Logo Porosbumi
03 Okt 2026,
03 October 2026
LIVE TV

Pesan Harmoni Kampung Patani Basis Hutan Mangrove, Kronjo Tangerang Banten

PorosBumi 03 Okt 2026, 21:59:00 WIB
Pesan Harmoni Kampung Patani Basis Hutan Mangrove, Kronjo Tangerang Banten

DI atas lumpur pesisir dengan embusan hangat angin laut, semangat gotong royong menyelimuti warga pesisir Desa Pagedangan Ilir, Kec Kronjo, Kabupaten Tangerang Banten, yang sejak pagi hingga siang hari itu, menanam 1.500 bibit pohon mangrove (bakau) dalam program bertajuk "Adopsi Pohon Gratis di Kampung Patani, 1 Orang Tanam 1 Pohon."


Mengusung tema "Kampung Patani: Mangrove Lestari, Masyarakat Pesisir Sejahtera, Untuk Masa Depan Lebih Baik" kegiatan ini digagas Pandutani Indonesia (Patani), Direktorat Rehabilitasi Mangrove Kementerian Kehutanan, Yayasan Sarana Wana Jaya, dan BP DAS Citarum Ciliwung.

Menggandeng masyarakat setempat yang tergabung dalam komunitas Mapuca (Mangrove Pulau Cangkir) yang dinahkodai Makhdis Adhari dan Sanggar Seni Mangrove Pulau Cangkir milik H Heru, Pandutani Indonesia bersama mitra menginisiasi aksi nyata pelestarian lingkungan pesisir itu.



Hadir Ketua Umum Patani, Sarjan Tahir; Ketua Umum Yayasan Sarana Wana Jaya, Dr Imam Santoso; Ketua Umum Puskashut, Dr Ir Harry Santoso IPU; Ketua Koperasi Indokopat Nusantara Sinergi yang juga Sestama Patani, Andi Yazi; Panglima Kampung Patani, Marsda TNI (Purn) Gutomo SIP; dan Kepala BPDAS Citarum Ciliwung, Heru Permana.

Lalu, Komandan Satuan Radar 401 Tanjung   Kait diwakili Kapten Lek Yus Haesul Razak; Direktur Rehabilitasi Mangrove diwakili oleh Giri Sunyanta; perwakilan Camat Kronjo; Kades Pagedangan Ilir; Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Pulau Cangkir, Sheyila Fabiola; Danramil 08/Kronjo; Kapolsek Kronjo; Ketua Mapuca (Mangrove Pulau Cangkir), Makhdis Adhari; dan Kepala RPH Tangerang Hery Heriana (Perhutani).


Lebih dari sekadar agenda seremonial, inisiatif program penanaman mangrove ini dihadirkan dengan sentuhan humanis, yakni membangun benteng alami guna melindungi permukiman warga dari ancaman abrasi.

Dengan menanam dan merawat mangrove, turut menjaga sumber mata pencaharian nelayan lokal, menghadirkan Kampung Patani berbasis hutan mangrove, menghidupkan desa wisata, serta meningkatkan kualitas hidup komunitas masyarakat pesisir Banten, terutama di Kabupaten Tangerang.

Program "Adopsi Pohon Gratis di Kampung Patani, 1 Orang Tanam 1 Pohon" merupakan wujud konsistensi keberlanjutan yang telah digulirkan Patani, di mana setiap menghadirkan Kampung Patani diimbangi dengan penanaman pohon di wilayah sekitar.


Melalui program yang bisa diakses di marketplace pataniku.com, Patani bersama mitra memastikan bahwa setiap langkah perluasan jaringan konektivitas yang dibangun diimbangi dengan tumbuhnya tunas-tunas hijau di alam, menciptakan keharmonisan dan pelestarian bumi.

"Kami ingin memastikan hadirnya Kampung Patani berjalan seiringan dengan kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar," ujar Ketua Umum Patani Sarjan Tahir dalam sambutannya.

Sarjan menyampaikan, bahwa Kampung Patani tidak hanya ada di Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, tapi juga sudah tersebar hingga pelosok negeri yang diinisiasi baik perorangan maupun kelompok, dengan Pusat Pengendali Nasional (PPN) atau Pentagon Kampung Patani berada di Desa Cimande, Bogor, Jawa Barat.


PPN Kampung Patani yang dikomandoi Panglima Kampung Patani Marsekal Muda (purn) TNI Gutomo diresmikan pada 2020 oleh Tokoh Muda Kampung Patani, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang kini Menteri Koordinator Infrastruktur dan Kewilayahan.

 

Kampung Patani, Konsep Membangun Suatu Kawasan Berbasis Pertanian

Secara spesifik Kampung Patani adalah konsep membangun suatu kawasan berbasis pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan) secara terpadu, ramah lingkungan (berkelanjutan/sustainable) dan memberi nilai tambah, yang mampu menyejahterahkan petani, nelayan, dan pelaku UMKM di kawasan tersebut.


