Logo Porosbumi
21 Agu 2026,
21 August 2026
LIVE TV

BRIN Ungkap Jejak Danau Purba di Bawah Bandung, Penting Dipahami Dalam Konteks Kebencanaan

PorosBumi 21 Agu 2026, 08:43:51 WIB
BRIN Ungkap Jejak Danau Purba di Bawah Bandung, Penting Dipahami Dalam Konteks Kebencanaan

KOTA Bandung yang kini dipadati permukiman, gedung, jalan, hingga berbagai infrastruktur modern ternyata menyimpan jejak sejarah geologi panjang di bawah permukaannya. Wilayah yang dikenal sebagai Cekungan Bandung itu pada masa lalu merupakan danau purba.

Endapan yang ditinggalkan Danau Bandung Purba tersebut menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan karena karakter materialnya dapat memperkuat efek guncangan ketika terjadi gempa bumi.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Hidayat, menjelaskan keberadaan Danau Bandung Purba telah dibuktikan melalui penelitian geologi, termasuk pengeboran yang menemukan lapisan endapan danau dan rawa. Endapan tersebut terbentuk dalam perjalanan geologi yang berlangsung selama puluhan ribu tahun.

Menurut Edi, pembentukan Danau Bandung Purba berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik Gunung Sunda. Letusan gunung tersebut menghasilkan material vulkanik yang membendung aliran Sungai Citarum purba sehingga air menggenangi Cekungan Bandung dan membentuk danau. Danau itu diperkirakan mulai terbentuk sekitar 90 ribu tahun lalu dan bertahan hingga sekitar 16 ribu tahun lalu.

“Letusan gunung itu membendung sungai yang ada di tengah Danau Bandung. Aliran air terus menerus ada, menggenang seluruh dataran Bandung, menjadi sebuah danau,” ujar Edi, Kamis (20/08).

Dalam perkembangannya, air danau kemudian menemukan jalan keluar dengan mengikis batuan melalui jalur struktur rekahan melalui kawasan yang sekarang dikenal sebagai Curug Jompong. Bersamaan dengan proses tersebut dan faktor alam lainnya, genangan secara bertahap menyusut hingga terbentuk bentang Cekungan Bandung seperti yang dikenal saat ini.

Namun, mengeringnya danau tidak serta-merta menghilangkan material yang selama ribuan tahun mengendap di dasarnya. Jejak itulah yang menurut Edi penting dipahami dalam konteks kebencanaan.

Hasil pengeboran menunjukkan adanya endapan rawa yang kaya material organik, lapisan lempung, endapan vulkanik, serta sisipan lapisan pasir. Sebagian endapan tersebut hingga kini belum mengalami proses litifikasi, konsolidasi, dan pemadatan secara sempurna sehingga relatif lebih lunak dibandingkan batuan keras di sekeliling cekungan.

“Posisi endapan ini sebenarnya sekarang belum terlitifikasi, belum terkompaksi dan terkonsolidasi dengan baik. Kalau diibaratkan seperti agar-agar, sebagian masih lunak. Bagian permukaan saja yang keras yang kita tinggali, tetapi sebenarnya di bawah itu masih ada bagian-bagian endapan yang belum terkonsolidasi dan terkompaksi dengan baik,” jelasnya.

Karakter endapan tersebut menjadi penting diperhatikan, jikalau suatu saat Cekungan Bandung menerima gelombang gempa. Edi menjelaskan, perbedaan karakter antara batuan keras yang mengelilingi Bandung dan material lebih lunak yang mengisi cekungan dapat menimbulkan amplifikasi, yakni penguatan guncangan gempa pada lapisan tanah tertentu. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti material lunak di dalam sebuah wadah yang akan ikut bergerak ketika wadah diguncang.

