Penenun Kebangsaan
Catatan Batin Afandi Somar tentang Sufmi Dasco Ahmad
"Sebuah bangsa tidak runtuh karena terlalu banyak perbedaan. Sebuah bangsa runtuh ketika tidak ada lagi yang bersedia menenun perbedaan itu menjadi persatuan."
Baca Juga
Ada masa ketika bangsa ini dibangun oleh para pemimpi. Mereka membayangkan sebuah negeri yang melampaui suku, agama, bahasa, dan pulau. Mereka menanam gagasan tentang Indonesia jauh sebelum republik ini benar-benar berdiri. Namun setelah mimpi itu menjadi kenyataan, pekerjaan yang lebih sulit justru dimulai. Bagaimana menjaga Indonesia tetap utuh? Bagaimana memastikan ribuan pulau tetap merasa berada dalam satu rumah yang sama?
Bagaimana merawat persatuan ketika kepentingan, ambisi, dan perbedaan terus bertumbuh bersama perjalanan zaman? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sesungguhnya terus mengiringi republik ini sejak hari pertama kemerdekaannya. Indonesia tidak pernah kekurangan orang hebat. Indonesia tidak pernah kekurangan orang pintar.
Indonesia juga tidak pernah kekurangan mereka yang mampu berbicara lantang tentang bangsa. Yang sering kali langka justru mereka yang bersedia melakukan pekerjaan sunyi: mempertemukan yang berjauhan, menjahit yang mulai robek, dan menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan. Mereka adalah para penenun kebangsaan.
Para Penenun dalam Sejarah
Sejarah selalu murah hati kepada para orator. Nama-nama besar lahir dari pidato yang menggetarkan massa, dari keberanian yang mengundang tepuk tangan, atau dari keputusan-keputusan yang mengubah arah perjalanan bangsa. Namun sejarah tidak selalu mencatat mereka yang bekerja dalam ruang-ruang sunyi. Mereka yang menjaga komunikasi ketika hubungan mulai renggang. Mereka yang mempertemukan ketika kepentingan saling berseberangan. Mereka yang memastikan jembatan kebangsaan tidak runtuh.
Mereka adalah para penenun
Pekerjaan menenun bukan pekerjaan yang gaduh. Ia tidak menarik perhatian orang dengan gerakan besar. Ia bekerja dengan ketekunan, menyatukan benang yang tercerai, menghubungkan helai yang berbeda warna, memastikan tidak ada simpul yang lepas. Sebab satu simpul yang terurai dapat merusak seluruh tenunan. Bangsa ini, saya kira, juga lahir dari pekerjaan menenun. Indonesia tidak dibangun dari keseragaman. Indonesia dibangun dari kemampuan merajut perbedaan menjadi kekuatan bersama. Para pendiri bangsa memahami bahwa republik ini tidak mungkin bertahan hanya dengan semangat perjuangan. Ia membutuhkan kesediaan untuk terus-menerus mempertemukan berbagai perbedaan yang hidup di dalamnya. Indonesia bukan monumen yang selesai dibangun pada 17 Agustus 1945. Indonesia adalah pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia harus terus dirawat, dijaga, dan ditenun dari generasi ke generasi.
Membaca Dasco dari Ruang yang Tak Terlihat
Ketika saya mengamati perjalanan politik Sufmi Dasco Ahmad, yang muncul dalam benak saya bukanlah sosok seorang pejabat negara atau seorang politikus dalam pengertian yang lazim dipahami publik. Saya justru melihat seorang penenun. Seseorang yang bekerja pada ruang-ruang yang sering kali tidak terlihat oleh mata publik: ruang komunikasi, ruang konsolidasi, ruang kompromi, dan ruang perjumpaan berbagai kepentingan yang kerap saling bertabrakan.
Dalam dunia politik yang semakin menyerupai panggung besar, pekerjaan seperti itu sering luput dari perhatian. Kita hidup dalam zaman yang memberi penghargaan berlebih kepada suara yang paling keras. Popularitas sering kali dianggap lebih penting daripada substansi. Sorotan kamera kadang lebih menentukan daripada kualitas gagasan. Padahal bangsa tidak dibangun oleh sorotan.
Bangsa dibangun oleh kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari kegaduhan. Ia tumbuh perlahan, seperti akar yang menembus tanah dalam diam. Di titik itulah saya melihat relevansi peran Dasco dalam lanskap politik Indonesia hari ini. Ia hadir bukan sebagai figur yang selalu berada di depan panggung. Ia lebih sering bekerja sebagai penghubung. Sebagai perawat komunikasi. Sebagai penjaga ruang dialog ketika perbedaan berpotensi berubah menjadi jurang pemisah.
Sebagai Wakil Ketua DPR RI, ruang kerja yang dihadapi Dasco sesungguhnya adalah ruang yang tidak sederhana. DPR merupakan titik temu berbagai kepentingan politik, aspirasi daerah, tuntutan masyarakat, dan agenda kebangsaan yang sering kali tidak selalu berjalan searah. Di ruang itulah kemampuan merajut menjadi penting. Pada banyak momentum nasional, peran itu tampak dalam upayanya menjaga komunikasi antar-kekuatan politik, membangun jembatan dialog di tengah perbedaan pandangan, serta memastikan bahwa perdebatan politik tidak kehilangan orientasi pada kepentingan bangsa dan negara.
