Kejar Swasembada Gula Dua Tahun, Mentan Pacu Produksi Nasional Tembus 3 Juta Ton
MEWUJUDKAN target swasembada gula
putih nasional dalam dua tahun sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto,
Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan berbagai langkah strategis, mulai
dari peremajaan tanaman tebu, peningkatan produktivitas, modernisasi budidaya,
hingga transformasi industri gula nasional dengan target produksi gula nasional
menembus 3 juta ton pada 2029.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Andi
Amran Sulaiman saat memimpin Rapat Percepatan Swasembada Gula bersama jajaran
manajemen PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di Surabaya, Selasa (22/7/2027).
Dalam rapat tersebut, Mentan Amran menegaskan seluruh
jajaran harus bergerak cepat menjalankan arahan Presiden agar swasembada gula
putih dapat diwujudkan paling lambat dalam dua tahun melalui percepatan
peremajaan kebun tebu, peningkatan produktivitas, dan transformasi industri
gula nasional.
Baca Juga
“Perintah Bapak Presiden jelas, swasembada gula putih paling
lambat dua tahun. Karena itu tanaman ratoon yang sudah berumur 7 tahun, 12
tahun bahkan 15 tahun akan kita bongkar dan diremajakan. Anggarannya sudah kami
siapkan,” kata Mentan Amran.
Menurut Mentan Amran, pembongkaran tanaman ratoon yang sudah
tidak produktif menjadi langkah strategis untuk mendongkrak hasil panen tebu
nasional. Kementerian Pertanian akan menanggung biaya peremajaan sehingga
petani tidak terbebani dalam mengganti tanaman yang telah melewati usia
produktif.
Ia menjelaskan, Kementan telah menyiapkan dukungan besar
bagi petani tebu. Selain program bongkar ratoon, sektor perkebunan memperoleh
alokasi anggaran sekitar Rp9 triliun untuk penyediaan bibit unggul gratis,
pengolahan lahan, hingga berbagai program peningkatan produktivitas.
“Mudah-mudahan tahun
depan kita juga bisa menambah bantuan alat dan mesin pertanian, termasuk
traktor untuk petani plasma agar produktivitas semakin meningkat,” ujarnya.
Untuk mencapai target tersebut, Kementan bersama SGN
menyiapkan sejumlah program percepatan, antara lain pembongkaran ratoon pada
sekitar 298 ribu hektare lahan tebu, pembangunan sistem irigasi pompa,
modernisasi alat dan mesin pertanian, penyediaan pupuk, revitalisasi pabrik
gula melalui elektrifikasi, penataan varietas dan pola tanam, serta penerapan
teknologi peningkat rendemen.
Selain peningkatan produksi di tingkat kebun, tata kelola
industri gula juga akan diperkuat dari hulu hingga hilir. Di antaranya melalui
penguatan regulasi kemitraan antara petani dan pabrik gula, implementasi
Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) Gula, serta optimalisasi pemanfaatan tetes
tebu sebagai bahan baku bioetanol untuk mendukung program transisi energi
nasional.
Mentan Amran mengatakan Indonesia masih memiliki potensi
pengembangan lahan tebu yang sangat besar di berbagai wilayah, mulai dari
Sumatera, Jawa, Sulawesi hingga Maluku. Potensi tersebut akan dioptimalkan
untuk memperluas areal tanam sekaligus meningkatkan kapasitas produksi gula
nasional.
Ia juga mengapresiasi transformasi yang dilakukan PT Sinergi
Gula Nusantara (SGN) sehingga mampu membalikkan kinerja perusahaan secara
signifikan. “Tahun lalu masih mengalami kerugian sekitar Rp600 miliar, tahun
ini insya Allah sudah berbalik menjadi untung sekitar Rp600 miliar. Ini
lompatan yang sangat baik, tetapi saya minta tahun depan harus lebih tinggi
lagi. Targetnya minimal mencapai keuntungan Rp750 miliar,” ujarnya.
Mentan Amran turut menegaskan komitmen Kementerian Pertanian
dalam melindungi kepentingan petani. Ia memastikan setiap laporan mengenai
penyimpangan dalam pelaksanaan program pemerintah akan ditindaklanjuti secara
tegas.
“Kalau ada yang mempermainkan hak dan kepentingan petani,
tentu akan kami tindak. Program pemerintah harus benar-benar dirasakan
manfaatnya oleh petani. Kalau mempermainkan nasib petani, akan berhadapan
langsung dengan Menteri Pertanian,”
tegasnya.
Melalui percepatan peremajaan tebu rakyat, modernisasi
budidaya, revitalisasi industri gula, penguatan kemitraan dengan petani, serta
perluasan areal tanam, pemerintah optimistis target swasembada gula putih dalam
dua tahun dapat diwujudkan.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan
pangan nasional, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani tebu sekaligus
mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gula.
