Batu Bara Tahan Banting Jadi Andalan Energi Primer di Tengah Gejolak Geopolitik
JAKARTA -
Goncangan geopolitik global kerap mengganggu pasokan minyak dan gas di pasar
internasional. Di tengah kondisi tersebut, komoditas lain seperti batu bara
menjadi alternatif energi yang lebih stabil terhadap paparan dampak perang,
termasuk ketegangan yang belakangan terjadi antara Amerika Serikat dan Iran.
Direktur Eksekutif Pusat Studi
Hukum Energi Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar menilai batu bara kembali
naik daun ketika konflik geopolitik mengganggu pasokan minyak dan gas.
Menurutnya, batu bara adalah sumber energi yang relatif stabil dan mudah
diakses oleh banyak negara.
“Cadangan batu bara tersebar luas
dan tidak terlalu terkonsentrasi di kawasan konflik. Jadi aman, tidak terlalu
terpengaruh panasnya geopolitik. Dalam situasi krisis, batu bara sering
berfungsi sebagai penyangga pasokan energi primer,” tutur Bisman dalam
keterangan tertulisnya, Sabtu (14/3/2026).
Baca Juga
Sejalan, Pengamat energi Iwa
Garniwa tak menampik bahwa sejumlah negara kembali meningkatkan penggunaan batu
bara ketika terjadi gangguan pasokan energi global atau lonjakan harga minyak
dan gas.
“Oleh karena itu beberapa negara,
seperti China dan India, telah meningkatkan impor batu bara untuk menjaga
ketahanan energi mereka. China, misalnya, meningkatkan impor batu bara sebesar
500 juta ton pada 2024 untuk mengamankan pasokan energi domestik,” terang Iwa.
Hal ini bisa menjadi angin segar
bagi Indonesia lantara posisinya yang strategis sebagai eksportir batu bara
global. Berdasarkan data Capaian Kinerja Kementerian ESDM Tahun 2025, dari
total 1,3 miliar ton batu bara yang diperdagangkan secara global, Indonesia
memasok sekitar 514 juta ton atau sekitar 43%.
“Sehingga Batu bara masih bisa
menjadi primadona walau banyak negara termasuk Indonesia menghentikan baru bara
sebagai bahan bakar PLTU. Kebijakan ini perlu di evaluasi apabila eskalasi geo
politik demi menjaga ketahanan energi Nasional,” pungkasnya.
Selain itu, menurutnya, potensi
batu bara juga dapat dimaksimalkan melalui strategi diversifikasi produk
energi. Pengembangan teknologi seperti Carbon Capture, Utilization, and Storage
(CCUS), gasifikasi batu bara, hingga hilirisasi batu bara menjadi bahan kimia
dan bahan bakar dinilai dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus menekan emisi
karbon.
Adapun, data Kementerian ESDM
menunjukkan realisasi produksi batu bara nasional mencapai 790 juta ton pada
2025. Adapun pada tahun ini, pemerintah berencana memangkas produksi menjadi
sekitar 600 juta ton.
Dari sisi korporasi, anggota
Holding Pertambangan MIND ID PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat total produksi
dan pembelian batu bara sebanyak 43,28 juta ton sepanjang 2024. Sementara di
segmen agkutan batu baranya mencapai 38,17 juta ton.
Di sisi lain, volume produksi
batu bara hingga akhir September 2025 mencapai 35,90 juta ton. Angka ini naik
3% secara year on year.
Sepanjang 2025, PTBA menerapkan
strategi diversifikasi dengan memperluas tujuan ekspor ke sejumlah negara
seperti Vietnam, Thailand, Korea Selatan, hingga Jepang. Sementara di pasar
domestik, perusahaan telah mengamankan kontrak jangka panjang hingga akhir
tahun dengan PLN serta sejumlah perusahaan semen dan pupuk.
Selain ekspansi pasar, PTBA juga
menjalankan strategi diversifikasi bisnis ke sektor angkutan batu bara. Hingga
kuartal III 2025, volume angkutan batu bara tercatat mencapai 30,02 juta ton
atau meningkat 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 27,83
juta ton.
Saat ini, emiten tambang pelat
merah di bawah MIND ID ini tengah mengembangkan program prioritas angkutan batu
bara Tanjung Enin-Kramasan yang direncanakan rampung kuartal III/2026.
Perseroan membidik penambahan kapasitas hingga 20 juta metrik ton dari proyek
ini.
Dari sisi pelaku swasta, PT Adaro
Andalan Indonesia Tbk (AADI) melaporkan volume penjualan batu bara hingga
kuartal III 2025 mencapai 52,69 juta ton dengan nisbah kupas 4,2 kali.
Sementara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melaporkan produksi batu bara
total 21,2 juta ton sepanjang 2025. (wahyono)