Logo Porosbumi
Rabu,
17 June 2026
LIVE TV

Degradasi Lahan, Membunuh Serangga dan Menggali Kubur Peradaban Manusia

PorosBumi 17 Jun 2026, 14:44:14 WIB
Degradasi Lahan, Membunuh Serangga dan Menggali Kubur Peradaban Manusia

ROSICHON UBAIDILLAH

Peneliti Ahli Utama (Prof Riset) Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN

 

SETIAP tanggal 17 Juni, kita berkumpul memperingati ”Hari Penanggulangan Degradasi Lahan Sedunia”, dengan pidato formal, jargon-jargon: penanaman pohon, ketahanan pangan, konservasi, hingga target swasembada artifisial. Benarkah ada kepalsuan kolektif, sehingga degradasi lahan seolah hanya masalah estetika lanskap atau sebatas perubahan hutan hijau menjadi gersang, atau penurunan angka produksi pertanian.

Kenyataannya jauh lebih mengerikan dari slogan formal. Di lapisan tanah yang mengeras, polusi udara dan air tersembunyi fakta kiamat senyap (silent apocalypse). Degradasi lahan merupakan pemicu utama runtuhnya seluruh sistem penyangga peradaban bumi.

Kita sering melupakan fakta ilmiah mendasar bahwa tanah bukanlah komoditas mati yang dapat dieksploitasi semaunya. Tanah sebagai ruang ekologis yang dinamis tempat miliaran jaringan kehidupan saling bertautan.

Deforestasi masif, dan intensifikasi pertanian monokultur dan aplikasi pestisida kimia, terbukti sedang merobek jaring-jaring kehidupan tersebut. Korban pertama dan yang paling fatal dari kehancuran ini adalah serangga. Kehancuran sedang berlangsung menuju kiamat serangga (insects apocalypse) atau musnahnya miliaran individu dan jutaan spesies serangga yang menjadi pilar penopang kehidupan bumi.

Kiamat senyap ini bergerak mutlak saat rumah bagi serangga ini dihancurkan, dengan efek domino akan  menjadikan peradaban manusia sebagai puncak rantai makanan, hanya sedang menghitung hari menggali kubur menuju kepunahannya sendiri.

Serangga sering kali dipandang negatif oleh banyak orang. Karena dianggap “menakutkan”, “menyebar penyakit”  (seperti malaria dan demam berdarah), atau sebagai “hama pertanian yang merusak”. Faktanya, dari 1,5 juta spesies serangga yang dikenal dan sekitar 4,5 juta spesies yang belum diketahui di Bumi, hanya 1% yang merugikan dan menakutkan. Sementara 99% bermanfaat bagi kehidupan manusia dan kelangsungan ekosistem alam.

Sebagai kelompok organisme terbanyak (80%) dan paling beragam, serangga berperan penting dalam berbagai fungsi ekosistem, seperti penyerbukan dari sekitar 350 ribu tumbuhan berbunga, pengurai bahan organik, terlibat dalam siklus unsur hara dan sumber pakan bagi hewan lain.

Serangga juga digunakan untuk pemberantasan hama pertanian dan menghasilkan bahan industri seperti madu, sutra dan lak. Fungsi-fungsi ini menjadikan serangga sebagai tulang punggung ekosistem alam yang menopang kesejahteraan manusia. Dengan penurunan populasi serangga yang terjadi secara drastis dalam dasawarsa terakhir, kita harus menyadari betapa kritisnya peran mereka dan kelangsungan hidup manusia bisa terancam tanpa kehadiran serangga.

Peran Penting Serangga Dalam Ekosistem              

Badan Pangan Dunia (FAO) memperkirakan bahwa sekitar 75% tanaman pangan bergantung pada binatang penyerbuk untukproduksi pangan dan menghasilkan nutrisi yang dibutuhkan manusia. Tanpa serangga, penyerbukan tanaman berbunga tidak akan terjadi, sehingga tidak ada produksi pangan seperti buah-buahan, biji-bijian dan sayuran. Produk serangga, seperti madu dan royal jelly, yang merupakan makanan penting secara global, juga akan hilang.               

Serangga juga menjadi sumber pakan binatang lain. Tanpa serangga, banyak spesies burung, amfibi, reptil dan mamalia kecil akan kehilangan sumber pakan utama mereka. Selain itu, banyak produk rumah tangga dan kosmetika, seperti lilin, losion, kosmetik, pewarna, poles, pernis, dan tinta yang berasal dari serangga akan hilang. Pakaian sutra, pewarna, lak, tekstil anti air dan kosmetika juga tidak akan ada lagi.               

Serangga telah menjadi makanan di berbagai budaya selama ribuan tahun, karena kaya akan protein, lemak baik, dan vitamin esensial. Tren modern juga mengembangkan pengolahan serangga sebagai sumber protein bagi manusia (entomofagi). Selain itu, serangga digunakan dalam pengobatan tradisional serta penelitian ilmiah dan medis.