“Cekungan Bandung ini hampir seluruh bagian dasar dan sekelilingnya disusun batuan-batuan keras dari produk gunung api dan batuan sedimen yang jauh lebih tua, sementara di tengahnya adalah batuan yang masih relatif lunak dengan umur yang jauh lebih muda. Kalau dikasih getaran, ada efek namanya amplifikasi. Amplifikasi ini yang akan berbahaya bagi Kota Bandung kalau ada gempa,” kata Edi.

Potensi tersebut menjadi relevan karena Bandung berada tidak jauh dari sejumlah sumber gempa bumi di darat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Sesar Lembang, yang menurut Edi membentang sekitar 29 kilometer berarah barat – timur dan berjarak sekitar 10 kilometer di utara kota Bandung.

Selain Sesar Lembang, penelitian geofisika juga menunjukkan indikasi keberadaan patahan-patahan lain di bawah permukaan Cekungan Bandung yang tidak semuanya terlihat di permukaan.

Edi menekankan bahwa karakteristik Danau Bandung Purba secara geologi perlu dipahami lebih jauh. Karakter endapan bekas danau dapat memengaruhi respons tanah ketika gelombang gempa dari suatu sumber mencapai Cekungan Bandung. Karena itu, risiko gempa tidak cukup dilihat hanya dari sumber gempanya, tetapi juga kondisi geologi wilayah yang menerima guncangan.

“Ini yang menjadi perhatian khusus karena Sesar Lembang paling dekat dengan Bandung. Sementara Bandung ini adalah danau purba yang kalau bergetar ada efek amplifikasinya,” ungkapnya.

Selain amplifikasi, keberadaan lapisan pasir yang mempunyai sifat porositas tinggi  pada endapan danau Bandung juga perlu diperhatikan karena terkait dengan potensi likuifaksi. Edi menjelaskan, ketika lapisan pasir jenuh air menerima tekanan akibat guncangan gempa, tekanan air di dalam material dapat meningkat dan mendorong air serta pasir menuju permukaan.

Kondisi tersebut berpotensi dapat memicu penurunan tanah. Meski demikian, Edi tidak menyamakan potensi likuifaksi di Bandung dengan peristiwa likuifaksi berskala besar yang pernah terjadi di daerah lain, seperti di Kota Palu, Sulawesi.

Penjelasannya menekankan bahwa keberadaan lapisan pasir dan air tanah jenuh pada endapan Danau Bandung Purba merupakan salah satu kondisi geologi yang memungkinkan berdampak negatif yang perlu menjadi kajian risiko kegempaan daerah Bandung.

Kondisi bawah permukaan itu menjadi semakin penting karena kawasan Cekungan Bandung telah berkembang menjadi wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan infrastruktur yang tinggi. Berbagai bangunan dan infrastruktur berdiri di atas endapan yang memiliki karakter geologi berbeda-beda.

Karena itu, pemahaman mengenai struktur bawah permukaan diperlukan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko apabila gempa terjadi. Menurut Edi, pembangunan di Bandung harus memperhatikan kondisi geologi sekaligus standar teknis bangunan tahan gempa.

 “Pembangunan di Bandung ini harus melihat kode bangunan. Harus diperhatikan kekuatan secara tekniknya seperti apa, kalau ada gempa besar bagaimana bangunannya,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa gempa bumi memang tidak selalu terjadi dalam interval waktu yang pendek, tetapi konsekuensinya dapat menjadi besar. Karena itu, pengetahuan mengenai sejarah Danau Bandung Purba seharusnya tidak berhenti sebagai cerita mengenai masa lalu Bandung. Jejak geologinya justru menjadi informasi penting untuk memahami karakter wilayah yang kini dihuni jutaan orang.

“Cekungan Bandung ini rentan terhadap bencana geologi, terutama gempa bumi, likuifaksi, penurunan tanah dan longsor dibagian batas cekungan,” kata Edi. Menurutnya, kondisi tersebut perlu direspons melalui mitigasi struktural maupun nonstruktural, termasuk memperkuat bangunan dan terus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana di lingkungan tempat tinggalnya. (pur)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```