Degradasi Lahan, Membunuh Serangga dan Menggali Kubur Peradaban Manusia
ROSICHON UBAIDILLAH
Peneliti Ahli Utama (Prof Riset) Pusat Riset
Biosistematika dan Evolusi BRIN
Baca Juga
SETIAP tanggal 17 Juni, kita berkumpul
memperingati ”Hari Penanggulangan Degradasi Lahan Sedunia”, dengan pidato
formal, jargon-jargon: penanaman pohon, ketahanan pangan, konservasi, hingga
target swasembada artifisial. Benarkah ada kepalsuan kolektif, sehingga
degradasi lahan seolah hanya masalah estetika lanskap atau sebatas perubahan
hutan hijau menjadi gersang, atau penurunan angka produksi pertanian.
Kenyataannya jauh lebih mengerikan dari slogan formal. Di
lapisan tanah yang mengeras, polusi udara dan air tersembunyi fakta kiamat
senyap (silent apocalypse). Degradasi lahan merupakan pemicu utama runtuhnya
seluruh sistem penyangga peradaban bumi.
Kita sering melupakan fakta ilmiah mendasar bahwa tanah
bukanlah komoditas mati yang dapat dieksploitasi semaunya. Tanah sebagai ruang
ekologis yang dinamis tempat miliaran jaringan kehidupan saling bertautan.
Deforestasi masif, dan intensifikasi pertanian monokultur
dan aplikasi pestisida kimia, terbukti sedang merobek jaring-jaring kehidupan
tersebut. Korban pertama dan yang paling fatal dari kehancuran ini adalah
serangga. Kehancuran sedang berlangsung menuju kiamat serangga (insects
apocalypse) atau musnahnya miliaran individu dan jutaan spesies serangga yang
menjadi pilar penopang kehidupan bumi.
Kiamat senyap ini bergerak mutlak saat rumah bagi serangga
ini dihancurkan, dengan efek domino akan
menjadikan peradaban manusia sebagai puncak rantai makanan, hanya sedang
menghitung hari menggali kubur menuju kepunahannya sendiri.
Serangga sering kali dipandang negatif oleh banyak orang.
Karena dianggap “menakutkan”, “menyebar penyakit” (seperti malaria dan demam berdarah), atau
sebagai “hama pertanian yang merusak”. Faktanya, dari 1,5 juta spesies serangga
yang dikenal dan sekitar 4,5 juta spesies yang belum diketahui di Bumi, hanya
1% yang merugikan dan menakutkan. Sementara 99% bermanfaat bagi kehidupan
manusia dan kelangsungan ekosistem alam.
Sebagai kelompok organisme terbanyak (80%) dan paling
beragam, serangga berperan penting dalam berbagai fungsi ekosistem, seperti
penyerbukan dari sekitar 350 ribu tumbuhan berbunga, pengurai bahan organik,
terlibat dalam siklus unsur hara dan sumber pakan bagi hewan lain.
Serangga juga digunakan untuk pemberantasan hama pertanian
dan menghasilkan bahan industri seperti madu, sutra dan lak. Fungsi-fungsi ini
menjadikan serangga sebagai tulang punggung ekosistem alam yang menopang
kesejahteraan manusia. Dengan penurunan populasi serangga yang terjadi secara
drastis dalam dasawarsa terakhir, kita harus menyadari betapa kritisnya peran
mereka dan kelangsungan hidup manusia bisa terancam tanpa kehadiran serangga.
Peran Penting Serangga Dalam Ekosistem
Badan Pangan Dunia (FAO) memperkirakan bahwa sekitar 75%
tanaman pangan bergantung pada binatang penyerbuk untukproduksi pangan dan
menghasilkan nutrisi yang dibutuhkan manusia. Tanpa serangga, penyerbukan
tanaman berbunga tidak akan terjadi, sehingga tidak ada produksi pangan seperti
buah-buahan, biji-bijian dan sayuran. Produk serangga, seperti madu dan royal
jelly, yang merupakan makanan penting secara global, juga akan hilang.
Serangga juga menjadi sumber pakan binatang lain. Tanpa
serangga, banyak spesies burung, amfibi, reptil dan mamalia kecil akan
kehilangan sumber pakan utama mereka. Selain itu, banyak produk rumah tangga
dan kosmetika, seperti lilin, losion, kosmetik, pewarna, poles, pernis, dan
tinta yang berasal dari serangga akan hilang. Pakaian sutra, pewarna, lak,
tekstil anti air dan kosmetika juga tidak akan ada lagi.
Serangga telah menjadi makanan di berbagai budaya selama
ribuan tahun, karena kaya akan protein, lemak baik, dan vitamin esensial. Tren
modern juga mengembangkan pengolahan serangga sebagai sumber protein bagi
manusia (entomofagi). Selain itu, serangga digunakan dalam pengobatan
tradisional serta penelitian ilmiah dan medis.
Lalat buah, misalnya, telah menjadi organisme model populer
dalam penelitian genetika, dan serangga lain digunakan dalam pengujian medis
(yellow biotechnology). Pemahaman kita tentang ilmu genetika, kedokteran, dan
obat-obatan berasal dari penelitian serangga. Tanpa hasil penelitian medik
serangga, kesehatan manusia akan terdampak sangat buruk.
