- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
- Dari London, Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Penertiban Kawasan Hutan
- Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan
Peneliti Ungkap Peradaban Pertanian Papua Nugini 1000 Tahun Lebih Awal

PARA peneliti dari University of Otago menemukan peninggalan sejarah peradaban masa Neolitik di dataran tinggi Papua Nugini yang berusia 5.000 hingga 4.000 tahun yang lalu. Temuan tersebut menunjukan adanya peradaban maju pada zaman tersebut 1.000 tahun lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.
Profesor Glenn Summerhayes, salah satu peneliti, mengatakan bahwa temuan ini memberikan pengetahuan mengenai bagaimana dataran tinggi pertama kali ditempati, rute perdagangan, lingkungan, dan perubahan iklim sepanjang waktu.
Laporan tersebut menganalisis ukuran batu figuratif yang menjadi alat penumbuk paling awal yang berasal dari 5.050 hingga 4.200 tahun yang lalu. Batu tersebut ditemukan di situs penggalian Waim. Para peneliti juga menemukan kapak planiteral, dan bukti-bukti awal lainnya yaitu kerajinan anyaman yang dikirim antar pulau-pulau tetangga yang berjarak hampir 800 km.
"Bukti baru dari Waim mengisi celah kritis dalam pemahaman kita tentang perubahan sosial dan inovasi teknologi yang telah berkontribusi pada pengembangan keanekaragaman budaya di Papua Nugini," kata Profesor Summerhayes.
Kombinasi sistem sosial, teknologi, dan perilaku pertanian di dataran tinggi ini mendukung adanya peradaban Neolitik yang mandiri, lebih dari 1.000 tahun sebelum kedatangan bangsa Neolitik kebudayaan Lapita dari Asia Tenggara yang menguasai Pasifik.
Pada bagian kesimpulan, para peneliti mengungkapkan bahwa tekanan populasi pada distribusi sumber daya alam yang tidak merata, memungkinkan mendorong proses penciptaan perkakas-perkakas ini pada masanya. Summerhayes bersama kelompok penelitiannya sebelum ini telah melakukan proyek penemuan mengenai peradaban di Papua Nugini pada 50.000 tahun yang lalu.
"Proyek ini merupakan tindak lanjut di mana kami ingin membangun kronologi kehadiran manusia di Lembah Simbai/Kaironk di Papua Nugini melalui survei arkeologi sistematis dengan penggalian selanjutnya dan analisis sejumlah situs terpilih,” terangnya dilansir dari Eurekalert.org.
"Temuan ini melacak pola jangka panjang dari sejarah pemukiman, penggunaan sumber daya dan perdagangan, dan membangun konteks lingkungan untuk perkembangan ini dengan menyusun sejarah vegetasi, dengan perhatian khusus diberikan pada sejarah pembuatan api, indikator gangguan lanskap, dan penanda variabilitas iklim. Ini akan menambah pemahaman tentang dampak masyarakat terhadap lingkungan,” jelasnya.
NatGeo
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