Suatu kawasan pedesaaan, pesisir, bahkan perkotaan dapat diusulkan menjadi Kampung Patani, dan tentunya ada sejumlah kriteria, salah satunya jika suatu kawasan itu memiliki kelompok petani/peternak/nelayan dan/atau koperasi, dan UMKM yang melakukan usaha budidaya/usaha tani tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan, perikanan dan kelautan, perhutanan sosial serta usaha pengolahan dan pemasarannya.

Pada aspek ekonomi, Kampung Patani ini nantinya menjadi sumber kesejahteraan dan mampu mengatasi kesenjangan ekonomi. Juga sebagai sumber pangan masyarakat sekaligus sumber pendapatan negara. "Adapun aspek sosialnya, tumbuhnya masyarakat yang mandiri dan berkarakter, berkembangnya budaya hidup yang peduli lingkungan (green economy). Aspek lainnya, penggalangan komunitas petani, nelayan, UMKM lebih mudah terjangkau oleh giat Kampung Patani," pungkas Sarjan.



Sementara itu, mewakili Direktorat Rehabilitasi Mangrove Kementerian Kehutanan, Giri Sunyanta menjabarkan, detil data ekosistem Mangrove di Provinsi Banten berdasarkan Peta Mangrove Nasional (PMN) tahun 2024. Luas ekosistem mangrove kisaran 11.875 ha, terdiri dari berhutan eksisting mangrove 1.732 ha; dan tidak lagi berhutan sebagai potensial habitat mangrove 10.143 ha.

Adapun konsen di luar kawasan hutan negara (APL) untuk prioritas rehabilitasi/penghijauan/penanaman berikut pendampingan kepada kelompok tani atau kelompok nelayan. Untuk konsen di Kawasan Hutan Negara ditempuh perlindungan kawasan, menjaga eksisting mangrove, reboisasi dalam rangka pemulihan kawasan hutan oleh pemangku kawasan bekerja sama dengan pemerintah desa setempat maupun LMDH/KTH.


"Kemudian mendorong sinergi kolaborasi melalui wadah Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) tingkat provinsi guna pemetaan peran, berbagi peran, sharing dana Patani, Yayasan Sarana Wana Jaya dan NGO lainnya, yang berperan di mana pun, baik dalam maupun luar kawasan hutan, melalui KKMD cq. Dinas Kehutanan cq. BPDAS Citarum Ciliwung, dalam rangka rehabilitasi hutan lahan mangrove berikut pemanfaatannya non timber forest product (hasil hutan bukan kayu)," papar Giri.

Setali tiga uang, petani mangrove sekaligus pemilik Sanggar Seni Mangrove Pulau Cangkir, H Heru menyambut baik serta mengapresiasi komitmen dan inisiatif nyata yang dihadirkan oleh Patani bagi masyarakat pesisir Pulau Cangkir dan sekitarnya.

Ia mengenang, jaman dulu ayahnya seorang Mantri Mangrove, yakni orang yang menjaga dan merawat hutan mangrove di kawasan Pulau Cangkir dan sekitarnya. "Mangrove adalah penjaga kita. Ia menahan abrasi, ia meredam gelombang dan rob, ia menjadi rumah bagi ikan, kepiting, dan biota laut yang menjadi sumber penghidupan nelayan," kata H Heru.


"Bahkan, satu hektar mangrove mampu menyerap karbon 4-5 kali lebih banyak dari hutan tropis biasa. Menanam mangrove berarti kita sedang berinvestasi untuk masa depan wilayah pesisir yang tangguh terhadap perubahan iklim," sambung H Heru.

Ia juga menaruh harapan agar gerakan seperti ini terus digalakkan di Pulau Cangkir dan desa-desa lainnya. "Mari kita jadikan mangrove sebagai identitas baru kebanggaan Pulau. Dari mangrove kita jaga lingkungan, dari mangrove kita kuatkan ekonomi nelayan, dan dari mangrove kita wariskan harapan untuk anak cucu kita," katanya.

Guna memastikan pelaksanaan dan perawatan mangrove berjalan optimal di lapangan, Patani menggandeng masyarakat setempat sebagai mitra pelaksana kegiatan. Kolaborasi pentahelix menjadi unsur keberhasilan program ini, di mana pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media saling berpartisipasi. Pemerintah memberikan dukungan kebijakan, sementara Patani bersama mitra menjadi inisiator serta pelaksana program.

"Mari kita perkaya kembali hutan mangrove di wilayah pesisir Banten, terutama Kabupaten Tangerang. Malah saya punya harapan, bagaimana nantinya setiap PNS di Provinsi Banten menanam 1 mangrove," kata Kepala Kanwil Patani Provinsi Banten yang juga anggota DPRD Banten, H Asep Hidayat. (hendri irawan)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```