Lalat buah, misalnya, telah menjadi organisme model populer dalam penelitian genetika, dan serangga lain digunakan dalam pengujian medis (yellow biotechnology). Pemahaman kita tentang ilmu genetika, kedokteran, dan obat-obatan berasal dari penelitian serangga. Tanpa hasil penelitian medik serangga, kesehatan manusia akan terdampak sangat buruk.              

Dunia tanpa serangga berarti kurangnya ketersediaan makanan, produk, dan penemuan ilmiah serta medis. Hilangnya makanan dan produk dari serangga akan berdampak buruk pada populasi manusia di mana pun. Banyak aspek kehidupan manusia akan terhenti jika serangga menghilang dari planet ini.

Ancaman Kepunahan Serangga dan Dampaknya

Penurunan jumlah serangga secara global selama beberapa dekade terakhir sangat mengkhawatirkan. Rangkuman survei populasi dan keanekaragaman serangga secara global menyimpulkan bahwa lebih dari 40% spesies serangga berada di bawah ancaman kepunahan dalam beberapa tahun mendatang.

Laporan Hallmann dkk. pada tahun 2017 menemukan penurunan tajam biomassa serangga terbang di Jerman sekitar 75% selama 27 tahun terakhir. Survei tahunan United States Geological Survei (2023) sejak 2006 hingga 2022 menunjukkan bahwa populasi kupu-kupu Danaus (Danaus plexippus) di Amerika Utara populasinya turun hingga 52%.

Populasi lebah penyerbuk bunga stroberi (Bombus occidentalis) juga menurun sebesar 93% selama 21 tahun terakhir di Amerika bagian barat. Penurunan spesies dan populasi sebagian besar disebabkan oleh hilangnya habitat, perubahan iklim, polusi, peningkatan penggunaan pestisida dan pupuk kimia.

Kecenderungan penurunan jumlah serangga secara ini mengkhawatirkan, dan dalam lima tahun terakhir beberapa media terkenal dunia telah mengulas tentang “kiamat serangga”. Seperti tulisan Carrington pada tahun 2017, "Warning of 'ecological Armageddon' after dramatic plunge in insect numbers" di majalah The Guardian. Disusul tulisan Jarvis Brooke (2018) di The New York Times menegaskan  “Kiamat Serangga Telah Tiba”.

Isu tersebut diangkat kembali oleh The Guardian pada tahun 2019, yang ditulis oleh Damian Carrington ”Plummeting insect numbers 'threaten collapse of nature'. Akhirnya The Guardian (2021) menulis bahwa “Serangga bisa punah dalam waktu satu abad jika tren penurunannya seperti saat ini” dan “Dunia kita akan terhenti tanpa serangga”. Artikel-artikel tersebut, semakin memperkuat pesan serius dari media dengan ilustrasi yang mengkhawatirkan tentang ekosistem bumi tanpa serangga.

Rachel Carson pada tahun 1963 dalam buku fenomenalnya “Silent Spring” telah memperingatkan kita bahwa kepunahan serangga akan berakibat matinya ekosistem bumi. Peringatan tersebut mulai terbukti dan puncak diskusi masalah “kiamat serangga” mulai banyak didiskusikan mulai tahun 2017 hingga saat ini. Tanpa serangga manusia tidak akan bisa bertahan hidup ditegaskan kembali oleh Dave Goulson, dalam  bukunya “Silent Earth“ yang terbit tahun 2021.

Aksi Untuk Melindungi Serangga  

Kiamat serangga mungkin tidak terjadi  dalam waktu dekat.. Namun, hilangnya beberapa spesies serangga mungkin saja membawa dampak yang berjenjang yang dapat mempercepat kepunahan spesies lain dalam jejaring alam. Untuk mencegah hal ini, kita perlu mengatasi faktor-faktor yang mendorong penurunan populasi serangga.

Langkah pertama adalah memulihkan habitat alami serangga, rekonstruksi  paradigma pertanian dan restorasi lanskap berbasis konektivitas ekologis regeneratif. Mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi dan mempraktikkan pertanian yang ramah lingkungan seperti pertanian organik dan teknik pengendalian hama terpadu.

Selain itu, untuk mencegah perubahan iklim maka kita perlu mengurangi gas rumah kaca yang akan membantu menjaga kestabilan ekosistem. Di tingkat individu, keluarga dan komunitas, kita dapat melakukan hal konkret untuk menjaga serangga tetap ada.

Seperti membuat taman yang ramah serangga dengan menanam bunga dan tanaman yang menyediakan makanan serta tempat berlindung bagi serangga penyerbuk. Mengurangi penggunaan pestisida di pekarangan dan memilih produk rumah tangga yang ramah lingkungan. Selain itu edukasi dan kesadaran masyarakat juga penting untuk ditingkatkan melalui kampanye dan pendidikan tentang arti penting serangga dalam kehidupan manusia.

Para ilmuwan dan akademisi juga perlu didukung untuk melakukan kegiatan pemantauan jangka panjang terhadap populasi serangga secara nasional. Dengan upaya kolektif ini, kita berharap dapat mencegah kiamat kecil (sugro + bahasa Arab) dan kiamat besar (kiamat kubro) serangga, memastikan bahwa ekosistem dan kehidupan manusia tetap terjaga.

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```