Ekonom Indef Nilai Belum Terjadi Perubahan Signifikan di Struktural Ekonomi
JAKARTA- Para ekonom yang tergabung dalam lembaga pemikiran Indef menilai belum terjadi perubahan struktural ekonomi yang signifikan selama 1 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Stabilitas yang tercapai dinilai sebagai
kelanjutan dari kebijakan sebelumnya, bukan hasil dari reformasi baru yang
mampu mendorong akselerasi pertumbuhan.
Ekonom
Senior Indef, M Fadhil Hasan menjelaskan pandangan tersebut hasil kajian
lembaganya terhadap capaian
ekonomi pemerintah, bukan bantahan atas hasil survei lain.
“Secara
umum, indikator makroekonomi menunjukkan stabilitas dengan pertumbuhan ekonomi
sekitar lima persen, inflasi di bawah tiga persen, dan penurunan tingkat
pengangguran terbuka,” papar dia
dalam keterangan resmi dikutip Jumat(24/10/2025).
Baca Juga
Namun pada saat yang sama dia mendapati adanya
kesenjangan persepsi antara klaim pemerintah dan pandangan publik pada Program Makan Bergizi
Gratis (MBG). Pemerintah
menganggap program ini berhasil menjangkau banyak penerima manfaat, sementara
publik menyoroti efektivitas dan pemerataannya.
“Kebijakan
fiskal ekspansif dinilai mampu menjaga daya beli, tapi belum cukup efektif mendorong produktivitas
dan investasi jangka panjang,” tutur
Fadhil.
Contoh lainya, investasi
dalam negeri meningkat, tetapi arus investasi asing langsung justru melambat,
menandakan iklim investasi yang belum sepenuhnya kondusif. Struktur ekspor pun
masih bergantung pada komoditas primer seperti CPO, batu bara, dan nikel,
sementara sektor hilirisasi belum menunjukkan kemajuan berarti.
“Melalui pendekatan big data terhadap
delapan program prioritas (Asta Cita), Indef menemukan bahwa hilirisasi menjadi sektor
dengan sentimen negatif tertinggi kedua setelah MBG,” ungkap dia,
Fadhil melanjutkan, ketidaksesuaian
persepsi publik ini juga terlihat pada Kementerian ESDM yang mendapat sentimen
negatif meski memiliki sejumlah capaian penting.
“hal
ini mencerminkan lemahnya strategi komunikasi publik pemerintah dalam mengelola
persepsi dan eksposur hasil kerja,”
tutur dia.
Ia menekankan bahwa evaluasi kinerja satu
tahun pertama seharusnya mempertimbangkan konteks waktu yang singkat serta
perlunya penilaian yang lebih seimbang antara hasil faktual dan persepsi
publik.
Senada, Direktur Pengembangan Big Data Indef, Eko
Listiyanto menerangkan bahwa program
Makan Bergizi Gratis (MBG) yang banyak mendapat sentiment negatif dari penggiat
sosial media.
“
Program ini memerlukan
pembenahan menyeluruh, terutama terkait banyaknya kasus keracunan makanan dan
besarnya alokasi anggaran. Strateginya perlu standardisasi dan sertifikasi
ketat, rasionalisasi target, realokasi anggaran jika pelaksanaan tidak sesuai
target, serta transparansi untuk mitigasi risiko korupsi,” urai Eko.
Terkait untuk isu Danantara (SWF Indonesia), dia menangkap
2 aspek yang perlu
diperhatikan. Pertama,
dampak makroekonomi pada pasar keuangan domestik. Kedua, aspek kelembagaan (governance,
transparansi).
“Danantara mengadaptasi praktik tata kelola SWF global 'Santiago Principles'.”Pungkas dia.(Abdul Aziz)