Logo Porosbumi
04 Mei 2026,
04 May 2026
LIVE TV

BRIN Kembangkan Pakan Lokal Berbasis Kecipir, Dorong Pertumbuhan Optimal Gurami

PorosBumi 04 Mei 2026, 09:47:19 WIB
BRIN Kembangkan Pakan Lokal Berbasis Kecipir, Dorong Pertumbuhan Optimal Gurami

KETERGANTUNGAN industri pakan nasional terhadap bahan baku impor, khususnya bungkil kedelai, masih menjadi tantangan serius dalam pengembangan sektor akuakultur Indonesia. Fluktuasi harga global serta gangguan rantai pasok turut mendorong kenaikan biaya produksi budidaya ikan. Menjawab persoalan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan inovasi pakan lokal berbasis biji kecipir sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan dan ekonomis.

Peneliti BRIN, Deisi Heptarina, bersama tim mengembangkan formulasi pakan ikan gurami (Osphronemus goramy) dengan memanfaatkan biji kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), tanaman legum tropis yang kaya protein dan memiliki komposisi asam amino yang baik. Tanaman ini tumbuh luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan hampir seluruh bagiannya memiliki nilai ekonomi.

“Biji kecipir berpotensi menjadi bahan baku pakan lokal pengganti sebagian bahan impor karena kandungan nutrisinya yang cukup baik,” ujar Deisi saat wawancara khusus pada Kamis (30/4).

Dalam penelitiannya, ia beserta tim menguji tiga jenis perlakuan tepung biji kecipir, yaitu tepung utuh tanpa pengolahan, tepung rendah lemak hasil pengepresan minyak, serta tepung rendah lemak yang diperkaya enzim non-starch polysaccharide (NSP). Uji coba dilakukan pada benih gurami selama 60 hari dalam sistem pemeliharaan terkontrol.

Hasilnya menunjukkan bahwa pakan berbasis tepung biji kecipir rendah lemak yang diperkaya enzim NSP memberikan performa terbaik. Formula ini mampu menghasilkan kecernaan protein hingga 70,01% dan kecernaan energi mencapai 72,64%, yang menunjukkan bahwa nutrien dalam pakan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal oleh ikan.

Menurut Deisi, penambahan enzim NSP berperan penting dalam meningkatkan kualitas pakan. “Enzim membantu memecah komponen serat dan senyawa kompleks, sehingga nutrien lebih mudah dicerna dan diserap oleh ikan,” jelasnya.

Dari sisi pertumbuhan, Deisi menjelaskan ikan gurami yang diberi pakan tersebut mencatat laju pertumbuhan spesifik sebesar 1,99% per hari dengan rasio konversi pakan 1,67, menandakan efisiensi pemanfaatan pakan yang tinggi. Selain itu, retensi protein mencapai 50,64% dan retensi lemak sebesar 88,84%, menunjukkan bahwa nutrien pakan terserap secara optimal untuk mendukung pertumbuhan ikan.

Menariknya, tingkat kelangsungan hidup ikan pada seluruh perlakuan mencapai 100%, yang menegaskan bahwa pakan berbasis kecipir aman dan mendukung kesehatan ikan. Hal ini juga diperkuat dengan peningkatan aktivitas enzim pencernaan serta kondisi usus ikan yang lebih baik pada perlakuan pakan olahan.

Deisi menekankan bahwa proses pengolahan bahan baku menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas kecipir. Tahapan seperti perendaman, pemanasan, pengepresan minyak, dan penambahan enzim terbukti mampu menekan kandungan zat antinutrien seperti tanin, asam fitat dan serat kasar yang dapat menghambat penyerapan nutrien.

“Inovasi ini membuka peluang besar dalam pengembangan pakan berbasis sumber daya lokal. Selain menekan biaya produksi, pemanfaatan kecipir juga dapat memperkuat ketahanan sektor perikanan nasional dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” ungkapnya.

“Ke depan, inovasi pakan lokal seperti ini diharapkan dapat dikembangkan lebih luas untuk berbagai komoditas budidaya lainnya. Dengan dukungan riset berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang besar membangun industri akuakultur yang mandiri, efisien, dan berdaya saing,” pungkasnya. (sh/ed:ade,ugi)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```