankan pentingnya tata kelola data,
publikasi, kerahasiaan, dan kekayaan intelektual yang jelas sejak awal.
Menurutnya, kepastian mengenai hak, tanggung jawab, pemanfaatan, serta
mekanisme komersialisasi menjadi fondasi bagi terciptanya ekosistem inovasi
yang adil dan saling dipercaya.
Arif berharap penandatanganan kesepahaman bersama ini segera
ditindaklanjuti melalui penyusunan perjanjian kerja sama dan rencana aksi oleh
unit terkait di kedua lembaga.
“Saya berharap kolaborasi ini menghasilkan agenda riset
bersama yang konsisten, proyek percontohan yang dapat diperluas, teknologi dan
kekayaan intelektual yang dimanfaatkan, peningkatan kompetensi talenta, serta
rekomendasi berbasis bukti yang memperkuat kebijakan ekonomi kreatif,” ujarnya.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku
Riefky Harsya mengatakan penguatan riset menjadi salah satu kebutuhan utama,
dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan ekonomi
baru.
“Arahan Presiden, ekonomi kreatif menjadi mesin pertumbuhan
ekonomi baru yang dimulai dari daerah. Karena itu, pengembangannya membutuhkan
dukungan riset, inovasi, pembiayaan, serta perlindungan kekayaan intelektual,”
ujarnya.
Menurut Riefky, melalui kerja sama dengan BRIN, kedua
lembaga akan memperkuat penyusunan kajian dan riset, pertukaran data,
pengembangan skema pembiayaan yang lebih mudah diakses pelaku ekonomi kreatif,
serta fasilitasi perlindungan kekayaan intelektual. Kolaborasi tersebut juga
akan mendukung pengembangan creative hub, desa kreatif, hingga kurasi produk
lokal agar mampu bersaing di pasar global.
“Kami menyambut baik penandatanganan kesepahaman ini. Kami
meyakini sinergi dengan BRIN akan memperkuat ekonomi kreatif sebagai salah satu
penggerak ekonomi nasional yang tumbuh dari daerah,” ucapnya. (sbn)
