Breaking News..
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
- Dari London, Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Penertiban Kawasan Hutan
- Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan
◀
▶
Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah

Keterangan Gambar : Ilustrasi PAM Jaya- Istimewa
YULIANTI
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi
FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta
KASUS yang dialami oleh PAM Jaya merefleksikan persoalan reputasi organisasi yang bersumber dari ketidakharmonisan antara mandat institusional sebagai penyedia layanan publik dengan persepsi masyarakat terhadap kinerja layanan yang dirasakan secara langsung. Ketidakselarasan ini terutama terlihat pada isu kualitas distribusi air bersih, kebijakan kenaikan tarif, serta berbagai persoalan tata kelola yang dinilai belum sepenuhnya transparan dan akuntabel.
Berbeda dengan krisis reputasi yang semata-mata dipicu oleh dinamika pemberitaan di media, persoalan PAM Jaya menyentuh aspek fundamental hak dasar masyarakat, yaitu akses terhadap air bersih. Oleh karena itu, dampaknya terhadap reputasi organisasi menjadi lebih serius karena berkaitan langsung dengan kepentingan publik dan legitimasi sosial lembaga sebagai penyelenggara layanan vital.
Dalam perspektif teori reputasi organisasi, Argenti (2023) menegaskan bahwa reputasi terbentuk melalui konsistensi antara identitas organisasi, nilai-nilai yang dianut, serta perilaku nyata yang diwujudkan dalam praktik operasional.
Dalam konteks PAM Jaya, organisasi berupaya membangun identitas sebagai badan usaha milik daerah yang berorientasi pada keberlanjutan dan pelayanan publik yang adil. Namun, pada tataran implementasi, masih ditemukan kesenjangan antara narasi identitas tersebut dengan pengalaman masyarakat sebagai pengguna layanan, khususnya terkait kualitas air dan pemahaman atas rasionalitas penyesuaian tarif.
Ketidaksesuaian antara pesan yang dikomunikasikan dengan realitas layanan inilah yang memunculkan apa yang dalam kajian komunikasi organisasi disebut sebagai trust gap, yaitu menurunnya tingkat kepercayaan publik akibat inkonsistensi antara janji dan tindakan
Merujuk pada kerangka strategis yang ditawarkan Argenti, upaya pemulihan kepercayaan publik dalam situasi seperti ini tidak dapat dilakukan hanya melalui kampanye komunikasi simbolik.
Organisasi perlu mengedepankan strategi komunikasi yang berbasis pada transparansi, khususnya dalam penyediaan data kinerja layanan, dasar penetapan tarif, serta capaian dan kendala operasional yang dihadapi. Selain itu, penting bagi PAM Jaya untuk membangun komunikasi dua arah yang memungkinkan partisipasi dan umpan balik masyarakat secara berkelanjutan.
Konsistensi antara pesan yang disampaikan kepada publik dengan tindakan nyata dalam peningkatan kualitas layanan menjadi prasyarat utama agar komunikasi reputasi tidak bersifat retoris, melainkan mampu membangun kembali kepercayaan dan legitimasi sosial organisasi dalam jangka panjang.
Sebagai langkah strategis dalam memperbaiki kinerja dan reputasi organisasi, diperlukan sejumlah rekomendasi yang mencakup dimensi internal, eksternal, dan tata kelola. Pada tingkat internal, organisasi perlu memperkuat komunikasi mengenai nilai-nilai layanan publik kepada seluruh karyawan agar setiap individu memahami peran dan tanggung jawabnya sebagai pelayan kepentingan masyarakat, bukan semata pelaksana teknis. Penguatan ini penting untuk menanamkan orientasi etis dan meningkatkan konsistensi perilaku organisasi dalam memberikan layanan.