Dunia tanpa serangga berarti kurangnya ketersediaan makanan,
produk, dan penemuan ilmiah serta medis. Hilangnya makanan dan produk dari
serangga akan berdampak buruk pada populasi manusia di mana pun. Banyak aspek
kehidupan manusia akan terhenti jika serangga menghilang dari planet ini.
Ancaman Kepunahan Serangga dan Dampaknya
Penurunan jumlah serangga secara global selama beberapa
dekade terakhir sangat mengkhawatirkan. Rangkuman survei populasi dan
keanekaragaman serangga secara global menyimpulkan bahwa lebih dari 40% spesies
serangga berada di bawah ancaman kepunahan dalam beberapa tahun mendatang.
Laporan Hallmann dkk. pada tahun 2017 menemukan penurunan
tajam biomassa serangga terbang di Jerman sekitar 75% selama 27 tahun terakhir.
Survei tahunan United States Geological Survei (2023) sejak 2006 hingga 2022
menunjukkan bahwa populasi kupu-kupu Danaus (Danaus plexippus) di Amerika Utara
populasinya turun hingga 52%.
Populasi lebah penyerbuk bunga stroberi (Bombus
occidentalis) juga menurun sebesar 93% selama 21 tahun terakhir di Amerika
bagian barat. Penurunan spesies dan populasi sebagian besar disebabkan oleh
hilangnya habitat, perubahan iklim, polusi, peningkatan penggunaan pestisida
dan pupuk kimia.
Kecenderungan penurunan jumlah serangga secara ini
mengkhawatirkan, dan dalam lima tahun terakhir beberapa media terkenal dunia
telah mengulas tentang “kiamat serangga”. Seperti tulisan Carrington pada tahun
2017, "Warning of 'ecological Armageddon' after dramatic plunge in insect
numbers" di majalah The Guardian. Disusul tulisan Jarvis Brooke (2018) di
The New York Times menegaskan “Kiamat
Serangga Telah Tiba”.
Isu tersebut diangkat kembali oleh The Guardian pada tahun
2019, yang ditulis oleh Damian Carrington ”Plummeting insect numbers 'threaten
collapse of nature'. Akhirnya The Guardian (2021) menulis bahwa “Serangga bisa
punah dalam waktu satu abad jika tren penurunannya seperti saat ini” dan “Dunia
kita akan terhenti tanpa serangga”. Artikel-artikel tersebut, semakin
memperkuat pesan serius dari media dengan ilustrasi yang mengkhawatirkan
tentang ekosistem bumi tanpa serangga.
Rachel Carson pada tahun 1963 dalam buku fenomenalnya
“Silent Spring” telah memperingatkan kita bahwa kepunahan serangga akan
berakibat matinya ekosistem bumi. Peringatan tersebut mulai terbukti dan puncak
diskusi masalah “kiamat serangga” mulai banyak didiskusikan mulai tahun 2017
hingga saat ini. Tanpa serangga manusia tidak akan bisa bertahan hidup
ditegaskan kembali oleh Dave Goulson, dalam
bukunya “Silent Earth“ yang terbit tahun 2021.
Aksi Untuk Melindungi Serangga
Kiamat serangga mungkin tidak terjadi dalam waktu dekat.. Namun, hilangnya beberapa
spesies serangga mungkin saja membawa dampak yang berjenjang yang dapat
mempercepat kepunahan spesies lain dalam jejaring alam. Untuk mencegah hal ini,
kita perlu mengatasi faktor-faktor yang mendorong penurunan populasi serangga.
Langkah pertama adalah memulihkan habitat alami serangga,
rekonstruksi paradigma pertanian dan
restorasi lanskap berbasis konektivitas ekologis regeneratif. Mengurangi
penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi dan mempraktikkan pertanian yang ramah
lingkungan seperti pertanian organik dan teknik pengendalian hama terpadu.
Selain itu, untuk mencegah perubahan iklim maka kita perlu
mengurangi gas rumah kaca yang akan membantu menjaga kestabilan ekosistem. Di
tingkat individu, keluarga dan komunitas, kita dapat melakukan hal konkret
untuk menjaga serangga tetap ada.
Seperti membuat taman yang ramah serangga dengan menanam
bunga dan tanaman yang menyediakan makanan serta tempat berlindung bagi
serangga penyerbuk. Mengurangi penggunaan pestisida di pekarangan dan memilih
produk rumah tangga yang ramah lingkungan. Selain itu edukasi dan kesadaran
masyarakat juga penting untuk ditingkatkan melalui kampanye dan pendidikan
tentang arti penting serangga dalam kehidupan manusia.
Para ilmuwan dan akademisi juga perlu didukung untuk
melakukan kegiatan pemantauan jangka panjang terhadap populasi serangga secara
nasional. Dengan upaya kolektif ini, kita berharap dapat mencegah kiamat kecil
(sugro + bahasa Arab) dan kiamat besar (kiamat kubro) serangga, memastikan
bahwa ekosistem dan kehidupan manusia tetap terjaga.
