Logo Porosbumi
27 Agu 2026,
27 August 2026
LIVE TV

Peneliti BRIN Teliti Interaksi Laut dan Atmosfer di Laut Banda, Simak Hasilnya!

PorosBumi 27 Agu 2026, 17:13:21 WIB
Peneliti BRIN Teliti Interaksi Laut dan Atmosfer di Laut Banda, Simak Hasilnya!

PENELITI Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arief Suryo menyampaikan hasil penelitian mengenai dinamika interaksi laut-atmosfer di Laut Banda. Penelitian tersebut memanfaatkan data lima profiling floats atau pelampung profil yang beroperasi di Laut Banda pada Oktober 2022 hingga Agustus 2025.

“Selama periode tersebut, lima floats tersebut menghasilkan 681 profil yang telah melalui proses pengendalian kualitas (quality control),” ungkap Arief saat menyampaikan penelitian berjudul ‘Observed Barrier Layer Modulation of Intraseasonal Air-Sea Coupling in the Banda Sea from Five Profiling Floats’, dalam pertemuan tahunan ke-23 Asia Oceania Geosciences Society (AOGS) 2026.

Pertemuan ini berlangsung di Fukuoka International Congress Centre, Fukuoka, Jepang, 2–7 Agustus 2026 lalu. Penelitian ini didukung U.S. National Science Foundation melalui program Measurements and Modelling of the Indonesian Throughflow International Experiment (MINTIE).

Arief menjelaskan bahwa 681 data profil tersebut kemudian dikombinasikan dengan data ERA5 untuk memperoleh informasi mengenai kondisi atmosfer, termasuk fluks panas permukaan dan kecepatan angin, serta indeks Madden-Julian Oscillation (MJO) untuk mengidentifikasi kejadian MJO yang melintasi atau terhambat di wilayah Maritime Continent.

“Laut Banda merupakan wilayah yang penting untuk memahami interaksi antara atmosfer dan laut di kawasan Maritime Continent. Perubahan kondisi lapisan permukaan laut dapat memengaruhi respons laut terhadap angin dan pada akhirnya berkaitan dengan dinamika propagasi MJO,” jelas Arief.

Penelitian yang dilakukan bersama M. Furqon Aziz Ismail (BRIN), Widodo Setiyo Pranowo (BRIN), dan Stephen Riser dari University of Washington, Amerika Serikat itu salah satu fokusnya mengamati barrier layer di Laut Banda. Barrier layer yaitu lapisan air hangat yang berada di antara lapisan campur (mixed layer) dan termoklin.

Lapisan ini terbentuk akibat perbedaan struktur suhu dan salinitas sehingga dapat membatasi pencampuran vertikal air laut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa barrier layer di Laut Banda relatif tipis pada sebagian besar waktu. Dari 681 profil yang dianalisis, nilai tengah ketebalan barrier layer tercatat sekitar 1,8 meter, sedangkan sekitar 20 persen profil memiliki ketebalan lebih dari 10 meter.

Ketebalan barrier layer juga menunjukkan variasi musiman. Lapisan yang lebih tebal cenderung ditemukan pada periode basah dan relatif jarang terjadi pada Oktober hingga Desember. “Meskipun demikian, variasi musiman hanya menjelaskan sekitar 10 persen variasi ketebalan barrier layer dalam dataset penelitian”, terang Arief.

Penelitian kemudian menguji bagaimana keberadaan lapisan tersebut memengaruhi respons laut terhadap angin. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan respons yang kuat antara kondisi barrier layer tipis dan tebal. “Lapisan penghalang menjadi semacam pengatur interaksi antara atmosfer dan laut. Dengan kondisi angin yang sama, respons laut dapat berbeda bergantung pada struktur stratifikasinya,” ujar Arief.

Ketika barrier layer tipis, angin mendinginkan seluruh lapisan pada kedalaman 15 hingga 90 meter. Namun ketika barrier layer tebal, pendinginan itu hilang sama sekali dan lapisan pada kedalaman 45 hingga 100 meter justru menghangat, karena air hangat dari barrier layer terdorong ke bawah alih-alih air dingin terangkat ke atas.

Penelitian ini juga mengkaji hubungan antara MJO dan perubahan struktur lapisan laut. Dari periode pengamatan, terdapat 10 kejadian MJO yang memenuhi kriteria penelitian, terdiri atas empat kejadian yang berhasil melintasi Maritime Continent (crossing) dan enam kejadian yang terhambat (blocked).

Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kejadian MJO yang melintasi wilayah tersebut, kedalaman lapisan isotermal (isothermal layer depth/ILD) tercatat sekitar 26 meter lebih dalam dibandingkan kejadian yang terhambat, sedangkan kedalaman lapisan campur (mixed layer depth/MLD) sekitar 17 meter lebih dalam. Kedua selisih tersebut memiliki rentang ketidakpastian yang tidak mencakup nilai nol dan tetap bertahan ketika salah satu kejadian dikeluarkan dari analisis.

Sementara itu, perubahan ketebalan barrier layer sendiri menunjukkan arah yang sesuai dengan hipotesis penelitian, yakni bertambah sekitar 9 meter, tetapi rentang ketidakpastiannya masih mencakup nilai nol. Dengan demikian, besarnya perubahan barrier layer akibat MJO belum dapat ditetapkan secara kuat berdasarkan jumlah kejadian yang tersedia.

Arief menjelaskan bahwa salah satu keterbatasan penelitian adalah jumlah kejadian MJO yang dapat diamati oleh floats. Keempat kejadian MJO yang melintasi wilayah penelitian juga berada pada periode Desember hingga Maret sehingga terdapat faktor musiman yang perlu diperhitungkan dalam interpretasi hasil.

“Data yang tersedia menunjukkan adanya sinyal fisik yang menarik, tetapi jumlah kejadian masih terbatas. Karena itu, kami perlu berhati-hati dalam menggeneralisasi hubungan langsung antara MJO dan perubahan ketebalan barrier layer,” ungkapnya.

Temuan penelitian ini memperlihatkan pentingnya observasi laut secara langsung untuk memahami proses interaksi laut-atmosfer di wilayah kepulauan Indonesia. Keberadaan profiling floats memungkinkan pengamatan kondisi bawah permukaan laut yang sebelumnya relatif sulit diperoleh secara kontinu.

Ke depan, penelitian akan dikembangkan dengan memanfaatkan data akustik dari Passive Aquatic Listeners (PAL) yang terpasang pada floats. “Datanya sudah tersedia, hanya saja belum sempat diolah dan dianalisa lebih lanjut”, ungkap Arief.

Menurut Arief, data tersebut diharapkan dapat memberikan validasi independen terhadap data angin ERA5 sekaligus membantu menghubungkan kejadian hujan secara langsung dengan pembentukan lapisan air tawar di permukaan laut.

Kombinasi pengamatan in-situ, data atmosfer, serta indeks iklim menjadi penting untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai mekanisme interaksi laut dan atmosfer di kawasan Maritime Continent.

Partisipasi peneliti BRIN dalam AOGS 2026 sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hasil observasi dan penelitian kebumian Indonesia kepada komunitas ilmiah internasional. Forum tersebut juga membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengembangan jejaring kolaborasi penelitian di bidang oseanografi, meteorologi, dan ilmu kebumian. (dk,kf/ed:jml)

 

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```