Dalam konteks itu, fungsi seorang pimpinan parlemen bukan sekadar memimpin rapat atau mengawal proses legislasi. Ia juga dituntut menjadi perawat persatuan nasional. Menjaga agar perbedaan tetap menjadi energi demokrasi, bukan berubah menjadi sumber perpecahan. Barangkali di sinilah letak relevansi peran Dasco hari ini. Di tengah menguatnya kecenderungan politik yang sering memecah perhatian publik ke dalam berbagai kubu, ia berada pada posisi yang menuntut kemampuan mempertemukan. Menjaga percakapan tetap berlangsung. Merawat kepercayaan di antara berbagai pihak. Dan memastikan bahwa di atas segala perbedaan yang ada, kepentingan bangsa tetap menjadi tujuan bersama. "Dalam politik, membangun jembatan sering kali lebih sulit daripada membangun panggung."
Politik dan Kesabaran
Tentu, tidak ada tokoh publik yang berada di luar kritik. Demokrasi justru membutuhkan kritik agar tidak berubah menjadi pemujaan. Tetapi kritik yang sehat juga menuntut kejujuran untuk melihat fungsi yang dimainkan seseorang dalam kehidupan kebangsaan. Dan salah satu fungsi penting yang saya lihat pada Dasco adalah kemampuannya membaca politik bukan sekadar sebagai arena kompetisi, melainkan sebagai ruang menjaga kemungkinan hidup bersama.
Sebagai anak Timur, saya memahami betul arti sebuah jembatan. Di wilayah kepulauan, jembatan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah penghubung kehidupan. Ia memungkinkan orang bertemu, berdagang, belajar, dan membangun masa depan bersama. Tanpa jembatan, yang tersisa hanyalah keterpisahan. Bangsa ini pun demikian.
Indonesia membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok. Lebih banyak perajut daripada pemecah. Lebih banyak penjaga percakapan daripada pengobar pertengkaran. Sebab ancaman terbesar bagi Indonesia bukanlah keberagaman. Keberagaman justru merupakan kekayaan yang sejak awal melahirkan republik ini. Ancaman terbesar adalah ketika kita kehilangan kemampuan untuk mengelola keberagaman itu menjadi energi bersama. Dalam pengalaman sejarah bangsa-bangsa, perpecahan jarang lahir karena terlalu banyak perbedaan. Perpecahan lahir ketika tidak ada lagi ruang yang cukup untuk mempertemukan perbedaan tersebut. Ketika dialog berhenti, kecurigaan tumbuh. Ketika kecurigaan tumbuh, persatuan mulai rapuh. Karena itu, pekerjaan menjaga ruang dialog sesungguhnya adalah pekerjaan menjaga masa depan bangsa.
Menenun Harapan di Tengah Zaman
Dalam beberapa tahun terakhir, tantangan yang dihadapi bangsa ini semakin rumit. Polarisasi politik. Ketidakpastian ekonomi global. Perubahan geopolitik. Ledakan informasi digital. Semuanya menghadirkan tekanan yang tidak kecil terhadap kohesi sosial bangsa. Pada situasi seperti itu, politik membutuhkan lebih dari sekadar keberanian mengambil sikap. Politik membutuhkan kebijaksanaan untuk menjaga keseimbangan. Membutuhkan kesediaan mendengar sebelum berbicara. Membutuhkan kemampuan merangkul sebelum memutuskan. Dan di sinilah pekerjaan para penenun menjadi penting.
Mereka mungkin tidak selalu tampak. Mereka mungkin tidak selalu menjadi berita utama. Tetapi sejarah sering kali bergerak karena kerja orang-orang yang tidak sibuk menuliskan namanya sendiri di atas panggung. Mereka bekerja dalam ketekunan yang nyaris tak terlihat. Seperti akar yang menopang pohon tanpa pernah meminta pujian. Seperti benang yang menyatukan tenunan tanpa pernah menuntut perhatian. Barangkali karena itulah pekerjaan merajut kebersamaan selalu menjadi pekerjaan yang sunyi, tetapi menentukan. "Bangsa dibangun oleh kepercayaan. Dan kepercayaan tumbuh perlahan, seperti akar yang menembus tanah dalam diam."
Penutup
Pada akhirnya, republik ini tidak hanya berdiri di atas konstitusi, lembaga negara, atau kekuatan ekonomi. Republik ini berdiri di atas kepercayaan bahwa perbedaan masih dapat dipertemukan dalam satu cita-cita bersama. Kepercayaan itulah yang harus terus dirawat.
Kepercayaan itulah yang harus terus ditenun. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua DPR RI, peran itu memperoleh makna yang lebih luas. Bukan semata menjalankan fungsi kelembagaan parlemen, tetapi juga ikut menjaga tenunan kebangsaan agar tidak mudah koyak oleh perbedaan kepentingan, tarik-menarik politik, maupun perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.
Sebab bangsa sebesar Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar institusi yang bekerja. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia merawat persatuan di dalamnya. Dan dalam tenunan besar bernama Indonesia itu, saya melihat Sufmi Dasco Ahmad menjalankan salah satu peran yang paling tua sekaligus paling penting dalam sejarah bangsa-bangsa: menjadi perajut kebersamaan di tengah zaman yang semakin gemar mempertajam perbedaan.
Bukan karena ia selalu berada di garis depan sorotan. Bukan pula karena ia terbebas dari kritik. Melainkan karena di tengah kebisingan politik yang kerap memecah perhatian bangsa, ia memilih menjalankan peran yang lebih sulit: menjaga agar berbagai kepentingan tetap menemukan titik temu dalam rumah besar bernama Indonesia.
Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak runtuh karena terlalu banyak perbedaan. Sebuah bangsa runtuh ketika tidak ada lagi yang bersedia menenun perbedaan itu menjadi persatuan.
Afandi Somar
Jakarta, 2026
