Pemprov DKI Percepat Revitalisasi Kota Tua, MRT Jadi Kunci
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menegaskan komitmennya untuk mempercepat revitalisasi kawasan Kota Tua sebagai pusat sejarah, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Pengembangan transportasi publik terintegrasi, khususnya MRT Jakarta, diproyeksikan menjadi faktor kunci dalam mentransformasi kawasan tersebut.
Komitmen itu disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam kegiatan Intimate Dialogue Kota Tua Update yang digelar di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, pada Kamis (9/3).
“Game changer Kota Tua adalah MRT. Ketika MRT tersambung hingga Kota Tua pada 2029, kawasan ini akan berubah secara signifikan. Karena itu, konsep transit-oriented development (TOD) sudah kami siapkan sejak sekarang, termasuk kemudahan akses transportasi,” ujarnya.
Selain MRT, Pemprov DKI juga mendorong elektrifikasi jalur kereta eksisting yang menghubungkan kawasan utara Jakarta, termasuk rute menuju Tanjung Priok dan Jakarta International Stadium (JIS). Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas sekaligus menekan emisi.
Menurut Pramono, pemanfaatan jalur lama menjadi kereta listrik akan memberikan dampak signifikan terhadap sistem transportasi di wilayah utara Jakarta. “Rutenya kurang lebih 16 kilometer pada tahap awal, kemudian sekitar 28 kilometer pada tahap berikutnya. Ini bukan pembangunan baru, melainkan pemanfaatan jalur kereta nonlistrik menjadi listrik,” jelasnya.
Pramono juga menekankan pentingnya menjaga kawasan cagar budaya di Jakarta, termasuk Kota Tua, Pasar Baru, dan Glodok (Pecinan), serta rencana pembangunan Museum Peranakan sebagai bagian dari penguatan identitas sejarah Jakarta.
“Warisan budaya di Kota Tua dan sejumlah kawasan cagar budaya harus tetap terawat dengan baik. Masa depan Jakarta ada di Kota Tua dan Kepulauan Seribu, karena keduanya akan menjadi daya tarik utama kota ini,” tuturnya.
Ia menambahkan, revitalisasi Kota Tua dilakukan secara bertahap dan terencana, dengan pendekatan yang inklusif agar dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. “Saya menginginkan pembangunan dilakukan secara bertahap dan konsisten, sehingga Kota Tua dapat menjadi destinasi wisata yang inklusif bagi semua kalangan,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno, mengatakan revitalisasi Kota Tua merupakan langkah strategis untuk mengembalikan identitas Jakarta sebagai kota global yang berakar pada sejarah dan budaya.
“Kota Tua adalah titik awal peradaban Jakarta, dari era Sunda Kelapa hingga menjadi Jayakarta. Revitalisasi ini bukan pilihan, melainkan keharusan untuk memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global,” ungkapnya.
Rano menegaskan, pengembangan Kota Tua mengacu pada empat pilar utama, yakni sebagai pusat edukasi (education hub), ekonomi kreatif, budaya dan pariwisata, serta kawasan berbasis transportasi terintegrasi (transit-oriented development).
“Keempat pilar ini harus berjalan sebagai satu kesatuan. Kita tidak membangun secara parsial, tetapi membangun ekosistem yang utuh dan berkelanjutan,” urainya.
Ia juga menilai kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan sangat penting, mengingat kepemilikan aset Pemprov DKI di kawasan tersebut masih terbatas.
“Keberhasilan revitalisasi sangat bergantung pada kolaborasi dengan pemilik aset, pelaku usaha, dan mitra strategis. Kami ingin menghadirkan ekosistem yang visible, viable, dan profitable, sehingga memberikan kepastian, kemudahan, dan daya tarik bagi investasi yang berkelanjutan,” terangnya.
Rano juga mengungkapkan rencana untuk berkantor di kawasan Kota Tua sebagai bentuk keseriusan Pemprov dalam mengawal langsung proses revitalisasi. Selain itu, telah dibentuk kelompok kerja lintas sektor untuk mempercepat koordinasi dan implementasi program.
Revitalisasi tahap awal akan difokuskan pada zona inti, termasuk kawasan Museum Bahari dan Alun-alun Fatahillah. Penataan area parkir dan pedagang kaki lima (PKL) juga menjadi prioritas guna menciptakan kawasan yang tertib tanpa menghilangkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ke depan, Pemprov DKI Jakarta membuka opsi pengembangan transportasi rendah emisi, seperti trem di kawasan Kota Tua, yang akan diintegrasikan dengan jaringan MRT.
Rano optimistis kawasan Kota Tua akan berkembang menjadi destinasi wisata berkelas dunia yang hidup, produktif, dan inklusif, sekaligus menjadi simbol kebanggaan Jakarta dalam menyambut 500 tahun usia kota pada 2027.
