Hilangnya Hutan Ancaman Terbesar Kepunahan Gajah Sumatra
SELAMA bertahun-tahun, perburuan
gading menjadi simbol ancaman terhadap gajah. Namun, bagi Gajah Sumatra
(Elephas maximus sumatranus), ancaman terbesar saat ini justru datang dari
sesuatu yang jauh lebih sistematis, hilangnya hutan sebagai ruang hidupnya.
Data Daftar Merah IUCN menunjukkan bahwa lebih dari 69
persen habitat potensial gajah sumatra telah hilang dalam sekitar 25 tahun
terakhir, menjadikan Sumatra sebagai salah satu kawasan dengan tingkat
kehilangan habitat gajah tercepat di Asia. Peringatan Hari Gajah Sedunia (World
Elephant Day) menjadi momentum untuk melihat kembali persoalan konservasi dari
akar masalahnya.
Konflik yang semakin sering terjadi antara manusia dan gajah
bukanlah bukti bahwa populasi gajah semakin "mengganggu", melainkan
sinyal bahwa bentang hutan Sumatra semakin kehilangan kemampuannya menopang
kehidupan satwa liar.
Baca Juga
Kasus kematian induk dan anak gajah di Bentang Alam Seblat
pada tahun ini kembali memperlihatkan bahwa tekanan terhadap habitat telah
mencapai titik yang mengkhawatirkan.
Di banyak lokasi, jalur jelajah gajah terpotong oleh alih
fungsi lahan, pembangunan infrastruktur, dan fragmentasi hutan, sehingga satwa
ini semakin sering memasuki area pertanian dan permukiman. Ketika ruang hidup
menyusut, konflik menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
"Gajah tidak pernah memilih hidup berdampingan dengan
manusia. Mereka hanya terus berjalan mengikuti jalur jelajah yang telah
digunakan selama ratusan bahkan ribuan tahun. Ketika jalur itu berubah menjadi
kebun, jalan, atau permukiman, maka yang sesungguhnya terjadi adalah manusia
dan pembangunan telah memasuki ruang hidup gajah," ujar Samedi Direktur
Program Tropical Forest Conservation Action Sumatra (TFCA Sumatera) Yayasan
KEHATI.
Gajah Sumatra merupakan salah satu spesies payung (umbrella
species) yang mencerminkan kesehatan suatu bentang alam. Satwa ini membutuhkan
kawasan hutan yang luas, utuh, dan saling terhubung untuk mencari pakan, air,
serta berkembang biak.
Ketika habitat gajah terjaga, ribuan spesies tumbuhan dan
satwa lain yang hidup dalam ekosistem yang sama turut memperoleh perlindungan.
Selain itu, gajah juga berperan sebagai ecosystem engineer.
Melalui pergerakannya, gajah membantu menyebarkan biji
berbagai jenis pohon, membuka jalur alami di dalam hutan, dan mendukung
regenerasi vegetasi. Hilangnya gajah bukan hanya kehilangan satu spesies,
tetapi juga hilangnya fungsi ekologis yang menopang ketahanan hutan tropis.
Sampai saat ini, populasi gajah liar diperkirakan hanya
sekitar 1.200 individu di Sumatra dan berstatus critically endangered (Kritis)
dalam Daftar Merah IUCN setelah mengalami penurunan populasi sedikitnya 50
persen dalam satu generasi.
Karena itu, penyelesaian konflik manusia-gajah tidak dapat
hanya mengandalkan patroli, penggiringan satwa, atau pembangunan pagar
penghalang. Upaya-upaya tersebut penting sebagai respons jangka pendek.
Namun begitu, berbagai upaya yang dilakukan tidak akan
menyelesaikan persoalan selama akar masalahnya, yakni hilangnya habitat dan
terputusnya koridor ekologis belum ditangani secara serius. Komitmen tersebut
diwujudkan melalui dukungan perlindungan bentang hutan prioritas, restorasi
habitat, penguatan kapasitas masyarakat, serta tata kelola lanskap yang lebih
berkelanjutan.
Pendekatan teknologi juga dilakukan untuk memastikan
terjaganya populasi di alam, melalui pemetaan genetik, pembuatan sistem
peringatan dini konflik, pembangunan pembatas berupa power fencing,
pembuatan parit penghalang, dan tentunya fasilitasi proses penegakan hukum.
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan melindungi gajah
sumatra, tetapi juga menjaga fungsi ekologis hutan yang menjadi penyangga
kehidupan masyarakat, sumber air, serta penyimpan karbon yang penting dalam
menghadapi krisis iklim.
“Hari Gajah Sedunia 2026 mengingatkan bahwa masa depan Gajah
Sumatra tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan menghentikan perburuan, tetapi
juga oleh keberanian untuk menjaga hutan tetap utuh. Ketika hutan hilang, gajah
kehilangan rumahnya. Dan ketika gajah kehilangan rumahnya, sesungguhnya kita
sedang kehilangan salah satu penyangga terpenting bagi keberlanjutan bentang
alam Sumatra,” tutup Samedi. (fadlik al iman)
