KLH Ajak Generasi Muda Bongkar Rahasia Sukses Warga Ciamis Kelola Sampah Lewat KELANA
MENUMBUHKAN kesadaran lingkungan
pada generasi muda tidak cukup hanya lewat teori di ruang kelas. Berangkat dari
semangat tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan
Hidup (KLH/BPLH) membawa 13 pelajar terpilih dari wilayah Jabodetabek bersama
Putri Indonesia Lingkungan 2026, Victoria Veronica Titisari Kosasieputri, untuk
turun langsung ke Kabupaten Ciamis, Jumat (7/8/2026).
Melalui program edukasi Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda
(KELANA), para peserta diajak melihat dari dekat bagaimana masyarakat Ciamis
sukses menyulap daerahnya menjadi kawasan percontohan pengelolaan sampah
nasional.
Kabupaten Ciamis dipilih secara khusus oleh KLH/BPLH karena
rekam jejaknya yang luar biasa. Kota yang identik dengan julukan "kota
pensiunan" ini mampu membuktikan diri sebagai kawasan yang asri, hijau,
dan bersih.
Baca Juga
Dedikasi warganya bahkan telah membuahkan penghargaan
bergengsi tingkat internasional, yakni ASEAN Environmentally Sustainable Cities
(ESC) Award pada tahun 2025, serta keberhasilan mempertahankan trofi Adipura
hingga Adipura Kencana.
Koordinator Kelompok Kerja Komunikasi, Informasi, dan
Edukasi Biro Hubungan Masyarakat KLH/BPLH, Romi Setiawan, menjelaskan bahwa
keunggulan Ciamis justru tidak semata-mata bergantung pada infrastruktur besar,
melainkan pada denyut partisipasi warganya yang sangat tinggi.
“Kami mengajak anak-anak muda melihat langsung praktik baik
yang dilakukan pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas lingkungan, hingga
para penerima Kalpataru. Ciamis menjadi salah satu daerah yang layak dipelajari
karena kekuatan pemberdayaan masyarakatnya,” ujar Romi di sela-sela kegiatan
pendampingan peserta.
Sejak rombongan memasuki area Ciamis, suasana bersih dan
jalanan yang minim sampah daun langsung mencuri perhatian. Menyadari hal itu,
Romi berharap semangat warga Ciamis bisa menjadi inspirasi yang menular.
“Virus baik seperti ini jangan berhenti di Ciamis. Harus
menyebar ke daerah lain. Ciamis membuktikan bahwa daerah yang tidak ditopang
industri besar tetap mampu berprestasi berkat kekuatan masyarakat,” katanya
menekankan pesan utama dari misi edukasi KLH/BPLH.
Kekuatan Gotong Royong dan Kemandirian Warga
Rahasia utama kebersihan Ciamis rupanya berakar dari budaya
gotong royong yang dilembagakan dengan baik dari tingkat kelurahan hingga
kecamatan. Pemerintah Kabupaten Ciamis secara konsisten merangkul warganya
melalui kolaborasi antar-perangkat daerah, salah satunya lewat kompetisi
kebersihan yang disambut antusias oleh masyarakat.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan
Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Ciamis, Slamet Budi Wibowo membeberkan
strategi humanis di balik capaian tersebut.
“Setiap tahunnya kami rajin memberikan apresiasi kepada
kecamatan yang berhasil menjaga kebersihan dan pengelolaan sampahnya. Hampir
setiap kecamatan telah memiliki bank sampah dan masyarakat secara mandiri telah
mengelola sampahnya. Model kompetisi ini diterapkan agar masyarakat mempunya
rasa memiliki dan semangat menjaga wilayahnya,” terang Slamet.
Kebiasaan merawat lingkungan ini kian kuat dengan hadirnya
tradisi 'Jumat Bersih'. Kegiatan yang digerakkan di setiap tingkatan
administrasi daerah ini kini telah meluas dengan merangkul para pelaku UMKM dan
pihak sekolah.
Dari Sampah Menjadi Berkah Ekonomi
Untuk melihat langsung ujung tombak dari pengelolaan ini,
para peserta KELANA diajak mengunjungi TPS 3R Kartini di Desa Imbanagara Raya,
Kecamatan Ciamis. Di sana, para pelajar menyaksikan proses pengolahan plastik
dengan mesin press, hingga pembuatan kompos dari sampah organik yang
terintegrasi apik dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat, sehingga mampu
memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga.
Sekretaris DPRKPLH Kabupaten Ciamis, Aris Taufik Abadi,
mengungkapkan bahwa secanggih apa pun fasilitas TPS, kuncinya tetap berada di
tangan warga, yakni pemilahan dari skala rumah tangga. “Masyarakat sudah
melakukan pemilahan sampah dari sumbernya. Itu yang membuat proses pengolahan
di TPS menjadi lebih mudah dan efektif,” jelas Aris.
Bagi warga Ciamis, deretan piala dan penghargaan di tingkat
nasional maupun internasional hanyalah bonus dari tumbuhnya kesadaran kolektif
yang mengakar.
“Penghargaan bukan tujuan akhir. Yang paling penting adalah
menjaga budaya masyarakat agar tetap peduli terhadap lingkungan. Pengelolaan
lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus menjadi
gerakan bersama,” tegasnya menutup rangkaian kunjungan hari itu.
Program edukasi KELANA edisi ketiga yang diinisiasi KLH/BPLH
ini menempuh perjalanan selama delapan hari tujuh malam, melintasi rute
Jakarta, Ciamis, Banyumas, Yogyakarta, hingga berakhir di Magelang. Perjalanan
panjang ini diharapkan tidak sekadar menjadi kunjungan lapangan, namun mampu
mencetak agen-agen perubahan lingkungan yang siap membawa "virus
baik" ini ke tempat asal mereka.
