- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
- Dari London, Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Penertiban Kawasan Hutan
- Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan
Tak Ada Impor Pangan 2025, Mendes: Peluang Besar Untuk Kemajuan Desa
.jpg)
BADUNG - Menteri Desa dan Pembangunan
Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyebut komitmen pemerintah untuk tidak impor
beras, jagung, gula, dan garam mulai Januari 2025 adalah peluang besar yang
harus dimanfaatkan dalam memajukan desa. Sebab desa bisa memanfaatkan
potensinya untuk menyediakan kebutuhan pangan tersebut yang manfaatnya dalam
meningkatnya kesejahteraan warga, tentu dengan menggunakan dana desa.
"Ini peluang bagi para petani termasuk di Bali apakah
di Jembrana, Gianyar, Badung, Karangasem, dan semuanya. Di kampung kita pacu
desa swasembada pangan dengan desa tematik. Boleh dibuat desa padi, desa cabai,
desa ikan nila, desa telur boleh. Lihat potensi yang ada di desa jangan ubah
yang ada," paparnya saat kunjungan kerja ke Desa Bongkasa Pertiwi
Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung, Sabtu (11/1/2025).
Dalam kesempatan tersebut Mendes Yandri menyampaikan
regulasi yang diatur dalam Peraturan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah
Tertinggal Nomor 2 Tahun 2024 tentang Petunjuk Operasional Atas Fokus
Penggunaan Dana Desa 2025. Bahwa desa harus memanfaatkan sekurang-kurangnya 20
persen dari total pagu dana desa untuk melaksanakan program ketahanan pangan,
salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Lainnya :
- Jamkrindo dan Ikopin Bakal Dikembalikan Menjadi BLU Kemenkop0
- Sensasi Wisata Sambil Belajar di SFV Eduwisata Bitung0
- Dari Kearifan Lokal Menuju Panggung Dunia0
- Wamentan Dorong Optimasi Lahan Rawa 106.000 Ha dan 150.000 Ha Cetak Sawah Baru di Sumsel0
- Produksi Padi Diyakini Meningkat, Wamentan Tekankan Bulog Serap Gabah Petani0
Dalam merealisasikan hal tersebut, desa diminta terlibat
langsung melalui BUMDes sehingga perputaran ekonomi terjadi secara cepat dan
tepat yang bermuara pada masyarakat desa. Dengan demikian maka dana desa bisa
dimanfaatkan sebagaimana tertuang dalam regulasi, salah satunya untuk
memastikan pertumbuhan ekonomi warga.
"Jangan sampai BUMDes tidak punya kegiatan ekonomi.
Kita berharap BUMDes bisa jadi tulang punggung ekonomi di desa untuk mengurangi
kemiskinan, mengurangi pengangguran, pemerataan ekonomi," ujar Mendes
Yandri.
Sekadar informasi, pembangunan desa merupakan ujung tombang
dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 sebagaimana Asta Cita ke-6 Presiden
Prabowo Subianto, membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi
dan pemberantasan kemiskinan. Oleh karena itu, Mendes Yandri mengajak seluruh
elemen mulai pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan desa untuk berpartisipasi
aktif dalam merealisasikannya.
Salah satu caranya dengan kunjungan yang dilakukan ke setiap
desa dalam rangka menilik langsung setiap kebutuhan dan potensi desa. Kunjungan
dilakukan ke desa mandiri yang mengalami kemajuan pesat sebagai percontohan
seperti Desa Bongkasa Pertiwi juga desa sangat tertinggal sehingga pada
akhirnya tidak ada satu pun desa yang terlambat untuk tumbuh.
Sejauh ini Desa Bongkasa Pertiwi telah melakukan tanam cabai
untuk ketahanan pangan nabati serta pembagian indukan babi. Pasalnya babi
termasuk komoditas besar di Bali yang manfaatnya sampai pada energi terbarukan
berupa biogas dari kotoran ternak tersebut.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

