Nishimura Mako, Wanita Yakuza dengan Reputasi Mengerikan, Ahli Potong Jari Kelingking
DUNIA yakuza adalah labirin patriarki yang kejam. Di sana, perempuan biasanya hanya menjadi bayangan di pinggiran. Namun, Nishimura Mako menghancurkan aturan main itu.
Selama 30 tahun, Nishimura Mako merajai bisnis prostitusi, narkoba, hingga penagihan utang. Reputasinya begitu mengerikan hingga ia mengklaim tidak pernah kalah sekali pun dalam perkelahian satu lawan satu melawan pria.
Pemberontakan Mako lahir dari rumah yang mengekang. Lahir di keluarga pejabat pemerintah yang super ketat, ia kenyang dengan siksaan fisik sang ayah. Muak, Mako remaja memilih kabur, membolos, dan bergabung dengan geng motor.
Ketika ayahnya mencukur habis rambutnya karena dicat pirang, Mako memantapkan langkahnya untuk menjadi buronan rumah. Ia lalu menamai dirinya Mako, yang berarti "Anak Iblis."
Gerbang dunia bawah tanah terbuka lewat sebuah pertumpahan darah di jalanan. Di usia 19 tahun, Mako nekat melawan lima pria demi membela temannya yang sedang hamil.
Ia mengamuk tanpa ampun hingga kelima pria itu mandi darah. Brutalitas itu memikat seorang bos klan yakuza lokal. Ia direkrut dengan kalimat mutiara: "Bahkan jika kamu seorang wanita, kamu harus menjadi yakuza."
Tepat usia 20 tahun, dengan kimono pria, Mako menenggak cawan sake dalam ritual sakazuki—tanda resmi ia diadopsi oleh dunia hitam. Kariernya melesat tanpa belas kasihan.
Mako mengomandoi jaringan prostitusi, pemerasan, dan narkoba. Kekejamannya teruji saat ia harus melakukan yubitsume—ritual memotong jari kelingking sebagai permohonan maaf.
Alih-alih takut, Mako justru menemukan "bakat" baru. Ia menjadi sangat ahli memotong jari hingga anggota yakuza lain yang penakut kerap menyewa jasanya. Julukan baru pun melekat: "Sang Juru Potong Jari."
Setelah dua kali mendekam di penjara, otoritas Jepang akhirnya mencatat sejarah: Mako resmi diakui sebagai yakuza wanita pertama. Namun, kejayaan itu runtuh ketika sabu-sabu mulai menguasai klannya.
Mako terjebak kecanduan parah. Ia sempat keluar, namun tato penuh di tubuh dan jari kelingking yang buntung membuatnya ditolak mentah-mentah oleh masyarakat urban.
Dipecat berkali-kali dari pekerjaan normal, ia kembali ke pelukan dunia hitam, menikah dengan bos geng rival, melahirkan dua putra, hingga akhirnya bercerai dan benar-benar tobat di usia akhir 40-an.
Kini, di usia 58 tahun, "Anak Iblis" itu telah bertransformasi. Tinggal di apartemen sederhana di Gifu, Mako menyambung hidup sebagai buruh penghancur bangunan—satu dari sedikit pekerjaan yang mau menerima tatonya.
Sisa energinya kini didedikasikan untuk memimpin sebuah yayasan nirlaba yang membantu para mantan narapidana dan yakuza kembali ke masyarakat.
Sambil memandangi foto anak-anaknya, Mako menulis sebuah memoar penyesalan. Ia menutup babak kelam hidupnya dengan satu harapan: "Aku berharap yakuza akan terus menyusut, dan akhirnya punah." (clara raisya)