Pada ranah eksternal, pengembangan portal transparansi layanan menjadi instrumen komunikasi yang strategis untuk menyampaikan informasi kinerja, kualitas layanan, serta dasar pengambilan kebijakan secara terbuka kepada publik. Upaya ini perlu dilengkapi dengan strategi komunikasi krisis yang berbasis data agar organisasi mampu merespons isu secara faktual, akurat, dan kredibel.
Sementara itu, dari perspektif tata kelola, pembentukan dewan pengawas independen menjadi langkah krusial untuk memastikan akuntabilitas, meningkatkan pengawasan terhadap pengambilan keputusan, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap integritas dan profesionalisme organisasi.
Para pemangku kepentingan utama dalam konteks PAM Jaya mencakup pelanggan sebagai pengguna langsung layanan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemilik dan regulator, media massa sebagai pembentuk opini publik, serta masyarakat sipil yang berperan dalam mengawasi penyelenggaraan layanan publik.
Di luar kelompok tersebut, terdapat pula silent stakeholders seperti kelompok masyarakat rentan dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam advokasi hak atas air. Meskipun suara mereka tidak selalu dominan dalam ruang publik, kelompok ini memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan legitimasi sosial organisasi, khususnya dalam isu keadilan akses dan keberlanjutan layanan air bersih.
Merujuk pada pandangan Argenti, pendekatan komunikasi PAM Jaya masih cenderung menitikberatkan pada penyampaian pesan (messaging) dibandingkan pada upaya membangun hubungan jangka panjang dengan para pemangku kepentingan.
Strategi komunikasi yang bersifat satu arah melalui media memang efektif dalam menyebarluaskan informasi dan kebijakan organisasi, namun menjadi kurang optimal bahkan berpotensi kontraproduktif apabila tidak disertai dengan mekanisme dialog publik yang memungkinkan pertukaran pandangan, klarifikasi, serta partisipasi masyarakat. Tanpa pendekatan relationship building, komunikasi organisasi berisiko memperlebar jarak kepercayaan antara PAM Jaya dan para pemangku kepentingannya.
Berbagai inisiatif keberlanjutan yang dijalankan oleh PAM Jaya mencerminkan adanya komitmen organisasi terhadap aspek lingkungan, namun komitmen tersebut belum sepenuhnya diperkuat oleh penyusunan dan publikasi laporan ESG yang terukur, sistematis, dan dapat diverifikasi. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kesenjangan antara klaim keberlanjutan yang disampaikan kepada publik, ketersediaan data yang mendukung, serta tindakan nyata yang dilakukan dalam praktik operasional. Ketidakterpaduan tersebut berisiko melemahkan kredibilitas komunikasi keberlanjutan organisasi.
Oleh karena itu, diperlukan strategi komunikasi keberlanjutan yang lebih komprehensif, antara lain melalui publikasi laporan ESG secara tahunan sebagai bentuk akuntabilitas dan transparansi kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola. Selain itu, pembukaan akses terhadap data kinerja layanan dan dampak lingkungan menjadi langkah penting untuk memperkuat kepercayaan publik berbasis bukti. Upaya ini perlu dilengkapi dengan penyelenggaraan dialog keberlanjutan bersama para pemangku kepentingan kunci agar komunikasi tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga partisipatif dan mampu membangun legitimasi jangka panjang.
Secara keseluruhan, reputasi PAM Jaya ditentukan oleh sejauh mana organisasi mampu menjaga keselarasan antara identitas yang dikonstruksikan, strategi komunikasi yang dijalankan, serta kinerja nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Mengacu pada kerangka pemikiran Argenti, konsistensi antara nilai, pesan, dan tindakan menjadi faktor kunci dalam membangun dan mempertahankan kepercayaan publik. Tanpa integrasi yang utuh antara ketiga elemen tersebut, upaya komunikasi reputasi berisiko kehilangan legitimasi dan tidak mampu menjawab ekspektasi pemangku kepentingan terhadap peran PAM Jaya sebagai penyedia layanan publik yang bertanggung jawab.
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

