- Sejatinya Ketahanan Pangan Harus Dibangun, Bukan Tumbuh
- Alarm Keras Bencana Ekologis Batang Toru, Jantung Habitat Orangutan Tapanuli
- Ternyata Mandi di Hutan dapat Menjaga Kesehatan Paru-paru, Begini Penjelasannya
- Seung Tae dan Yayasan Dupamade Asa Raya Salurkan Bantuan di Aceh Tamiang
- Baterai Sebagai Simbol Paradoks Zaman Modern, Antara Energi Bersih dan Limbah Berbahaya
- Hentikan Penggusuran dan Represifitas pada Kelompok Tani Padang Halaban!
- Climb On Student Open Bouldering 2026
- Pioner Cetak Sawah, Reinardus Ndiken Buktikan Masyarakat Adat Merauke Siap Bertransformasi
- Sinema Inklusif Nusantara Membuka Jalan untuk Difabel Berkarya di Industri Film
- Investasi Minerba Sentuh USD6,7 Miliar, Genjot Nilai Tambah SDA Nasional
Sejatinya Ketahanan Pangan Harus Dibangun, Bukan Tumbuh
Ketahanan pangan tidak bisa diselesaikan dengan bertani saja. Tapi harus diselesaikan dengan infrastruktur yang didanai dalam skala besar

Keterangan Gambar : Ilustrasi Sinergi antara tradisi dan inovasi teknologi dalam menjaga ketahanan pangan berkelanjutan (gambar dibuat dengan AI)
Dunia kini sedang dihadapkan pada kondisi yang tidak menentu. Krisis struktural berikutnya mungkin bukan lagi soal energi atau keuangan. Tetapi soal pangan. Bukan karena kekurangan tanah, teknologi atau pengetahuan agronomi, tetapi karena banyak negara kekurangan inklusi. Sistem pangan dibangun di atas asumsi bahwa produk pangan akan selalu tersedia.
Tetapi produk pangan tersebut tidak muncul dari udara tipis. Namun berasal dari jutaan petani kecil dan menengah yang menjadi mayoritas. Selama beberapa dekade, industri ini beroperasi di bawah model yang sederhana, negara-negara berkembang memproduksi dan negara-negara maju mengimpor. Model itu sekarang sudah usang.
Baca Lainnya :
- Perusahaan Tambang Pelat Merah Wajib Perkuat Operasional Bertanggung Jawab0
- Ternyata Mandi di Hutan dapat Menjaga Kesehatan Paru-paru, Begini Penjelasannya 0
- Seung Tae dan Yayasan Dupamade Asa Raya Salurkan Bantuan di Aceh Tamiang0
- Pioner Cetak Sawah, Reinardus Ndiken Buktikan Masyarakat Adat Merauke Siap Bertransformasi0
- Investasi Minerba Sentuh USD6,7 Miliar, Genjot Nilai Tambah SDA Nasional0
Pertanian menua di mana-mana. Saat ini, lebih sedikit anak muda yang memasuki sektor ini. Selain itu tenaga kerja yang tersisa kurang siap untuk meningkatkan standar kualitas dan keberlanjutan. Pada saat yang sama, permintaan produk pangan justru melampaui pasokan.
Kesenjangan ini bukan ideologis, tetapi bersifat struktural. Parahnya lagi, petani kecil dan menengah tidak memiliki bantuan teknis, sertifikasi, data, logistik, modal kerja, dan teknologi yang diperlukan untuk menjangkau pasar saat ini.
Negara-negara di dunia saat ini telah mengurangi cadangan makanan strategis, pada saat yang sama rantai pasokan menjadi lebih panjang, lebih ramping, dan lebih optimal. Strategi de-stocking dapat menurunkan biaya, tetapi melemahkan ketahanan.
Perlu diingat, krisis pangan tidak meletus dalam semalam. Tapi terakumulasi perlahan melalui fragmentasi, kekurangan investasi dan kegagalan logistik, lalu pecah secara tiba-tiba. Jika sekarang tidak ada campur tangan dari berbagai pihak yang berwenang, bukan generasi sekarang yang akan menghadapi konsekuensinya, tetapi dua generasi berikutnya.
Satu-satunya cara untuk menghindari krisis pangan adalah dengan melakukan industrialisasi inklusi. Jika petani kecil dan menengah tidak memasuki rantai pasokan, tidak akan ada produk pangan atau ketahanan yang cukup untuk memberi makan sistem—terlepas dari geografinya. Inilah bagian yang jarang didiskusikan. Tidak ada yang dapat mengatasi ketahanan pangan tanpa modal dan kemauan politik. Agar inklusi dapat bekerja, produsen (petani) harus dihargai. Tidak ada ketahanan pangan tanpa mekanisme pasar yang menghargai kinerja.
Ketahanan pangan tidak akan aman hanya dengan bertani. Tetapi harus diamankan oleh infrastruktur midstream, insentif dan koordinasi yang didanai dalam skala besar. Sebab pangan bukan sekadar makanan, tetapi infrastruktur.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

