Logo Porosbumi
16 Jun 2026,
16 June 2026
LIVE TV

TELUNJUK YANG KEMBALI KE WAJAH SENDIRI

PorosBumi 16 Jun 2026, 13:23:21 WIB
TELUNJUK YANG KEMBALI KE WAJAH SENDIRI

ADITYA PRATAMA

SEJARAH tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya diam, menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengetuk kesadaran para pelakunya.

Di penghujung abad ke-20, ketika Indonesia masih berada dalam genggaman kekuasaan yang nyaris tak tersentuh kritik, seorang anak muda bernama Budiman Sudjatmiko memilih jalan yang tidak banyak berani ditempuh orang.

Di saat ketakutan menjadi bahasa sehari-hari, ia memilih keberanian. Di saat banyak orang menundukkan kepala, ia justru mengangkat suara. Ia berdiri di jalanan, di ruang-ruang diskusi sempit, di tengah tekanan dan ancaman, membawa satu keyakinan sederhana: rakyat tidak boleh kalah oleh kekuasaan.

Tahun 1998 bukan sekadar angka dalam kalender sejarah. Ia adalah lautan air mata, kemarahan, pengorbanan, dan harapan. Dari kampus-kampus hingga jalan-jalan ibu kota, mahasiswa dan rakyat bersatu menuntut perubahan.

Di antara gelombang itu, Budiman adalah salah satu wajah yang dikenali sebagai simbol perlawanan. Ia menunjuk penguasa dengan telunjuk keberanian. Ia mempertanyakan ketidakadilan dengan suara yang tak mau dibungkam.

Telunjuk itu bukan sekadar jari. Ia adalah simbol perlawanan.
Telunjuk itu menunjuk kekuasaan yang dianggap lupa pada rakyat.
Telunjuk itu menunjuk ketidakadilan yang dianggap harus diakhiri.
Telunjuk itu menunjuk masa depan yang diyakini harus diperjuangkan.
Namun waktu adalah penulis kisah yang paling sulit ditebak.

Reformasi datang. Kekuasaan berganti. Demokrasi tumbuh. Mereka yang dahulu berada di luar pagar kekuasaan perlahan memasuki ruang-ruang yang dulu mereka kritik. Sebagian menjadi pejabat, sebagian menjadi anggota parlemen, sebagian menjadi pengambil kebijakan. Budiman termasuk di antaranya.

Dan seperti semua tokoh yang memasuki istana sejarah, ia akhirnya berhadapan dengan ujian yang sama: apakah seseorang tetap menjadi suara rakyat ketika berada dekat dengan kekuasaan?

Lalu datanglah hari itu, tepat di mana ia di lahirkan dari rahim kampus yang sama UNIVERSITAS GADJAH MADA Yogyakarta...

Di tengah kerumunan mahasiswa, pasca sebuah kegiatan yang semula berlangsung biasa, suasana berubah menjadi panggung ironi sejarah. Suara-suara kritik bermunculan, teriakkan revolusi menggema keras di telinga budiman bagaikan air menabur ke wajah sendiri. Dulu ia berdiri di barisan rakyat, menunjuk kekuasaan dan meneriakkan kritik.

Kini, ketika namanya berada di pusat kekuasaan, jari-jari yang sama menunjuk ke arahnya. Teriakan yang dahulu ia suarakan kini kembali menggema, tetapi kali ini ditujukan kepadanya. Sejarah memang sering menghadirkan ironi yang tak terduga.

Sorotan tajam mengarah kepadanya. Mahasiswa mengepung dengan pertanyaan, dengan tuntutan, dengan kekecewaan yang mereka rasakan.
Pemandangan itu terasa seperti cuplikan masa lalu yang diputar ulang.

Bedanya, kali ini Budiman bukan berada di tengah massa yang berteriak kepada penguasa.
Ia adalah orang yang diteriaki.
Ia bukan lagi sosok yang menunjuk.
Ia adalah sosok yang ditunjuk.

Di hadapannya berdiri mahasiswa-mahasiswa muda dengan api yang hampir sama seperti generasinya dahulu. Dengan keberanian yang serupa. Dengan keyakinan yang mirip. Dengan semangat untuk mempertanyakan kekuasaan.

Dan dalam sekejap, sejarah seperti membentuk sebuah lingkaran yang sempurna. Telunjuk yang dulu ia arahkan kepada penguasa kini kembali kepadanya.

Ramai-ramai, dari berbagai arah.
Dari generasi yang bahkan mungkin tidak mengalami langsung gejolak Reformasi.

Mereka mengangkat pertanyaan yang dahulu juga pernah ia angkat.
Mereka menuntut jawaban yang dahulu juga pernah ia tuntut. Mereka meminta pertanggungjawaban yang dahulu juga pernah ia minta.

Inilah ironi yang paling sunyi sekaligus paling keras dalam perjalanan seorang pejuang. Bukan ketika ia dikalahkan musuhnya. Melainkan ketika ia berhadapan dengan bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Karena sesungguhnya mahasiswa yang mengerumuni itu bukan hanya sekumpulan orang yang sedang mengkritik seorang pejabat. Mereka adalah refleksi dari Budiman muda yang pernah berdiri melawan kekuasaan puluhan tahun silam. Seakan-akan sejarah sedang mempertemukan Budiman hari ini dengan Budiman tahun 1998.

Yang satu membawa jabatan.
Yang satu membawa idealisme.
Yang satu berdiri sebagai bagian dari kekuasaan.
Yang satu berdiri sebagai pengawas kekuasaan.

Dan keduanya saling menatap dalam cermin sejarah yang sama.

Mungkin inilah pelajaran terbesar demokrasi. Bahwa tidak ada jasa perjuangan yang membuat seseorang kebal dari kritik. Tidak ada sejarah heroik yang bisa menjadi perisai abadi dari pertanyaan rakyat.

Sebab demokrasi yang diperjuangkan para aktivis 1998 justru dibangun di atas satu prinsip: siapa pun yang memegang kekuasaan harus siap diawasi, Termasuk oleh generasi yang datang setelahnya.

Maka ketika telunjuk-telunjuk mahasiswa itu terangkat, sesungguhnya yang sedang berbicara bukan hanya kemarahan. Yang berbicara adalah sejarah. Yang berbicara adalah semangat reformasi itu sendiri. Yang berbicara adalah warisan perjuangan yang dahulu juga ikut diperjuangkan Budiman.

Sebuah warisan yang kini kembali mengetuk pintunya. Dan di tengah riuh sorak, teriakan, serta sorotan publik, sejarah seolah berbisik lirih namun tajam:

"Dulu engkau mengangkat telunjuk kepada kekuasaan atas nama rakyat. Hari ini, atas nama rakyat yang sama, telunjuk itu kembali mengarah kepadamu."

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```