Logo Porosbumi
13 Mar 2026,
13 March 2026
LIVE
KILAS

Sinergi 3 Serangkai Kementan, Kemendiktisaintek, dan BRIN Merajut Swasembada Pangan dan Hilirisasi

Reporter: Yani Andriyansyah 13 Mar 2026, 17:20:46 WIB
Sinergi 3 Serangkai Kementan, Kemendiktisaintek, dan BRIN Merajut Swasembada Pangan dan Hilirisasi
Menteri Pertanian (Mentan) bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani kesepakatan bersama tentang sinergi riset dan inovasi untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan dan hilirisasi komoditas pertanian. (dok.Kementan)

Bayangkan Indonesia yang mandiri pangan, di mana hasil bumi kita tak hanya melimpah ruah, tapi juga bernilai tinggi berkat sentuhan inovasi. Sebuah visi ambisius, namun kini selangkah lebih dekat dengan terjalinnya kolaborasi monumental. 


Untuk mewujudkan hal tersebut, baru-baru ini sinergi dibangun antara Menteri Pertanian (Mentan), Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ini bukan sekadar formalitas tetapi tonggak strategis untuk memperkuat sinergi riset dan inovasi, menyatukan kekuatan pemerintah, lembaga riset, dan perguruan tinggi demi mendukung swasembada pangan berkelanjutan dan hilirisasi komoditas pertanian nasional. Sebuah langkah maju yang diharapkan mampu mengubah wajah pertanian Indonesia.


Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dengan lugas menyatakan, sektor pertanian bagaikan kapal tanpa nahkoda jika tidak didukung riset dan inovasi yang kuat. Ia menyoroti sebuah ironi, banyak penelitian brilian di perguruan tinggi yang hanya berakhir di tumpukan jurnal ilmiah, tanpa pernah menyentuh tanah dan memberikan manfaat nyata bagi petani atau industri.


Pertanian pangan tidak mungkin maju tanpa inovasi. Banyak penelitian di perguruan tinggi yang sangat baik, tetapi kalau tidak ditarik menjadi kebijakan dan tidak masuk ke industri, maka hanya berhenti di atas kertas,” tegas Mentan Amran.


Karena itu, inti dari kolaborasi ini adalah untuk memastikan setiap ide cemerlang, setiap penemuan revolusioner, tidak hanya menjadi teori, tetapi menjelma menjadi kebijakan yang berdampak langsung di tengah masyarakat. Mentan Amran optimistis, sinergi riset dan kebijakan akan melahirkan dampak masif bagi pembangunan pertanian nasional, seperti yang telah terbukti dari berbagai kebijakan strategis yang lahir dari inovasi sebelumnya.


“Ketika inovasi masuk ke pemerintah dan diterjemahkan menjadi kebijakan, dampaknya bisa sangat besar bagi masyarakat. Inilah yang ingin kita dorong bersama melalui kolaborasi ini,” imbuhnya dengan semangat.


Senada dengan Mentan, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto melihat momentum ini sebagai panggilan bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi lebih nyata. Selama ini, tantangan terbesar hasil penelitian akademis adalah menembus pasar komersial.


“Lebih dari 90 persen bahkan hampir 99 persen hasil penelitian di dunia akademik tidak berhasil masuk ke pasar komersial. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah dan industri menjadi sangat penting agar inovasi bisa benar-benar dimanfaatkan,” ungkap Brian.


Ke depan, Kemendiktisaintek akan mengonsolidasikan seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk fokus pada pengembangan riset komoditas strategis. Tujuannya jelas, membangun kemandirian pangan nasional dari hulu ke hilir, dengan basis ilmu pengetahuan yang kokoh.


Sementara itu sebagai lokomotif riset dan inovasi bangsa, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan peran vital sektor pertanian sebagai fondasi peradaban. BRIN, katanya, telah menyiapkan peta jalan riset pangan nasional yang terpadu, memastikan pengembangan inovasi berjalan selaras tanpa tumpang tindih antara lembaga riset dan perguruan tinggi. BRIN tidak main-main. Saat ini, BRIN telah mencatatkan 188 paten bidang pangan dan segudang produk inovasi lain yang siap dimanfaatkan oleh industri.


“Kami ingin BRIN goes to industry ke stakeholder termasuk Kementerian Pertanian agar produk bisa dimanfaatkan di lapangan dan membawa impact. Dari riset dan berbagai inovasi, hasilnya bisa dirasakan masyarakat dan industri. Oleh karena itu, BRIN siap mendukung percepatan hilirisasi inovasi di sektor pangan,” jelas Arif, seraya menunjukkan komitmen BRIN untuk menjadi jembatan antara penemuan ilmiah dan implementasi praktis.


Kesepakatan bersama ini mencakup spektrum luas, mulai dari koordinasi riset pada komoditas strategis seperti padi, jagung, kedelai, gandum, sorgum, bawang putih, sawit, kelapa, kopi, kakao, lada, pala, hingga inovasi di bidang peternakan (ayam), alat mesin pertanian, pupuk, dan pengolahan pascapanen. Fokusnya adalah memperkuat pertanian modern dan memanfaatkan bersama sarana-prasarana riset.


Tak hanya itu, kolaborasi yang melibatkan setidaknya 18 perguruan tinggi ini juga menyasar peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang pertanian, pertukaran data, serta pemanfaatan hasil riset untuk mempercepat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian Indonesia di pasar global.


Melalui sinergi tiga serangkai ini—Kementan, Kemendiktisaintek, dan BRIN—pemerintah berharap inovasi dan teknologi pertanian dapat melaju lebih cepat. Tujuannya adalah menciptakan kemandirian pangan yang tak hanya kuat secara nasional, tetapi juga berdaya saing global, menjadikan Indonesia sebagai pemain utama di panggung pertanian dunia. Sebuah visi yang kini mulai dirajut bersama, selangkah demi selangkah.

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar